Aug 28, 2026
entertainment

Warisan Keluarga Ha Young Terancam Disita, Jejak Masa Lalu Pro-Jepang

Di sudut ruang tamu rumah keluarga yang usianya telah melampaui setengah abad, sebuah foto hitam putih masih tergantung dengan tenang. Di dalamnya, seorang lelaki bergaya rapi menatap lensa dengan tat...

Warisan Keluarga Ha Young Terancam Disita, Jejak Masa Lalu Pro-Jepang

Di sudut ruang tamu rumah keluarga yang usianya telah melampaui setengah abad, sebuah foto hitam putih masih tergantung dengan tenang. Di dalamnya, seorang lelaki bergaya rapi menatap lensa dengan tatapan yang kini justru menjadi sumber perdebatan panjang. Keturunannya, termasuk Ha Young, tak pernah menyangka bahwa warisan sederhana berupa tanah dan bangunan tua itu suatu hari akan menjadi sorotan nasional. Kabar tentang rencana penyitaan aset oleh pemerintah Korea Selatan datang seperti hujan di musim kemarau, membasahi semuanya, termasuk harapan yang selama ini dijaga dengan air mata dan doa.

Kisah ini mengisahkan perjalanan sebuah keluarga yang terjebak di antara dua zaman. Di satu sisi, mereka hidup sebagai masyarakat modern Korea yang terus bergerak maju. Di sisi lain, mereka dipaksa menghadapi babak sejarah kelam yang ditulis jauh sebelum mereka lahir: keterlibatan kakek buyut dalam kolaborasi dengan pemerintah pendudukan Jepang.

Jejak Sejarah yang Tak Bisa Dihapus

Masa penjajahan Jepang di Korea antara tahun 1910 hingga 1945 meninggalkan luka yang dalam bagi bangsa itu. Di balik layar perjuangan para pejuang kemerdekaan, ada pula kisah kelam tentang mereka yang memilih berpihak pada penjajah. Para kolaborator yang bekerja demi kepentingan Jepang umumnya memperoleh tanah, jabatan, dan kekayaan melimpah. Harta itulah yang kemudian mengalir turun-temurun kepada generasi penerus, termasuk kepada keluarga Ha Young.

Pemerintah Korea Selatan kini menilai bahwa sebagian aset keluarga tersebut diduga diperoleh dari aktivitas pro-Jepang pada masa itu. Penilaian ini membuka kemungkinan penyitaan terhadap tanah dan warisan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Bagi Ha Young dan kerabatnya, kabar itu bukan sekadar urusan hukum, melainkan pertanyaan yang menyentuh tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Undang-Undang yang Membuka Kembali Babak Lama

Landasan dari langkah pemerintah ini adalah undang-undang khusus mengenai pengembalian properti kolaborator pro-Jepang. Aturan tersebut memberi kewenangan kepada negara untuk menyita aset yang terbukti diperoleh melalui kerja sama dengan penjajah. Hasil penyitaan dinilai akan dialokasikan untuk menghormati perjuangan para pejuang kemerdekaan beserta keluarganya.

Prosesnya tidak sederhana. Setiap aset harus diteliti, dilacak asal-usulnya, dan dibuktikan hubungannya dengan aktivitas kolaborasi. Namun bagi keluarga yang menghadapinya, prosedur yang panjang itu terasa seperti perjalanan tanpa titik akhir. Mereka berjuang menyiapkan dokumen, mencari saksi, dan memahami hukum yang tak pernah mereka bayangkan akan menyentuh hidup mereka.

"Kami tidak pernah memilih untuk lahir di keluarga ini. Warisan itu kami terima sebagai amanah, bukan sebagai dosa," ujar salah satu kerabat yang enggan disebut namanya, dengan suara yang bergetar.

Di Balik Layar Perjuangan Sebuah Keluarga

Di balik layar berita yang ramai diperbincangkan, keluarga Ha Young menjalani hari-hari yang jauh lebih sederhana namun berat. Momen mengharukan terjadi ketika generasi ketiga keluarga berkumpul di rumah tua itu, duduk melingkar di atas lantai kayu yang berderit, membaca ulang surat pemberitahuan dari pihak berwenang. Tidak ada yang berkata banyak. Yang ada hanya tatapan panjang dan helaan napas yang seolah menyimpan ribuan kata.

Sebagian anggota keluarga mengaku pernah bermimpi sederhana: menjaga rumah itu tetap berdiri agar generasi berikutnya tetap mengenal akarnya. Mimpi itu kini terancam pupus. Meski demikian, mereka memilih tidak menyalahkan sejarah. Seorang anggota keluarga mengatakan bahwa mereka ingin mengambil bagian dalam proses hukum dengan kepala tegak, menghormati putusan negara sekaligus memperjuangkan hak yang melekat pada mereka.

"Jika memang sejarah menuntut keadilan, kami siap menghadapinya. Yang kami harapkan hanyalah proses yang adil bagi semua pihak," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Antara Air Mata dan Harapan untuk Bangkit

Kasus keluarga Ha Young menjadi inspirasi sekaligus peringatan bagi masyarakat luas. Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya menunggu untuk dibaca kembali oleh generasi yang lebih siap memahaminya. Bagi sebagian orang, penyitaan aset kolaborator adalah bentuk keadilan yang tertunda terlalu lama. Bagi yang lain, ia adalah ujian tentang bagaimana sebuah bangsa menilai anak cucu atas perbuatan leluhur.

Apa pun putusan yang kelak dijatuhkan, kisah keluarga ini telah menyentuh banyak hati. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap berita hukum, selalu ada manusia yang menangis, berdoa, dan tetap berdiri. Dan mungkin justru dari air mata itulah sebuah keluarga belajar bangkit, membawa warisan yang tak bisa disita oleh siapa pun: pengertian, kesabaran, dan harapan bahwa masa depan akan lebih lembut daripada masa lalu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User