Lampu sorot belum sepenuhnya menyala ketika Jefri Nichol melangkah masuk ke ruangan. Pria berusia 26 tahun itu tampak sederhana, mengenakan kemeja hitam tanpa banyak aksesori, seperti seseorang yang datang ke rumah teman lama, bukan ke sebuah panggung perayaan. Namun begitu namanya disebut, riuh tepuk tangan memecah suasana. Di hadapannya, sebuah panggung kecil dengan dekorasi bernuansa emas menjadi saksi perjalanan panjang yang telah ia lalui bersama POP, sebuah komunitas kreatif yang tahun ini genap satu dekade.
"Aku ingat banget waktu pertama kali ikut proyek di sini. Masih culun, belum tahu apa-apa soal industri kreatif," ujarnya sambil tersenyum tipis, matanya menatap ke arah kerumunan yang sebagian besar diisi wajah-wajah muda. "Tapi justru di tempat ini aku belajar bahwa mimpi itu harus dirawat, bukan cuma diucapkan."
Berawal dari Ruang Kecil Penuh Mimpi
Perayaan satu dekade POP berlangsung hangat di sebuah studio di kawasan Jakarta Selatan. Dinding-dindingnya masih dipenuhi lukisan hasil kolaborasi para anggota komunitas, beberapa di antaranya sudah menguning dimakan waktu. Di sudut ruangan, terpajang foto-foto dokumentasi dari tahun pertama berdiri, termasuk potret Jefri Nichol saat masih berusia belasan tahun dengan gaya rambut yang jauh berbeda dari sekarang.
"Lihat tuh foto itu," katanya sambil menunjuk ke arah dinding, disambut tawa hadirin. "Itu foto sebelum semuanya berubah. Sebelum aku tahu apa artinya kerja keras, sebelum aku paham bahwa setiap peran yang aku ambil itu ada tanggung jawabnya."
Perjalanan POP sendiri bukan kisah yang instan. Berawal dari sekelompok anak muda yang gemar berkumpul, berdiskusi soal film, musik, dan seni, komunitas ini tumbuh perlahan. Mereka mengisahkan bagaimana awal mula kegiatan mereka hanya diisi proyek-proyek kecil, sering kali tanpa bayaran, hanya modal semangat dan niat belajar. Kini POP telah menjadi wadah bagi puluhan kreator muda untuk berkarya, dari penulis naskah, sineas, hingga ilustrator.
"Kalau bukan karena komunitas ini, mungkin aku tidak akan seberani sekarang," ujar Jefri Nichol. "Di sini aku belajar jatuh, bangkit, dan tetap melangkah."
Momen Mengharukan di Tengah Perayaan
Puncak acara berlangsung saat sesi berbagi cerita. Jefri Nichol diminta membacakan surat yang ia tulis untuk dirinya sendiri sepuluh tahun lalu. Suasana mendadak sunyi. Hanya suara lantunan musik akustik yang mengiringi. Dengan suara pelan, ia membaca kalimat demi kalimat, mengisahkan keraguan, ketakutan, dan air mata yang pernah ia sembunyikan di balik senyumnya saat harus menghadapi penolakan demi penolakan di awal karier.
"Aku pernah merasa tidak cukup baik. Aku pernah merasa tidak layak berada di ruangan ini. Tapi hari ini aku berdiri di sini, dan itu artinya mimpi kecilku dulu tidak salah."
Beberapa hadirin tampak menyeka mata. Bukan hanya karena cerita Jefri, tetapi karena setiap orang di ruangan itu seolah menemukan cerminan perjuangan mereka sendiri. Ada yang mengingat masa-masa mengirim puluhan proposal tanpa balasan, ada pula yang teringat malam-malam panjang mengerjakan proyek tanpa upah hanya demi satu baris pujian.
"Ini bukan cuma perayaan satu dekade POP," kata salah satu pendiri komunitas. "Ini perayaan bagi semua orang yang pernah merasa kecil, tapi memilih untuk terus tumbuh."
Perjalanan yang Masih Panjang
Di penghujung acara, Jefri Nichol menyempatkan diri berbincang dengan para anggota muda. Ia mendengarkan dengan saksama setiap cerita, sesekali mengangguk, sesekali tertawa lepas. Kepada mereka, ia berpesan agar tidak takut memulai dari hal sederhana, sebab dari situlah biasanya kisah besar dimulai.
"Jangan tunggu sempurna. Nggak ada yang namanya sempurna di dunia ini. Yang ada cuma berani coba atau diam saja," ujarnya. "Dan aku pilih berani."
Perayaan berakhir dengan foto bersama. Namun ada satu momen yang seolah menutup seluruh rangkaian acara dengan indah: saat Jefri berdiri di depan kamera, di lokasi yang sama dengan foto sepuluh tahun silam, kini dengan sorot mata yang jauh lebih tenang. Bagi banyak orang, momen itu bukan sekadar foto biasa. Ia adalah bukti bahwa perjalanan panjang, air mata, dan keberanian untuk bangkit selalu menemukan tempatnya sendiri di hati mereka yang mendengarkan.
Satu dekade POP mungkin baru sepotong kecil dari perjalanan hidup Jefri Nichol. Namun lewat perayaan sederhana itu, ia mengingatkan bahwa inspirasi tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang, ia hanya hadir di ruang kecil penuh mimpi, di antara orang-orang yang percaya bahwa karya dan keberanian tidak pernah sia-sia.
Comments (0)