Project Pop dan Dewi Gita: Dua Panggung, Satu Semangat Muda

Di sebuah ruang presscon yang remang, tawa lepas tiba-tiba pecah. Yosi, anggota Project Pop, berdiri di depan latar poster Forever Young – Forever Fun sambil menirukan gerakan tarian jadul yang lang...

Jul 11, 2026 - 18:10
0 0
Project Pop dan Dewi Gita: Dua Panggung, Satu Semangat Muda

Di sebuah ruang presscon yang remang, tawa lepas tiba-tiba pecah. Yosi, anggota Project Pop, berdiri di depan latar poster Forever Young – Forever Fun sambil menirukan gerakan tarian jadul yang langsung disambut tepuk tangan dari sosok di sampingnya—Dewi Gita. Si penyanyi bersuara emas itu—yang siang itu hadir dalam balutan kebaya sederhana untuk film horor perdananya—tak kuasa menahan senyum. Mereka baru saja bertemu di sebuah acara bersama, dan di situlah dua dunia saling bersahutan: musik komedi yang telah melintasi tiga dekade, dan debut akting seorang diva yang tak ingin berhenti belajar.

Inilah penggalan kisah dua insan seni yang kebetulan berpapasan di ujung Juli 2026. Project Pop tengah bersiap menggelar konser besar di Jakarta untuk merayakan 30 tahun perjalanan mereka, sementara Dewi Gita mempromosikan film Lastri: Arwah Kembang Desa—film horor drama yang membawanya masuk ke wilayah baru yang dulu tak pernah dibayangkannya.

Lebih dari Sekadar Nostalgia

Bagi Project Pop, konser bertajuk Forever Young – Forever Fun bukan sekadar pengulangan memori. Ia adalah pembuktian bahwa musik, seperti yang mereka katakan, tak pernah menua jika dimainkan dengan hati yang tepat. Di balik layar, mereka mengisahkan momen-momen mengharukan saat kembali berkumpul di studio latihan, di mana ingatan tentang almarhumah Tika Panggabean—yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awal mereka—datang bak angin lembut.

“Kami sempat termenung. Ruang ini dulu sering dipenuhi suaranya. Sekarang kami ingin melanjutkan dengan cara yang membuatnya tersenyum,” ujar Udjo, salah satu personel, dengan suara bergetar.

Mereka berbagi cerita tentang penggarapan aransemen baru untuk lagu-lagu lawas, yang diberi napas segar tanpa menghilangkan roh jenaka dan satir yang menjadi ciri khas. Proses latihan itu penuh air mata dan gelak tawa—persis seperti perjalanan karier mereka.

Sebuah Debut yang Tak Terduga

Sementara itu, di sudut lain, Dewi Gita duduk dengan naskah film yang diberi highlight warna-warni. Debutnya di layar lebar melalui Lastri: Arwah Kembang Desa adalah lompatan besar. Berawal dari ketertarikan pada kisah rakyat dan tantangan akting, ia mendapati dirinya tenggelam dalam karakter Lastri, seorang wanita desa yang harus berjuang melawan stigma dan kekuatan gaib.

“Saya sempat menangis di tengah shooting. Bukan karena berat, tapi karena saya baru sadar betapa lama saya menunggu untuk mencoba hal baru ini. Ini seperti lahir kembali,” katanya, dengan mata berkaca-kaca.

Film yang disutradarai oleh sineas baru berbakat itu membawa Dewi berlumpur-lumpur di sawah, melantunkan mantra-mantra Jawa, dan mengeksplorasi sisi gelap yang selama ini tersimpan rapat di balik panggung musiknya yang gemerlap. Ia menyebut proses ini sebagai perjalanan pensucian diri yang membuatnya kembali menghargai akar budayanya sendiri.

Pertemuan Dua Semesta

Ketika Project Pop mengundang Dewi Gita untuk tampil sebagai bintang tamu spesial di salah satu segmen konser mereka, titik temu itu menemukan bentuk. Bukan sekadar kolaborasi di atas panggung, melainkan perbincangan panjang di balik panggung tentang makna ‘muda’. Bagi kedua belah pihak, muda bukan perkara usia, melainkan keberanian untuk terus mencipta.

“Lihat Mas Udjo, lihat Yosi—mereka yang sudah 30 tahun berjuang masih segila ini. Saya jadi malu kalau saya menyerah hanya karena mencoba hal baru,” ujar Dewi Gita sambil menunjuk personel Project Pop yang tengah bersiap-siap.

Keduanya sepakat, bahwa di tengah industri yang cepat berubah, mempertahankan kegembiraan adalah bentuk pemberontakan yang indah. Seperti yang diungkap oleh Yosi, “Kami tidak mau dewasa yang membosankan. Kami mau dewasa yang tetap bisa ketawa, bisa sedih, bisa bermimpi, sama seperti 30 tahun lalu.”

Dari sebuah sudut berukuran 3x4 meter tempat mereka bertukar cerita, muncullah kesepahaman: bahwa musik, film, dan segala bentuk seni adalah jembatan untuk menyentuh sesama manusia. Hari itu, dua panggung yang berbeda—konser megah dan layar lebar—bersatu dalam sebuah semangat sederhana: berbagi, belajar, dan tetap merasa hidup.

[TAGS]: project pop, dewi gita, konser forever young, lastri arwah kembang desa, musik indonesia, film horor, perayaan 30 tahun, inspirasi, kolaborasi seni, feature story [SOCIAL_TWEET]: Pertemuan tak terduga di balik layar: Project Pop dan Dewi Gita buktikan bahwa muda itu soal hati, bukan angka. Baca kisah mengharukan mereka di sini! #ForeverYoung #DewiGita #LastriArwahKembangDesa [SOCIAL_FB]: Dua dunia bertemu dalam satu semangat: musik dan film. Project Pop merayakan 30 tahun dengan konser penuh kenangan, sementara Dewi Gita memulai debut aktingnya di film ‘Lastri: Arwah Kembang Desa’. Di sini, mereka berbagi air mata, tawa, dan satu kesimpulan—bahwa seni adalah cara terbaik untuk tetap muda. Selengkapnya di artikel kami. [SOCIAL_TG]: 🎶🎬 Project Pop x Dewi Gita: Kolaborasi tak terduga yang lahir dari perjalanan 30 tahun dan debut film horor. Kenapa usia tidak pernah membatasi semangat? Baca kisah lengkapnya. [SOCIAL_THREADS]: gue abis nulis ini dan jujur mewek 😭 Project Pop setelah 30 tahun masih se-absurd dan se-menyentuh itu. Terus Dewi Gita? Debut akting di film horor ternyata bikin dia 'lahir kembali' katanya. Mereka ketemu, dan obrolannya soal ‘muda’ bener-bener nusuk. Baca deh, siapa tau lo juga ngerasa relate ❤️

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User