Oct 13, 2026
entertainment

Ketika Noda Berubah Jadi Karya Seni di Tangan Rinso dan Othman

Di sudut ruangan Kopikalyan Wijaya, Jakarta, aroma kopi bercampur dengan semangat para perancang muda. Mereka bukan sedang membicarakan tren warna atau siluet terbaru. Mereka justru berkumpul untuk me...

Ketika Noda Berubah Jadi Karya Seni di Tangan Rinso dan Othman

Di sudut ruangan Kopikalyan Wijaya, Jakarta, aroma kopi bercampur dengan semangat para perancang muda. Mereka bukan sedang membicarakan tren warna atau siluet terbaru. Mereka justru berkumpul untuk merayakan sesuatu yang biasanya dihindari: noda. Di atas meja panjang, beberapa helai kain dengan bercak kecokelatan dan biru dipajang layaknya karya seni dalam galeri. Bagi sebagian orang, noda adalah musuh. Namun di sini, ia diangkat menjadi bintang utama.

Rinso dan Othman mengisahkan sebuah perjalanan kreatif yang jarang terdengar. Keduanya memperkenalkan The Stained Drop Collection, sebuah koleksi busana yang justru menjadikan noda sebagai bagian dari cerita dan ekspresi. Dalam acara bertajuk The Fitting yang digelar pada Jumat, 9 Oktober 2026, para tamu diajak menyaksikan bagaimana sesuatu yang dianggap kotor bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Momen mengharukan terjadi ketika beberapa model berjalan mengenakan busana dengan aksen noda yang sengaja dirancang.

"Noda itu bukan kelemahan. Ia adalah jejak kehidupan yang tidak perlu disembunyikan," ujar salah satu perwakilan Rinso dengan mata berkaca-kaca.

Kalimat itu menggantung di udara, membuat beberapa hadirin tampak mengangguk pelan. Ada yang mengingat noda saus di kemeja saat makan malam bersama keluarga. Ada pula yang mengenang cipratan lumpur di celana setelah bermain hujan semasa kecil. Noda, dalam banyak kisah personal, bukan sekadar kotoran. Ia menyimpan memori, air mata, dan tawa yang tak terucap.

Di Balik Layar: Perjuangan Mengubah Cara Pandang

Perjalanan The Stained Drop Collection tidaklah instan. Tim Rinso dan Othman berjuang keras meyakinkan banyak pihak bahwa noda bisa dipandang berbeda. Di balik layar, mereka melakukan riset selama berbulan-bulan, mengumpulkan cerita dari puluhan orang tentang noda paling berkesan dalam hidup mereka. Dari cerita-cerita itu, lahir desain yang sarat makna.

"Awalnya banyak yang ragu. Mereka bilang ini tidak mungkin, ini aneh. Tapi kami percaya, setiap mimpi butuh keberanian untuk dimulai," kenang seorang anggota tim kreatif Othman, yang enggan disebut namanya. Ia mengisahkan bagaimana malam-malam panjang dihabiskan untuk memilih warna noda yang tepat agar tetap estetis. Ada air mata, ada tawa, dan ada kebanggaan saat kain pertama berhasil diwarnai dengan pola yang diinginkan.

"Kami ingin orang bangkit dari rasa malu karena noda. Noda adalah bagian dari perjalanan, bukan aib," tutur sang desainer utama.

Pendekatan ini menyentuh banyak hati. Seorang pengunjung, Rani, 27 tahun, mengaku tersentuh saat melihat koleksi tersebut. Ia bercerita tentang noda tinta di seragam sekolahnya dulu yang membuatnya dimarahi guru. "Dulu aku malu setengah mati. Sekarang aku sadar, noda itu bagian dari perjuanganku belajar menulis," ujarnya sambil tersenyum haru.

Ruang Kopi yang Menjadi Saksi Kehangatan

Kopikalyan Wijaya malam itu berubah menjadi ruang yang hangat. Lampu temaram menyorot setiap helai busana yang dipamerkan. Para tamu tidak hanya menyaksikan, tetapi juga diajak menyentuh langsung kain-kain tersebut. Ada sesi di mana mereka diminta menuliskan kisah noda pribadi di selembar kertas, lalu menggantungnya di dinding kenangan. Dalam sekejap, dinding itu penuh dengan tulisan tangan sederhana namun menyentuh.

"Ini bukan sekadar fashion show. Ini terapi," ujar Othman singkat, namun dalam. Ia menjelaskan bahwa koleksi ini adalah undangan bagi semua orang untuk menerima ketidaksempurnaan. Di tengah budaya yang menuntut kesempurnaan, pesan ini terasa seperti oase.

Acara The Fitting juga menjadi momen bagi para perancang muda untuk belajar langsung dari proses kreatif Rinso dan Othman. Mereka melihat bagaimana sebuah ide sederhana bisa tumbuh menjadi gerakan yang menginspirasi. Beberapa di antaranya bahkan meneteskan air mata saat menyadari bahwa noda yang selama ini mereka sembunyikan bisa menjadi kekuatan.

Inspirasi yang Tak Berhenti di Panggung

Ketika acara berakhir, bukan berarti cerita ini selesai. Rinso dan Othman berharap The Stained Drop Collection dapat memicu percakapan lebih luas tentang penerimaan diri. Mereka berencana membawa koleksi ini ke kota-kota lain, menjangkau lebih banyak orang yang mungkin masih merasa terpuruk karena noda kecil dalam hidup mereka.

"Setiap noda punya cerita. Dan setiap cerita layak untuk didengar," pungkas perwakilan Rinso, mengakhiri malam dengan senyum penuh haru.

Di luar ruangan, hujan baru saja reda. Beberapa tamu berjalan pulang dengan busana yang masih menyimpan kesan mendalam. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar kenang-kenangan. Mereka membawa pulang keberanian untuk bangkit, untuk menerima, dan untuk melihat noda sebagai bagian dari perjalanan yang indah. Sebuah kisah sederhana yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap noda, selalu ada mimpi yang menunggu untuk dirayakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User