Oct 14, 2026
entertainment

Langkah Ruben Onsu di Lorong Pengadilan

Lorong itu tak pernah jadi tempat favorit bagi siapa pun yang melangkah di sana. Lantai keramiknya memantulkan cahaya lampu neon yang dingin, sementara suara langkah kaki beradu dengan gemuruh notifik...

Langkah Ruben Onsu di Lorong Pengadilan

Lorong itu tak pernah jadi tempat favorit bagi siapa pun yang melangkah di sana. Lantai keramiknya memantulkan cahaya lampu neon yang dingin, sementara suara langkah kaki beradu dengan gemuruh notifikasi ponsel para awak media yang menunggu di depan pintu ruang sidang. Di antara kerumunan itu, Ruben Onsu melangkah dengan kemeja putih yang rapi, tatapan lurus ke depan, seolah tengah memanggul beban yang tak terlihat mata.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bukan panggung hiburan. Namun bagi pria yang lama dikenal lewat tawa dan celoteh di layar kaca, gedung itu siang itu berubah menjadi ruang perjuangan yang jauh dari sorotan lampu studio. Ia datang bukan untuk menghibur, melainkan untuk mencari kejelasan atas sesuatu yang selama ini menggelayuti hidupnya.

Di Balik Pintu yang Tertutup

Suasana di depan ruang sidang terasa berbeda dari biasanya. Para pewarta foto berdesakan mengambil sudut terbaik, sementara penggemar yang kebetulan lewat hanya bisa mengintip dari kejauhan. Di tengah keramaian itu, Ruben memilih untuk tidak banyak bicara. Sesekali ia tersenyum tipis, menyapa wartawan dengan anggukan singkat, lalu kembali menunduk.

“Saya hanya ingin menjalani proses ini dengan tenang,” ujarnya dengan suara pelan, hampir tenggelam oleh suara kamera yang berderak. Kalimat sederhana itu keluar bukan tanpa beban. Di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang tidak pernah ia bagikan sepenuhnya kepada publik.

Orang-orang yang mengenalnya dekat mengisahkan bahwa beberapa bulan terakhir menjadi masa yang menguras emosi. Ruben, yang biasa tampil ceria, harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tak semua persoalan bisa diselesaikan dengan senyum. Ada momen ketika ia memilih menyendiri, menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat, dan merenung dalam diam.

“Kadang orang melihat saya selalu kuat. Padahal saya juga manusia biasa yang bisa lelah dan ingin menangis,” tuturnya suatu ketika, seperti dikenang oleh orang-orang terdekatnya.

Ketika Tawa Berubah Jadi Keteguhan

Perjalanan Ruben menuju ruang sidang bukan sekadar urusan hukum. Bagi banyak orang, kehadirannya di sana menjadi semacam cermin tentang bagaimana seorang figur publik harus tetap berdiri tegak saat badai menerpa. Ia tidak datang dengan pengawalan berlebihan. Hanya beberapa orang terpercaya yang setia menemani, termasuk kerabat yang memilih tidak menyorotkan kamera ponsel mereka.

Di sudut ruang tunggu yang berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter, Ruben sempat duduk sendiri sebelum dipanggil masuk. Ia menatap lantai, menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponsel dan membaca sesuatu. Tidak ada yang tahu apa yang ia baca. Yang jelas, saat namanya dipanggil, ia bangkit dengan punggung tegap dan langkah mantap.

Momen itu menyentuh banyak orang yang menyaksikan. Bukan karena dramatis, tetapi karena sederhana. Seorang pria yang biasa membuat orang tertawa kini berjuang untuk sesuatu yang jauh lebih personal: harga diri dan ketenangan batin.

Rekan sesama artis yang enggan disebut namanya menuturkan, Ruben belakangan sering berbagi cerita tentang pentingnya keluarga dan kesehatan mental. “Dia bilang, yang paling berat bukan menghadapi orang lain, tapi menghadapi pikiran sendiri,” ucapnya.

Perjalanan yang Belum Usai

Setelah sidang selesai, Ruben kembali menuruni tangga gedung pengadilan. Wajahnya masih sama seperti saat datang, kalem namun menyimpan sesuatu yang dalam. Kepada awak media, ia hanya berpesan agar semua pihak menghormati proses yang sedang berjalan.

“Saya percaya semuanya akan menemukan titik terang,” katanya singkat, sebelum masuk ke mobil yang menunggunya.

Kisah Ruben di lorong pengadilan itu bukan akhir dari segalanya. Ia masih punya mimpi, pekerjaan, dan keluarga yang menanti di rumah. Namun satu hal yang ia buktikan siang itu: keberanian tidak selalu tampil dengan suara lantang. Kadang, keberanian cukup hadir lewat langkah pelan yang tetap maju, meski dunia sedang menatap tajam.

Bagi mereka yang mengikuti perjalanannya, kisah ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Ini tentang seorang manusia yang memilih bangkit, satu langkah demi satu langkah, di tengah riuh dunia yang tak pernah benar-benar memberinya ruang untuk bersandar.

Dan di beranda rumahnya nanti, ketika lampu-lampu studio tak lagi menyala terang, Ruben masih akan menjadi sosok yang sama: seorang pejuang yang sederhana, yang air matanya tak selalu terlihat, tetapi jejak langkahnya terasa bagi banyak orang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User