Oct 15, 2026
entertainment

Camino de Flores, Perjalanan Sakral Menyusuri Jantung Nusa Tenggara

Di sudut Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, aroma kopi Flores menguar tipis dari cangkir-cangkir kecil yang tersusun rapi di atas meja. Di bawah lampu gantung yang hangat, sejum...

Camino de Flores, Perjalanan Sakral Menyusuri Jantung Nusa Tenggara

Di sudut Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, aroma kopi Flores menguar tipis dari cangkir-cangkir kecil yang tersusun rapi di atas meja. Di bawah lampu gantung yang hangat, sejumlah orang duduk dengan mata berbinar. Mereka bukan sedang menghadiri rapat biasa. Mereka sedang menyaksikan kelahiran sebuah perjalanan yang menyentuh hati: Camino de Flores, sebuah rute ziarah yang mengajak siapa pun menyusuri jejak kisah, iman, dan keindahan tanah Flores.

"Ini bukan sekadar perjalanan wisata," ujar seorang perempuan paruh baya yang duduk di barisan depan, suaranya pelan namun mantap. "Ini perjalanan pulang ke diri sendiri." Beberapa kepala mengangguk. Di ruangan itu, ada yang datang dari Ende, Maumere, bahkan Ruteng. Mereka membawa cerita masing-masing, membawa kenangan tentang bukit-bukit kering yang berubah hijau saat hujan pertama turun, dan tentang senyum warga desa yang tak pernah pudar.

Menyusuri Jejak yang Menyentuh

Konsep Camino de Flores lahir dari sebuah mimpi sederhana: menghubungkan titik-titik sakral di Flores dalam satu jalur yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Rute ini melintasi gereja-gereja tua, kampung adat, dan puncak-puncak bukit yang menyimpan doa. Setiap langkah, kata mereka yang sudah mencoba, seperti membaca halaman kitab kehidupan.

"Ada momen ketika saya berhenti di depan sebuah kapel kecil di lereng bukit. Tidak ada yang istimewa dari bangunannya. Tapi anginnya, langitnya, dan sunyi itu, membuat saya menangis," kisah Maria, seorang guru dari Surabaya, dengan suara bergetar. "Saya merasa seperti dijemput oleh sesuatu yang lebih besar dari diri saya."

"Flores bukan hanya tempat untuk dilihat. Flores adalah tempat untuk dirasakan. Dan Camino ini adalah cara paling jujur untuk merasakannya."

Perjalanan ini dirancang tidak untuk mengejar target. Tidak ada papan skor, tidak ada perlombaan. Yang ada hanyalah jeda, hening, dan kebersamaan. Para peserta diajak menginap di rumah-rumah warga, makan bersama dari satu meja panjang, dan mendengar cerita-cerita yang jarang tersentuh kamera.

Ketika Langkah Menjadi Doa

Di balik layar, tim penyusun rute menghabiskan berbulan-bulan menyusuri setiap jengkal jalur. Mereka tidur di tenda, berteduh di bawah pohon asam, dan belajar dari para tetua adat. "Kami tidak ingin membuat jalur yang asal jadi. Kami ingin jalur yang menghormati tanah dan penghuninya," ujar seorang anggota tim yang enggan disebut namanya.

Mereka menemukan bahwa di Flores, jalan kaki bukan sekadar cara berpindah tempat. Jalan kaki adalah cara berdoa. Para petani berjalan jauh ke ladang sambil membawa harapan. Anak-anak berjalan berkilo-kilometer ke sekolah sambil membawa mimpi. Dan kini, para peziarah dari berbagai penjuru akan berjalan di jalur yang sama, membawa beban masing-masing, lalu perlahan meletakkannya di setiap tikungan.

"Saya pernah bertemu seorang nenek di sebuah kampung. Ia bertanya, 'Kamu mau ke mana?' Saya bilang saya sedang mencari ketenangan. Ia tersenyum dan berkata, 'Ketenangan itu bukan dicari, Nak. Ia datang kalau kita berhenti sebentar,'" kenang Yosef, seorang pemandu lokal. "Kalimat itu saya bawa sampai sekarang."

Mimpi yang Bangkit dari Bumi Flores

Peluncuran Camino de Flores bukan hanya tentang pariwisata. Ia adalah tentang harapan yang bangkit dari desa-desa kecil. Warga setempat kini membuka homestay sederhana, menjual kopi dan tenun, serta menjadi pemandu yang bercerita dengan mata berbinar. Ekonomi bergerak, tetapi yang lebih penting, harga diri mereka tumbuh.

"Dulu anak saya malu mengaku dari Flores. Sekarang, dia bangga. Dia bilang, 'Mama, tempat kita akan dikunjungi orang dari seluruh dunia'," tutur Yohana, seorang penenun dari Maumere, air matanya menetes. "Itu lebih berharga dari apa pun."

Di ujung acara, semua yang hadir diminta menuliskan satu doa di secarik kertas, lalu menggantungnya di pohon kecil yang disiapkan di sudut ruangan. Kertas-kertas itu bergoyang pelan, seperti bisikan yang tak ingin hilang. Ada doa untuk kesehatan, untuk keluarga, untuk perdamaian. Ada juga doa yang hanya berisi satu kata: terima kasih.

Camino de Flores mengajarkan satu hal yang sering terlupakan: bahwa perjalanan terbaik bukanlah yang paling jauh, melainkan yang paling menyentuh. Dan di tanah Flores, di antara bukit dan doa, setiap langkah adalah kisah. Setiap hening adalah nyanyian. Setiap peziarah, pada akhirnya, akan menemukan sesuatu yang selama ini dicari: dirinya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User