Di lorong panjang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, langkah kaki Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menjadi sorotan. Bukan karena kamera televisi yang setia menunggu, melainkan karena dua agenda persidangan yang harus mereka hadapi dalam satu pekan yang sama. Di sudut ruang tunggu yang dingin itu, keduanya duduk terpisah, ditemani tim kuasa hukum masing-masing, sambil sesekali menunduk membaca berkas yang tersusun rapi di atas meja.
Pekan ini menjadi salah satu periode terpadat dalam perjalanan hukum mereka. Dua sidang dengan agenda berbeda harus dilalui dalam rentang waktu yang berdekatan. Bagi Ruben, jadwal ini bukan sekadar urusan administratif. Ia mengaku harus menata ulang seluruh aktivitasnya, termasuk pekerjaan yang selama ini ia jalani sebagai presenter dan pengusaha.
Dua Agenda yang Harus Dilalui
Menurut informasi yang dihimpun, sidang pertama digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, sementara sidang kedua berfokus pada pembacaan dan tanggapan atas dokumen yang diajukan kedua belah pihak. Jarak waktu antara keduanya tidak lebih dari beberapa hari, membuat tim hukum harus bekerja ekstra menyiapkan materi.
"Kami sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Klien kami kooperatif, hadir tepat waktu, dan mengikuti seluruh proses dengan baik," ujar salah satu anggota tim kuasa hukum Ruben saat ditemui di luar ruang sidang.
Sarwendah yang datang dengan balutan busana sederhana tampak tenang. Ia hanya tersenyum tipis ketika awak media mencoba mendekat. Di balik ketenangan itu, ia mengakui bahwa tekanan menghadapi dua sidang dalam sepekan cukup menguras tenaga dan pikiran.
"Yang paling berat itu bukan datang ke pengadilan, tapi menjaga perasaan anak-anak tetap aman. Mereka harus tetap merasa bahwa semuanya baik-baik saja," ujarnya dengan suara pelan.
Di Balik Ketenangan yang Terlihat
Bagi orang yang melihat dari luar, Ruben dan Sarwendah tampak seperti biasa. Ruben masih menyapa wartawan dengan ramah, bahkan sempat melontarkan gurauan ringan sebelum memasuki ruang sidang. Namun di balik layar, keduanya berjuang menyeimbangkan peran sebagai orang tua, pekerja, dan pihak yang tengah menjalani proses hukum.
Sarwendah mengisahkan bahwa ia harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan kebutuhan anak-anak sebelum berangkat ke pengadilan. Setelah sidang selesai, ia kembali menjalani rutinitas sebagai ibu, menemani anak belajar, dan memastikan tidak ada yang berubah dari keseharian mereka.
"Momen paling mengharukan itu saat anak-anak bertanya, 'Mami ke mana?' Saya hanya bilang, mami sedang mengurus sesuatu. Mereka belum perlu tahu semuanya," tuturnya sambil menahan air mata.
Sementara itu, Ruben memilih fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan. Ia menyebut proses hukum ini sebagai bagian dari perjalanan yang harus dijalani dengan kepala tegak. Ia tidak ingin terjebak dalam rasa lelah atau kemarahan yang justru memperberat langkahnya.
Menjaga Mimpi dan Harapan Tetap Hidup
Meski jadwal sidang padat, Ruben tetap berusaha mempertahankan mimpi-mimpi yang selama ini ia bangun. Ia masih aktif mengurus bisnis kuliner dan beberapa proyek yang tengah berjalan. Baginya, bekerja adalah cara untuk tetap bangkit dan tidak tenggelam dalam tekanan.
"Saya nggak mau semua ini bikin hidup saya berhenti. Anak-anak butuh saya tetap produktif, tetap jadi ayah yang bisa mereka andalkan," ucap Ruben dengan nada tegas.
Sarwendah menambahkan bahwa ia belajar banyak dari proses ini. Ia menyadari bahwa kekuatan tidak selalu berarti mampu menghadapi semuanya sendiri, melainkan juga berani meminta dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.
"Saya bersyukur masih ada orang-orang yang peduli. Mereka nggak banyak bicara, tapi kehadiran mereka itu yang bikin saya kuat," katanya.
Hingga berita ini ditulis, dua agenda sidang tersebut masih menjadi bagian dari proses yang belum menemui titik akhir. Baik Ruben maupun Sarwendah sama-sama berharap semua bisa berjalan lancar dan selesai pada waktunya.
Di luar ruang sidang, senja mulai turun. Ruben melangkah ke mobil yang menunggunya, sementara Sarwendah memilih berjalan pelan menuju pintu keluar. Dalam keramaian itu, kisah mereka bukan sekadar tentang dua nama yang sering muncul di layar kaca, melainkan tentang dua manusia yang berjuang menjaga mimpi dan keluarga tetap utuh di tengah badai yang menerpa.
Comments (0)