Aug 26, 2026
entertainment

Perjalanan Yura Yunita Menjelma Mahadewi Berbalut Kostum Kolosal di Sabang Merauke

Lampu ruang rias masih redup ketika Yura Yunita duduk tenang di hadapan cermin besar. Dua penjahit berlutut di sekitarnya, merapikan lapisan demi lapisan kain hijau zamrud yang berkilau keemasan di ba...

Perjalanan Yura Yunita Menjelma Mahadewi Berbalut Kostum Kolosal di Sabang Merauke

Lampu ruang rias masih redup ketika Yura Yunita duduk tenang di hadapan cermin besar. Dua penjahit berlutut di sekitarnya, merapikan lapisan demi lapisan kain hijau zamrud yang berkilau keemasan di bawah cahaya bohlam. Kostum itu berat—begitu berat hingga dibutuhkan beberapa orang untuk memasangkannya ke tubuhnya. Namun wajah penyanyi kelahiran Bandung itu justru memancarkan ketenangan, seolah ia sudah lama menanti momen untuk menjelma menjadi sosok yang selama ini hanya hidup dalam cerita rakyat: Mahadewi, penguasa Pantai Selatan.

Malam itu, pagelaran Sabang Merauke tidak sekadar menjadi pentas musik biasa. Ia menjadi panggung tempat kisah-kisah perempuan Nusantara dikisahkan ulang dengan megah. Dan di tengah gemuruh iringan musik serta sorotan lampu, Yura hadir sebagai pusat dari segalanya.

Menjelma Sang Penguasa Pantai Selatan

Tidak mudah bagi Yura memerankan sosok yang begitu sakral dalam khazanah budaya tanah air. Mahadewi bukan sekadar karakter; ia adalah simbol kekuatan, keanggunan, sekaligus misteri laut selatan yang diwariskan turun-temurun. Kostum hijau emas kolosal yang dikenakannya dirancang untuk menghadirkan aura sang penguasa pantai—megah, anggun, namun tetap menyimpan kelembutan.

"Setiap kali kostum ini terpasang di tubuhku, rasanya ada energi lain yang mengalir. Aku tidak lagi hanya Yura. Aku menjadi bagian dari kisah para leluhur," ujarnya di balik layar, suaranya bergetar.

Ia mengisahkan bahwa proses persiapan berlangsung berminggu-minggu. Gerakan tubuh harus dipelajari ulang: cara berdiri, cara melirik, bahkan cara mengatur napas disesuaikan dengan karakter sang dewi. Semua dikerjakan sungguh-sungguh agar penonton nanti tidak melihat Yura Yunita yang biasa membawakan lagu-lagunya, melainkan sosok agung yang layak dihormati.

Kostum itu sendiri merupakan karya cinta. Tim kreatif menghabiskan waktu berbulan-bulan menjahit detail demi detail, menambahkan manik dan sulaman emas yang berkilauan. Setiap helai kain dipilih dengan hati-hati, seolah mereka juga ikut berjuang mewujudkan sebuah mimpi kolektif.

Berjuang di Balik Layar

Di balik kemegahan yang tampak di atas panggung, tersimpan perjuangan yang jarang diketahui publik. Bobot kostum membuat setiap langkah harus dihitung matang. Sesi latihan kerap berlangsung hingga larut malam. Tubuhnya pegal, kakinya lecet tergeser bahan tebal, namun tak satu pun keluhan keluar dari bibirnya.

Bagi Yura, seluruh rasa lelah itu adalah bagian dari perjalanan menuju mimpi.

"Aku ingin anak-anak kecil yang menonton nanti tahu bahwa perempuan Indonesia itu kuat. Bahwa kita bisa anggun sekaligus tangguh," katanya sambil tersenyum sederhana.

Semangat yang sama terasa dari sesama perempuan panggung. Persaudaraan di antara mereka menjadi salah satu momen paling menyentuh di balik layar: saling menata kostum, saling menguatkan sebelum naik, lalu berpelukan erat usai turun. Di tengah dunia hiburan yang kerap sarat kompetisi, kehangatan semacam ini terasa seperti pulang ke rumah.

Malam Ketika Air Mata dan Tepuk Tangan Bersatu

Ketika tirai terbuka dan Yura muncul dalam balutannya, publik seketika terpaku. Sorotan lampu memantulkan warna emas dari setiap lipatan kain, menciptakan ilusi seolah sang dewi benar-benar hadir di tengah mereka. Suara nyanyiannya mengalun lirih lalu meninggi, mengisahkan kebesaran alam dan keelokan perempuan Nusantara.

Tidak sedikit penonton yang tak mampu menahan haru. Beberapa terlihat menyeka air mata ketika lagu mencapai bait terakhir. Tepuk tangan pecah berlangsung lama, bergulir seperti gelombang laut yang tak kenal lelah. Sebuah momen mengharukan yang dikenang semua orang yang hadir.

"Momen itu akan selalu kukenang. Melihat mata penonton yang berkaca-kaca, aku tahu kami berhasil menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertunjukan," ungkapnya usai turun panggung.

Pagelaran itu menjadi bukti bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyatukan. Dari ujung barat hingga timur, dari masa lalu hingga masa kini, kisah para perempuan tangguh terus hidup dan diwariskan. Dan malam itu, Yura Yunita menjadi jembatan yang menghubungkan semuanya—dengan kostum kolosalnya, suaranya, serta ketulusan hatinya.

Ketika lampu akhirnya padam dan keramaian perlahan mereda, Yura kembali duduk di ruang rias yang sama. Kostum megah itu dilepas perlahan, dilipat rapi oleh tim penjahit. Namun sesuatu telah berubah. Malam itu bukan sekadar soal penampilan; ini tentang bangkitnya kebanggaan, tentang inspirasi yang tertanam di ribuan jiwa, dan tentang perempuan sederhana yang berhasil menjelma menjadi legenda—di atas panggung yang sama dengan mimpinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User