Project Pop Bangkit, Kalahkan Keresahan dengan Cinta
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, aroma kopi tubruk bercampur dengan debu alat musik yang sudah lama tak tersentuh. Yosi menatap gitar tuanya, sementara Udjo sibuk menyeka harmonika yang mulai...
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, aroma kopi tubruk bercampur dengan debu alat musik yang sudah lama tak tersentuh. Yosi menatap gitar tuanya, sementara Udjo sibuk menyeka harmonika yang mulai berkarat. Tika, Gugum, dan Odie duduk bersila di lantai, masing-masing membawa beban yang hanya mereka pahami sendiri. Sudah terlalu lama mereka tak berkumpul seperti ini, tak lagi saling melempar nada dan tawa. Hening yang canggung sempat menyelimuti, hingga akhirnya seseorang memecahnya dengan satu kalimat sederhana: “Gue kangen kita.” Air mata pun tak terbendung. Di situlah segalanya bermula.
Masa Sunyi yang Menyimpan Cerita
Bagi Project Pop, vakum panjang bukan sekadar jeda. Ia adalah ruang hampa yang penuh tanya. Masing-masing personel menjalani kehidupan yang berbelok dari panggung—ada yang berkutat dengan bisnis kecil, ada yang mencoba bertahan di industri kreatif yang makin kejam, dan ada pula yang memilih tenggelam dalam rutinitas rumah tangga. Namun di balik itu semua, keresahan selalu mengintip. “Kami merasa ada yang hilang,” ungkap Yosi dengan suara serak. “Bukan sekadar manggung, tapi semacam… panggilan batin yang tak bisa diabaikan.” Udjo menambahkan, “Kami seperti kehilangan bahasa. Padahal dulu, kami bicara lewat lagu. Sunyi ini justru jadi jeritan yang paling keras.”
Proses untuk kembali bukan perkara mudah. Tika, yang sering menjadi jembatan komunikasi di antara mereka, mengakui bahwa egosentris masa muda sempat menjadi tembok besar. “Kami harus belajar lagi mendengarkan, bukan cuma ingin didengar,” katanya sambil tersenyum getir. Momen-momen kecil seperti berbagi mi instan di tengah malam atau sekadar mengingat kembali kejadian lucu di tur lama menjadi perekat yang tak ternilai. Inilah di balik layar yang jarang diketahui: bukan sekadar proses kreatif, melainkan pemulihan hubungan antarmanusia yang nyaris retak oleh waktu.
Melahirkan Pesan di Antara Not dan Tangis
Ketika akhirnya mereka memutuskan untuk menciptakan lagi, tak ada target komersial yang dibebankan. Yang ada hanyalah keinginan untuk menumpahkan isi hati. “Kalahkan dengan Cinta” lahir dari satu sesi latihan yang berubah menjadi sesi curhat massal. Gugum, yang biasanya paling pendiam, tiba-tiba menyuarakan kegelisahannya tentang dunia yang kian bising oleh kebencian. “Kenapa sih kita gampang banget nyerang? Kenapa susah banget buat sekadar mencoba mengerti?” pertanyaannya waktu itu menjadi bara yang menyulut lirik demi lirik.
Prosesnya tidak linier. Odie yang bertanggung jawab pada komposisi musik mengaku beberapa kali frustrasi. “Kami ingin lagu ini sederhana, tapi menusuk,” katanya. “Bukan sekadar nyanyian, melainkan semacam doa.” Mereka berdebat soal aransemen, saling lempar ide, bahkan sempat saling diam selama tiga hari. Namun setiap kali hampir menyerah, selalu ada satu dari mereka yang mengingatkan: “Ini bukan buat kita aja, ini buat keresahan yang sama yang dirasain banyak orang.” Dan itulah yang membuat mereka terus berjuang.
Cinta sebagai Jalan Pulang
Single ini bukan sekadar karya musik, melainkan pernyataan sikap. Di tengah era yang penuh polarisasi, Project Pop memilih untuk tidak ikut meneriakkan kemarahan. Mereka justru menawarkan alternatif yang terdengar naif namun sebetulnya radikal: cinta. “Kalahkan dengan cinta itu bukan berarti kita lemah,” tegas Tika. “Justru sebaliknya. Butuh keberanian luar biasa untuk tetap mencintai ketika dunia seakan mengajarkan kita untuk membenci.”
Bagi para personel, lagu ini juga menjadi semacam katarsis personal. Yosi yang sedang melewati masa sulit dalam hidupnya mengaku menangis setiap kali menyanyikan bagian reff. “Kayak gue sedang nasehatin diri sendiri,” ujarnya lirih. “Bahwa secapek apa pun, sekecewa apa pun, gue nggak boleh berubah jadi orang yang dingin.” Momen seperti inilah yang membuat perjalanan bermusik mereka kali ini terasa begitu mengharukan. Bukan tentang angka penjualan atau piala, melainkan tentang bangkit dari keterpurukan emosional.
Pesan cinta itu tak hanya terucap di lirik, tapi juga terpancar dari cara mereka kembali merajut kebersamaan. Udjo bercerita bahwa selama proses rekaman, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbicara tentang kehidupan masing-masing ketimbang membahas teknis musik. “Kami sadar, bahwa kami bukan cuma sekadar grup musik,” katanya. “Kami adalah sahabat yang disatukan oleh mimpi yang sama: menyebarkan kebaikan, meski sering kali kami sendiri harus berperang dulu dengan ego masing-masing.”
Kini, saat single itu akhirnya mengudara, Project Pop tidak muluk-muluk berharap. Mereka hanya ingin pendengarnya berhenti sejenak dari gulana, lalu merenungkan bahwa di balik setiap keresahan, selalu ada cinta yang bisa menjadi penerang. Sebuah kisah kecil dari lima orang yang memilih melawan sunyi bukan dengan teriakan, melainkan dengan pelukan hangat berbentuk lagu. Dan itu adalah inspirasi yang tak lekang oleh waktu.
Comments (0)