Ratna Riantiarno: Merengkuh Jiwa yang Terluka Lewat Panggung

Sejenak, sunyi menyergap ruangan berukuran 4x5 meter itu. Di depan puluhan wartawan, seorang perempuan berambut pendek dengan balutan kebaya sederhana menunduk, menyeka sudut matanya yang basah. Ratna...

Jul 12, 2026 - 03:26
0 0
Ratna Riantiarno: Merengkuh Jiwa yang Terluka Lewat Panggung

Sejenak, sunyi menyergap ruangan berukuran 4x5 meter itu. Di depan puluhan wartawan, seorang perempuan berambut pendek dengan balutan kebaya sederhana menunduk, menyeka sudut matanya yang basah. Ratna Riantiarno bukan sedang bersedih—ia tengah mengenang sepotong kisah yang mengubah cara pandangnya tentang mereka yang selama ini tersembunyi di balik tembok tinggi. Di konferensi pers yang digelar Kamis, 10 Juli 2026, di Jakarta, ia membagikan perjalanan emosional yang melatari karya terbarunya: sebuah pertunjukan teater bertajuk Rumah Sakit Jiwa.

“Saya tidak pernah menyangka, di tempat yang sering dianggap menakutkan itu, saya justru menemukan begitu banyak cinta yang terpendam,” ucapnya lirih, suaranya nyaris bergetar. Momen itu menjadi pembuka bagi sebuah perbincangan yang jauh dari sekadar promosi seni. Ini adalah undangan untuk menatap luka jiwa dengan mata yang lebih jernih—tanpa stigma, tanpa rasa takut.

Menyelami Keseharian di Balik Jeruji Sunyi

Ratna, yang dikenal sebagai pendiri Teater Koma, mengisahkan proses riset panjang yang dilakukannya bersama tim. Selama hampir enam bulan, ia rutin mengunjungi beberapa rumah sakit jiwa di Jawa Barat untuk berdialog langsung dengan para pasien, perawat, dan keluarga yang menanti di luar gerbang. Bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan membangun ikatan. Setiap Rabu sore, ia duduk di selasar ruang rehabilitasi, berbagi cerita sambil memegang tangan-tangan yang seringkali dingin karena obat-obatan.

“Di balik mata yang menerawang, ada kisah hidup yang kompleks. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang ditinggal pasangan, ada pula yang tidak pernah dikunjungi keluarganya selama bertahun-tahun,” tuturnya. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa rumah sakit jiwa bukanlah sekadar tempat penyembuhan klinis—ia adalah cermin dari ketidakmampuan masyarakat dalam memahami beban psikologis sesamanya.

Puncak haru terjadi saat salah seorang pasien, seorang mantan guru seni yang didiagnosis skizofrenia, menunjukkan gambar-gambar coretannya. “Dia bilang, ‘Bu, ini gambaran isi kepalaku. Saya berharap suatu hari orang lain bisa melihatnya tanpa jijik.’ Kalimat itu menghantam saya. Di situlah saya merasa panggung harus menjadi ruang bagi suara-suara yang selama ini tak terdengar,” kenang Ratna.

Membangun Jembatan Emosi Lewat Pertunjukan

Berbeda dari produksi Teater Koma sebelumnya yang kerap sarat kritik politik, Rumah Sakit Jiwa menempuh jalur berbeda: ia menawarkan keintiman. Lakon berdurasi 120 menit itu dirancang semi-imersif, di mana penonton tidak hanya duduk di kursi, melainkan diajak berjalan melewati instalasi kamar pasien, membaca surat-surat asli yang dipajang, bahkan mendengarkan rekaman audio wawancara yang memang sengaja disertakan.

“Saya ingin penonton pulang bukan dengan kesedihan, melainkan dengan pemahaman baru,” kata Ratna. “Bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kehidupan kita bersama. Bahwa di dalam setiap orang yang dianggap ‘sakit’, selalu ada sisa-sisa asa yang menunggu dirangkul.”

Pementasan ini juga melibatkan tiga mantan pasien rumah sakit jiwa sebagai bagian dari tim artistik—bukan sebagai objek, tetapi sebagai konsultan yang memberikan masukan soal gerak, tata cahaya, hingga pemilihan properti. Salah satunya, Bayu (39), bertanggung jawab menyusun komposisi musik dari bunyi-bunyi yang ia rekam di bangsal: desir kipas angin, langkah sandal di lantai koridor, dan gemerincing piring makan malam. “Saya ingin menunjukkan bahwa di tempat yang sunyi, tetap ada irama. Irama itu adalah bukti bahwa kami tetap hidup,” ujar Bayu, yang kutipannya dibacakan Ratna dengan mata berkaca-kaca.

Harapan yang Tumbuh dari Panggung Sederhana

Konferensi pers itu sendiri digelar dengan tata ruang yang tak lazim. Alih-alih panggung formal dengan latar poster besar, panitia justru menghadirkan bangku-bangku kayu panjang, beberapa easel berisi foto-foto proses riset, dan sudut kecil yang menyajikan teh hangat serta kue-kue dari komunitas peduli kejiwaan. Suasana itu sengaja diciptakan untuk menularkan semangat inklusivitas yang ingin dibawa oleh pertunjukan.

Ratna menutup sesi tanya jawab dengan sebuah ajakan yang sederhana namun membekas: “Jangan menunggu sampai kita sendiri atau orang yang kita cintai terbaring di ranjang rumah sakit jiwa untuk mulai peduli. Stigma adalah racun yang paling perlahan membunuh. Dan seni, saya percaya, bisa menjadi penawarnya.” Ia lalu tersenyum, kali ini matanya tak lagi berkaca-kaca. Ada keyakinan yang terpancar dari gurat wajahnya yang telah melewati lebih dari empat dekade di dunia teater.

Rumah Sakit Jiwa dijadwalkan tampil perdana pada awal Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Sebagian tiket dijual dengan skema “beli satu, beri satu”—di mana satu tiket yang dibeli akan menyumbang tiket gratis bagi pasien rumah sakit jiwa yang telah dinyatakan stabil oleh dokter. Bagi Ratna, ini bukan sekadar strategi menjaring penonton. Ia menyebutnya sebagai “ritual menghapus jarak”.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar peduli pada urusan batin warganya, langkah Ratna Riantiarno menjadi nyala kecil yang mengingatkan: bahwa setiap jiwa, meski terluka, layak untuk dirayakan. Dan panggung teater, dengan segala kehangatan dan keterbukaannya, mungkin memang tempat terbaik untuk memulai sembuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User