Di ruang tengah rumahnya yang hangat, Ruben Onsu memandangi foto anak-anaknya yang tertata rapi di meja. Senyum tipis merekah, namun matanya menyimpan keruh mendalam. Dalam beberapa hari terakhir, ia kembali dihadapkan pada pusaran konflik yang tak hanya menyita energi, tetapi juga mengancam ketenangan buah hatinya. Ruben Onsu akhirnya membuka suara, menanggapi pernyataan dari kubu Sarwendah yang menuduh pihaknya sengaja memojokkan sang mantan istri.
Tudingan yang Membekas
Polemik ini bermula ketika kuasa hukum Sarwendah menyampaikan pandangan tajam bahwa Ruben beserta timnya dinilai telah menyudutkan Sarwendah. Tudingan itu disampaikan dengan nada peringatan: dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga akan melukai hati anak-anak yang masih belia. Pihak Sarwendah mengingatkan, bahwa setiap langkah yang diambil harus memperhitungkan perasaan dua anak yang menjadi korban dari perpecahan rumah tangga mereka.
Bagi Ruben, tudingan tersebut terasa ganjil. Baginya, justru dirinyalah yang selama ini mencoba menjaga jarak dari drama, demi melindungi anak-anak dari luka batin yang lebih dalam. “Saya ini bapak. Hati saya sebagai ayah terus menangis, tapi saya harus tegar,” ujar Ruben dengan suara bergetar, saat ditemui di kediamannya, Selasa petang. Tangannya sesekali mengepal, seolah menahan gelombang emosi yang hendak meluap, namun kemudian ia tarik napas panjang, mengingatkan dirinya bahwa anak-anaknya membutuhkan ketenangan.
Jawaban dari Hati Seorang Ayah
Ruben tidak ingin berlarut dalam perang kata-kata. Ia memilih merespons dengan cara yang ia yakini lebih bermartabat: mengedepankan kepentingan anak-anak. “Kalau memang saya dianggap memojokkan, silakan saja. Tapi tolong jangan libatkan anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa,” tegasnya. Suaranya terdengar parau, namun penuh keteguhan.
Presenter kondang itu mengaku sudah sangat lelah dengan riak-riak konflik yang tak kunjung reda. Ia mengisahkan bagaimana setiap malam ia memeluk anak-anaknya, merasakan detak jantung kecil mereka yang masih suci, dan berjanji akan melindungi mereka dari badai yang diciptakan orang dewasa. Momen-momen itu menjadi sumber kekuatan sekaligus luka yang tak kunjung kering. Perjuangannya terasa sunyi, namun ia yakin inilah jalan yang terbaik.
“Ada malam di mana anak saya bertanya, ‘Papa, kenapa mama nangis?’ Saya hanya bisa diam. Itu pertanyaan yang paling menyakitkan sepanjang hidup saya,” tuturnya sembari menunduk, air mata tak kuasa ia bendung. Di lantai dua, kedua anaknya tengah bermain riang tanpa menyadari perbincangan getir di bawah. Ruben sengaja memilih tempat itu agar tawa mereka tak ternoda oleh luka yang ia pendam sendiri.
Dampak pada Jiwa Kecil yang Tak Berdosa
Psikolog anak, Dr. Lestari, yang turut mengomentari kasus ini, mengingatkan bahwa pertikaian orang tua yang berkepanjangan dapat meninggalkan trauma mendalam pada anak. “Anak-anak membutuhkan rasa aman, bukan justru menjadi medan perang perasaan,” ungkapnya. Dalam konteks ini, pernyataan kubu Sarwendah ihwal dampak pada anak sesungguhnya menjadi pengingat bagi semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan kepentingan si kecil.
Ruben menyadari hal itu sepenuhnya. Oleh karenanya, ia berusaha tidak membalas setiap serangan dengan emosi. Ia memilih jalur hukum dan komunikasi yang terukur, meskipun hati kecilnya kerap bergejolak. “Saya bukan tidak bisa melawan. Tapi saya tidak mau anak-anak saya tumbuh dalam kebencian,” ucapnya lirih, seraya memandangi lukisan keluarga yang hampir pudar di dinding.
Melangkah dengan Kepala Tegak
Di balik layar, Ruben mengaku sedang mempersiapkan langkah-langkah konkret untuk memastikan hak asuh dan masa depan anak-anaknya tetap terlindungi. Ia tak ingin gegabah, namun juga tak ingin terus-menerus terpojok oleh narasi yang dinilainya tidak adil.
Sahabat dekat Ruben, yang enggan disebut namanya, mengisahkan bagaimana lelaki itu kerap menangis sendirian di mobil sebelum masuk rumah, agar anak-anaknya tidak melihat air matanya. “Dia itu kuat di luar, tapi di dalam rapuh. Setiap gosip yang menyakiti anaknya, dia rasakan seperti ribuan jarum,” ungkap sahabatnya.
Perjalanan Ruben belum berakhir. Di tengah pusaran tudingan, ia terus berjuang untuk menjadi ayah yang teduh bagi anak-anaknya. Ia percaya, satu saat nanti, kebenaran dan ketulusannya akan terlihat dengan sendirinya. Hingga saat itu tiba, ia akan terus berjalan—walau tertatih, namun tak akan berhenti. “Yang terpenting bagi saya, anak-anak bisa tumbuh dengan cinta, bukan dengan dendam,” pungkasnya, seolah menutup lembar kelam dengan secercah asa.
Comments (0)