Di atas panggung kayu sederhana yang dibangun warga di atas air, seorang perempuan berbalut kaus putih berdiri di hadapan puluhan anak yang matanya berbinar. Andien, penyanyi yang sudah lebih dari dua dekade menghiasi panggung musik Indonesia, bukan sedang menyanyi kali ini. Ia memegang spidol besar dan menggambar sesuatu di papan tulis yang sedikit miring karena angin laut. Di depannya, anak-anak Kampung Apung—permukiman di tepi perairan yang selama ini luput dari perhatian—menyimak dengan khidmat, sesekali tertawa lepas.
Hari itu menjadi penanda penting dalam perjalanan Andien Foundation: titik kelima Sekolah Anak Percaya resmi berdiri. Bagi Andien, ini bukan sekadar seremoni pembukaan. Ada getaran perasaan yang berbeda, sesuatu yang membuatnya terdiam beberapa detik saat anak-anak itu bertepuk tangan. "Setiap titik itu unik, tapi kali ini rasanya seperti memulai lagi dari nol," ujarnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Dari Nada ke Masa Depan Anak-anak Pesisir
Perjalanan menuju titik kelima ini tak mulus. Butuh berbulan-bulan komunikasi dengan tokoh masyarakat, pendataan anak-anak yang putus sekolah, hingga menyusun kurikulum yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka. Di Kampung Apung, akses pendidikan menjadi persoalan kompleks. Jarak ke sekolah formal terjauh, ongkos transportasi yang tak terjangkau, serta keterbatasan sarana membuat banyak anak terpaksa membantu orang tua mencari nafkah di perairan.
"Air mata sering kali datang bukan karena sedih, tapi karena melihat anak-anak ini akhirnya punya tempat untuk bermimpi," kisah Andien sambil menunjuk ruang belajar yang berdinding papan dan beratap seng. Ruangan itu dibangun bergotong royong oleh warga. Di sudut ruangan berukuran 4x6 meter itu, tersusun rak-rak berisi buku, puzzle edukatif, serta alat gambar yang dikirim dari berbagai kota.
Bagi Yanti, seorang ibu rumah tangga yang anaknya kini rutin belajar di Sekolah Anak Percaya, kehadiran sekolah ini adalah jawaban dari doa panjang. "Dulu anak saya cuma bisa lihat perahu lewat. Sekarang dia bisa baca, bisa menulis, bahkan bercerita tentang cita-citanya jadi dokter," ujarnya dengan suara bergetar, air mata menetes pelan di pipinya.
Menghidupkan Mimpi di Tengah Keterbatasan
Konsep Sekolah Anak Percaya bukan sekadar tempat belajar baca-tulis. Andien Foundation merancangnya sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh percaya diri. Setiap pekan, relawan mengajar dengan pendekatan bermain, mendongeng, dan proyek seni. Anak-anak diajak mengenali emosi,berbicara di depan teman, dan menuliskan harapan mereka di kertas warna-warni yang kemudian ditempel di dinding.
"Yang kami bangun bukan sekadar bangunan fisik. Kami ingin menanam keyakinan pada anak-anak bahwa mereka berharga, bahwa masa depan mereka bisa diraih," tegas Andien. Ia mengaku belajar banyak dari setiap titik sekolah yang sudah berdiri. Kegagalan kecil, seperti kurangnya tenaga pengajar atau jadwal yang bentrok dengan aktivitas warga, menjadi pelajaran berharga.
"Saya pernah merasa tidak cukup, ingin menyerah karena terlalu banyak yang harus dibenahi. Tapi begitu melihat anak-anak itu datang dengan senyum, saya tahu saya tidak boleh berhenti."
Di Kampung Apung, semangat itu menular. Beberapa remaja setempat kini ikut menjadi relawan pengajar. Mereka membagi waktu antara membantu orang tua dan mengajar adik-adik. Salah satunya Raka, 17 tahun, yang dulu nyaris putus sekolah karena harus melaut. "Dulu saya pikir sekolah itu cuma untuk orang yang punya banyak uang. Sekarang saya tahu, selama ada yang peduli, kita semua bisa belajar," ucapnya mantap.
Langkah Kecil yang Menyentuh Banyak Hati
Peresmian titik kelima ini juga menjadi momen refleksi bagi Andien. Dari panggung musik ke panggung kehidupan, ia menyadari bahwa popularitas bukan tujuan akhir. "Suara saya mungkin bisa menghibur banyak orang, tapi mendirikan sekolah membuat saya merasa benar-benar hidup," ujarnya, mata berkaca-kaca.
Ke depan, Andien Foundation menargetkan hadir di lebih banyak wilayah terpencil. Namun ia tak ingin terburu-buru. "Kami ingin setiap sekolah benar-benar tumbuh, bukan sekadar dibangun lalu ditinggalkan," katanya. Prioritas saat ini adalah memastikan titik kelima berjalan berkelanjutan, dengan pelatihan rutin bagi relawan lokal dan pendampingan bagi orang tua.
Ketika sore mulai turun dan anak-anak pulang dengan buku di tangan, Andien berdiri di tepi dermaga kayu, memandang laut yang tenang. Di belakangnya, papan nama Sekolah Anak Percaya berwarna cerah terpasang miring—belum sempurna, tapi cukup untuk mengingatkan siapa pun yang lewat bahwa di tempat sederhana ini, mimpi-mimpi besar sedang dipeluk dengan penuh cinta. "Ini bukan akhir, ini awal," bisiknya, hampir tak terdengar, seolah hanya untuk dirinya sendiri.
Bagi warga Kampung Apung, kehadiran Andien dan Sekolah Anak Percaya bukan sekadar berita baik. Ini adalah bukti bahwa perhatian kecil dari seseorang bisa mengubah arah hidup banyak anak. Dan di atas air yang tenang, suara tawa mereka yang belajar adalah nyanyian paling indah yang pernah terdengar di kampung itu.
Comments (0)