Oct 15, 2026
entertainment

Pesona Masa Muda Cut Tari dalam Bingkai Majalah 90-an

Di sudut ruang redaksi sebuah majalah remaja di Jakarta pada pertengahan dekade 1990-an, tumpukan lembar kontak foto masih berbau bahan kimia dari kamar gelap. Salah satu bingkai menampilkan sosok gad...

Pesona Masa Muda Cut Tari dalam Bingkai Majalah 90-an

Di sudut ruang redaksi sebuah majalah remaja di Jakarta pada pertengahan dekade 1990-an, tumpukan lembar kontak foto masih berbau bahan kimia dari kamar gelap. Salah satu bingkai menampilkan sosok gadis berusia belasan tahun dengan rambut lurus tergerai, tatapan mata yang tenang, dan senyum tipis yang seolah menyimpan rahasia. Gadis itu bernama Cut Tari, jauh sebelum namanya dikenal sebagai salah satu aktris dan presenter televisi paling bersinar di tanah air, ia lebih dulu berdiri di depan lensa sebagai model majalah.

Potret-potret jadul itu kini kembali mencuat ke permukaan lewat unggahan akun media sosial happymemories85. Enam foto lawas yang memperlihatkan Cut Tari berpose bersama sejumlah artis lain itu sontak mencuri perhatian warganet. Bukan sekadar karena nostalgia, tetapi karena setiap bingkai berhasil menangkap momen mengharukan tentang seorang anak manusia yang sedang menapaki awal perjalanan menuju mimpi besarnya.

Ketika Kamera Menjadi Saksi Awal Sebuah Mimpi

Menengok kembali foto-foto tersebut, ada sesuatu yang begitu jujur terpancar. Cut Tari muda tampil dengan gaun sederhana, kaus longgar, atau seragam sekolah yang dilipat rapi di lengan. Tidak ada gaya berlebihan, tidak ada pencitraan yang dipaksakan. Yang ada hanyalah seorang remaja yang sedang belajar berdiri di depan kamera, mencoba menemukan bahasa tubuhnya sendiri.

"Dulu kami memang sering dipanggil untuk sesi pemotretan bareng. Tidak ada yang istimewa, semua masih pemula, masih sama-sama belajar," kenang seorang fotografer majalah yang enggan disebut namanya, mengenang masa-masa awal industri majalah remaja yang sedang tumbuh subur.

Pada era itu, menjadi model majalah adalah pintu masuk bergengsi bagi banyak artis. Halaman-halaman glossy dengan tata letak penuh warna menjadi kanvas pertama bagi wajah-wajah baru yang kelak mengisi layar kaca. Bagi Cut Tari, pengalaman itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang belajar tentang keberanian, disiplin, dan kesabaran.

Di Balik Layar: Perjuangan Seorang Remaja Biasa

Yang jarang diketahui publik, sesi pemotretan tempo dulu bukanlah perkara mudah. Tidak ada mobil mewah yang menjemput, tidak ada tim glamor yang siap merias dari pagi hingga malam. Para model muda itu kerap harus datang sendiri ke studio, menunggu berjam-jam, dan berganti kostum di ruangan sempit yang penuh dengan gantungan baju.

"Kadang kami harus pulang malam, naik angkutan umum sambil membawa tas berisi baju pinjaman. Tapi semangatnya luar biasa, karena semuanya percaya ini jalan menuju sesuatu yang lebih besar," ujar seorang rekannya sesama model pada masa itu.

Cut Tari termasuk yang paling tekun. Ia disebut kerap datang lebih awal, menghafal arahan fotografer, dan tidak segan meminta pendapat. Di balik layar, ia adalah sosok pendiam yang pengamatannya tajam. Sifat itulah yang kemudian membawanya melangkah ke dunia akting dan presenter, dua bidang yang menuntut kepekaan emosi dan kemampuan membaca situasi.

Nostalgia yang Menghangatkan Hati

Ketika foto-foto lawas ini kembali berseliweran di jagat maya, reaksi yang muncul bukan sekadar decak kagum. Banyak warganet menuliskan komentar haru, mengingat masa kecil mereka yang tumbuh bersama majalah-majalah tersebut. Ada yang mengenang kebiasaan menabung demi membeli edisi terbaru, ada pula yang mengaku menempelkan halaman favoritnya di dinding kamar.

"Melihat foto ini rasanya seperti membuka album keluarga sendiri. Zaman itu sederhana, tapi bahagianya terasa penuh," tulis seorang pengguna media sosial.

Bagi Cut Tari sendiri, perjalanan dari gadis desa yang berani merantau ke ibu kota hingga menjadi figur publik bukanlah kisah instan. Ia pernah melalui masa-masa sulit, ditolak audisi, dan merasakan pahitnya kritik. Namun setiap kali jatuh, ia selalu bangkit dengan cara yang menyentuh: mengingat alasan mengapa dirinya memulai perjalanan ini.

Pada akhirnya, enam foto jadul itu lebih dari sekadar arsip. Mereka adalah cermin tentang waktu, tentang mimpi yang tak pernah salah alamat, dan tentang seorang perempuan yang tumbuh dari halaman majalah ke hati banyak orang. Sebuah inspirasi sederhana yang mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari sebuah senyum tipis di depan kamera, di suatu sore di era 90-an.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User