Bagi sekelompok kecil orang Jumat malam lalu, teater itu menjelma semacam pelabuhan mimpi. Cahaya keemasan menyembur dari pintu masuk yang dijaga ketat petugas berjas. Di dalam, aroma popcorn dan parfum mahal berbaur. Semua pandangan tertuju ke panggung tempat The Odyssey akan segera dimulai. Tapi bagi sebagian besar warga kota, kemilau itu hanyalah bayangan yang tak akan pernah bisa mereka sentuh—sebuah perjalanan puluhan tahun Odysseus yang hanya bisa disaksikan oleh mereka yang memiliki isi dompet tebal.
Awal bulan ini, ketika tiket pertunjukan teater imersif The Odyssey dirilis secara daring, server penyedia layanan langsung kolaps. Dalam waktu kurang dari empat menit, seluruh jatah tiket untuk sebulan pertunjukan lenyap. Peminat yang tidak kebagian langsung menggeruduk media sosial, meluapkan rasa frustrasi karena selain harga yang selangit, cara menonton produksi ini memang dirancang tidak untuk semua orang. Itu bukan pertunjukan teater biasa. Penonton diajak masuk ke dalam sebuah hanggar tua yang disulap menjadi kapal layar, di mana mereka bebas berjalan mengikuti alur cerita dari satu adegan ke adegan lainnya. Hanya dibatasi 80 orang per sesi, pengalaman itu memang mustahil bisa diakses publik secara luas.
Harga yang Membentengi Mimpi
Kisah Dina, mahasiswi seni pertunjukan yang indekos di bilangan Jakarta Timur, mungkin bisa mewakili kegundahan banyak orang. Sejak kabar tentang The Odyssey menyeruak, ia sudah menabung. Setiap hari ia menyisihkan uang jajan, menggantikan menu makan siangnya dengan nasi bungkus seharga lima ribu rupiah. Sayangnya, ketika ia membuka laman penjualan tiket, nominal yang tertulis membuat lemas seluruh tubuhnya. Tiket termurah—jika bisa disebut begitu—dibanderol seharga 1,8 juta rupiah. Itu setara dengan setengah biaya kontrakannya selama sebulan.
"Saya pikir, mungkin masih ada harapan dengan tiket pelajar. Tapi ternyata tidak ada. Semua sama. Ini benar-benar eksklusif," kata Dina, suaranya bergetar menahan kecewa. Ia mengaku tidak mempermasalahkan kualitas artistik produksi itu, tetapi ia berharap ada cara bagi penonton dengan kemampuan ekonomi pas-pasan untuk turut mengapresiasi karya adaptasi epik Homeros itu.
Keluhan serupa datang dari kalangan pekerja seni. Seorang aktor teater independen yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa fenomena ini justru menjauhkan teater dari akar kerakyatannya. "Teater dulu adalah alat perlawanan, panggung bagi rakyat jelata. Sekarang malah berubah jadi pesta pora kaum elit. Saya khawatir ini menjadi preseden buruk," ujarnya. Para kurator seni menyebut The Odyssey telah menggeser paradigma, menciptakan kelas baru di dunia pertunjukan: pengalaman premium yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.
Mewah, Personal, dan Terbatas
Cara menonton yang tidak biasa inilah yang mendapat sorotan paling tajam. Sang sutradara, yang dikenal sebagai penggagas gerakan teater imersif di Tanah Air, mengklaim bahwa pertunjukan ini adalah jawaban atas kerinduan akan seni yang intim. "Kami ingin penonton tidak sekadar duduk dan menonton. Mereka harus merasakan embusan angin laut, mendengar derit kayu kapal, bahkan mencium aroma samak laut yang sengaja kami ciptakan. Itu semua butuh sumber daya dan ruang yang terbatas," tuturnya dalam sebuah wawancara. Ia juga menambahkan bahwa The Odyssey tidak bisa disamakan dengan teater konvensional yang bisa menampung ribuan orang dalam satu malam.
Namun, justru dari sinilah istilah "elitis" itu berakar. Jika penonton dibawa pada pengalaman sensorik yang sedemikian personal, maka akses menjadi hal pertama yang dikorbankan. Setiap elemen yang membuat pertunjukan itu unik—mulai dari efek khusus, tata suara yang menjangkau setiap sudut ruangan, hingga aktor yang berinteraksi langsung dengan penonton—hanya mungkin dinikmati oleh maksimal puluhan orang. Maka, harga tiket pun meroket. Dan siapa yang bisa membayar? Mereka yang berkocek tebal, yang mampu membeli pengalaman spiritual melalui selembar kertas tiket.
Di sudut lain, para pengamat budaya menyoroti bagaimana pertunjukan ini dipasarkan. Kampanye pemasaran The Odyssey tidak pernah menampilkan wajah komunitas atau pelajar. Poster-posternya justru menampilkan foto para pesohor dan pengusaha yang berpose di depan instalasi kapal. Seolah ada pesan tersirat: pertunjukan ini adalah simbol status baru. "Jika Anda belum menonton The Odyssey, Anda belum menjadi bagian dari lingkaran pergaulan yang tepat," begitu lebih kurang nada yang ditangkap oleh banyak warganet. Sebuah konten di media sosial yang menunjukkan seorang influencer memamerkan gelang tiket eksklusifnya menjadi viral, sekaligus memantik kemarahan kolektif.
Jembatan Retak Menuju Panggung
Meski kritik bertubi-tubi, produksi ini tidak bisa dipungkiri tetap menjadi magnet luar biasa. Setiap malam, puluhan orang yang beruntung keluar dari hanggar dengan mata berbinar. Seorang penonton yang berhasil mendapat tiket setelah melalui perjuangan panjang mengaku bahwa pengalaman itu tak ternilai. "Saya tidak bisa berkata-kata. Saya menangis sepanjang adegan terakhir. Ini adalah definisi seni yang sebenarnya," katanya. Tetapi ia juga mengakui bahwa tidak seharusnya hanya segelintir orang yang bisa merasakan keajaiban itu.
Produser pertunjukan, dalam pernyataan resminya, menyebutkan bahwa mereka sedang menjajaki kemungkinan menghadirkan paket pertunjukan dengan harga subsidi untuk pelajar dan komunitas kurang mampu. Namun hingga kini, belum ada detail yang bisa dipastikan. Sementara itu, para pekerja seni akar rumput terus menyuarakan pentingnya demokratisasi akses terhadap karya bermutu. "Seni yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang adalah seni yang mati. Ia akan kehilangan ruh-nya," kata salah seorang seniman.
Lampu-lampu di hanggar itu mungkin akan terus menyala selama berbulan-bulan, dan ribuan orang akan terus mengantre dalam kesia-siaan. The Odyssey telah menjadi cermin bagi kita semua: tentang siapa yang berhak menikmati keindahan, dan siapa yang hanya boleh memandangnya dari kejauhan. Sebuah pertunjukan tentang perjalanan panjang ternyata malah menghentikan langkah banyak orang sebelum mereka bisa menyentuh gerbangnya.
Comments (0)