Ruben Onsu: Lika-liku Fitnah Pesugihan Gunung Kawi
Di ruang keluarga yang biasanya dipenuhi celoteh ceria anak-anak, suasana sore itu berubah hening. Ruben Onsu duduk di tepi sofa, jemarinya sesekali menyentuh layar ponsel yang menyala-nyala oleh noti...
Di ruang keluarga yang biasanya dipenuhi celoteh ceria anak-anak, suasana sore itu berubah hening. Ruben Onsu duduk di tepi sofa, jemarinya sesekali menyentuh layar ponsel yang menyala-nyala oleh notifikasi. Matanya lelah, namun sorotnya menyimpan keteguhan. Di luar, rintik hujan seakan mengetuk kaca, mengiringi gejolak hati seorang suami dan ayah yang baru saja dihantam isu tak masuk akal: tuduhan sebagai artis pelaku pesugihan di Gunung Kawi. Bersama sang istri, Sarwendah, nama baik yang selama ini ia jaga dengan penuh perjuangan, mendadak seolah ternoda oleh narasi yang tak pernah ia bayangkan.
Rumor yang Datang Tanpa Diundang
Semua berawal dari bisik-bisik di media sosial, yang dengan cepat berubah menjadi gelombang spekulasi. Sejumlah akun anonim menyebarkan cerita bahwa ada pasangan artis kondang yang rela menempuh ritual pesugihan demi menjaga popularitas dan kekayaan. Nama Ruben dan Sarwendah terseret begitu saja, tanpa bukti, tanpa konfirmasi. “Saya terbangun pagi itu, lihat ponsel sudah penuh tag dan pesan yang intinya menuduh kami melakukan hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan dalam mimpi,” ujar Ruben, suaranya serak menahan haru. Bagi Ruben, fitnah ini bukan sekadar gosip hiburan, melainkan pukulan telak bagi keluarganya yang selama ini menjunjung tinggi nilai moral.
Menolak Stigma, Mempertahankan Kebenaran
Ruben mengisahkan bagaimana ia harus menenangkan Sarwendah yang syok dan terluka. Dua anak mereka yang masih kecil tentu belum mengerti, namun sebagai orang tua, Ruben merasa perlu melindungi mereka dari racun prasangka. “Saya dan Wendah tidak pernah, dan tidak akan pernah, bahkan sekadar untuk berpikir soal pesugihan. Hidup kami sederhana, penuh syukur. Tuduhan ini sangat menyakitkan,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menjelaskan bahwa perjalanan spiritual mereka selama ini selalu berlandaskan iman dan doa, bukan ritual-ritual gelap yang diembuskan pihak tak bertanggung jawab.
Makna Spiritual yang Disalahartikan
Salah satu isu yang paling sering dikaitkan dengan Gunung Kawi adalah praktik pesugihan, padahal tempat itu juga dikenal sebagai situs sejarah dan religi yang sering dikunjungi banyak orang untuk berdoa atau wisata budaya. Ruben sendiri mengaku pernah beberapa kali mengunjungi tempat-tempat spiritual bersama keluarga, termasuk gunung-gunung suci di Jawa. Namun, kunjungan itu murni dalam rangka mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan mencari ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk dunia hiburan. “Kalau berdoa di tempat yang tenang dianggap pesugihan, maka banyak orang baik yang juga akan tersudut. Saya hanya ingin ketenangan, bukan kekayaan instan,” jelasnya. Di balik layar kehidupannya yang gemerlap, Ruben menyimpan kisah perjuangan panjang dari nol hingga menjadi presenter dan pengusaha sukses. Ia menegaskan bahwa pencapaiannya adalah buah dari kerja keras, bukan hasil tumbal atau ritual mistik.
Perjuangan di Tengah Prahara
Dalam perjalanan kariernya yang hampir dua dekade, Ruben telah melewati banyak badai. Dari perundungan soal fisik hingga persaingan bisnis yang tak sehat, ia selalu bangkit. Namun, serangan terhadap integritas spiritualnya kali ini terasa berbeda. “Ini tentang harga diri dan nama baik keluarga. Saya tidak akan diam,” katanya lirih. Didampingi kuasa hukumnya, Ruben mulai mengumpulkan bukti-bukti pencemaran nama baik yang beredar di dunia maya. Baginya, langkah hukum bukanlah bentuk arogansi, melainkan upaya terakhir untuk menjaga martabat setelah semua klarifikasi tak lagi digubris.
Pesan untuk Mereka yang Mudah Menghakimi
Di tengah keterpurukannya, Ruben justru menitipkan satu pesan menyentuh tentang kekuatan keluarga dan pentingnya berempati. “Saya dan Wendah hanyalah manusia biasa yang berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Jika ada yang tidak suka, cukup jangan ikuti kami. Tapi jangan sebarkan kebohongan yang bisa menghancurkan masa depan anak-anak kami,” pintanya. Momen mengharukan ini seakan menjadi pengingat bahwa di balik layar panggung hiburan, ada hati rapuh yang mudah terluka oleh tajamnya asumsi. Ruben berharap agar masyarakat lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi, serta berhenti menyebarkan stigma negatif terhadap situs-situs spiritual yang justru menyimpan nilai sejarah dan budaya luhur.
Akhirnya, di dalam ruang yang masih diselimuti mendung sore, Ruben menggenggam tangan Sarwendah. Ada kehangatan sederhana yang mengalir di antara mereka, sebuah keyakinan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Kisah ini bukan tentang pesugihan, melainkan tentang cinta, perjuangan, dan kebangkitan melawan fitnah yang hendak merenggut segalanya.
Baca juga:
Comments (0)