Langit Jakarta masih menyisakan semburat jingga ketika ratusan pasang kaki mulai memadati halaman SMAN 21 Jakarta. Sabtu sore itu, bukan sekadar panggung hiburan yang mereka datangi. Ada yang lebih besar: sebuah perayaan perpisahan yang dibungkus dalam kemeriahan bertajuk Pensi Bareng 2026.
Di balik tumpukan sound system dan lampu panggung yang bersiap menyala, seorang gadis berbalut seragam putih abu-abu tampak sibuk mengatur barisan kursi. Namanya Salwa. Ia mengaku sudah tiga bulan terlibat dalam persiapan acara ini. "Tiap pulang sekolah kami rapat, kadang sampai magrib. Capek, tapi seru," ujarnya sambil tersenyum tipis. Baginya, ini bukan kompetisi pamer kekayaan sekolah, melainkan cara angkatannya meninggalkan jejak.
Ketika Musik Bicara Lebih Keras dari Kata
Panggung utama akhirnya menyala tepat pukul lima. Sebuah band sekolah membuka dengan lagu yang membuat penonton ikut bergoyang. Namun bukan hanya riuh tepuk tangan yang hadir malam itu. Di antara kerumunan, beberapa siswa terlihat saling berpegangan tangan, menahan haru karena sadar sebentar lagi mereka akan berpisah.
"Ini pensi terakhir buat kami. Setelah ini, kami sibuk masing-masing," kata Cheline, salah satu panitia yang juga siswa kelas XII. Suaranya sempat bergetar. Ia mengaku sempat menangis saat gladi bersih sehari sebelumnya, membayangkan semua persiapan ini akan selesai dan tinggal menjadi kenangan.
Momen paling mengharukan justru datang dari penampilan akustik sederhana. Seorang siswa membawakan lagu perpisahan, diiringi petikan gitar temannya. Suasana tiba-tiba berubah hening. Beberapa penonton yang tadinya bersorak kini menyeka sudut mata. Di bawah sorot lampu yang temaram, panggung itu seperti menjadi ruang doa bersama tanpa kata.
Di Balik Layar, Ada Air Mata yang Tak Terlihat
Yang tak banyak diketahui orang, persiapan acara ini penuh perjuangan. Panitia sempat gagal mendapatkan sponsor utama dua minggu sebelum acara. Mereka harus mencari dana tambahan dari bazar makanan dan penjualan tiket yang dijajakan dari kelas ke kelas.
"Ada hari di mana kami cuma bisa duduk diam karena bingung cari duit. Tapi kami nggak mau menyerah," kenang Salwa. Ia dan teman-temannya bahkan sempat mengumpulkan kardus bekas untuk dekorasi panggung demi menekan pengeluaran. Perjalanan mereka bukan soal gemerlap panggung, melainkan tentang bagaimana mereka bangkit dari keterbatasan.
Guru pembina OSIS, yang enggan disebut namanya, mengaku bangga melihat kerja keras murid-muridnya. "Mereka belajar banyak hal di sini. Bukan cuma soal acara, tapi soal kerja sama dan tanggung jawab," ujarnya pelan.
Panggung yang Mengajarkan Tentang Perpisahan
Menjelang pukul sembilan malam, acara mulai merangkak ke penghujung. Lagu terakhir dibawakan bersama-sama. Siswa-siswa yang tadinya duduk rapi kini berdiri, mengangkat tangan, dan bernyanyi dengan suara yang tumpah ruah. Ada tangis, ada tawa, ada pelukan yang tak ingin dilepas.
Bagi mereka, Pensi Bareng 2026 bukan hanya sebuah agenda tahunan. Ini adalah cara untuk mengatakan bahwa mereka pernah ada, pernah berjuang bersama, dan akan selalu punya cerita untuk dikenang. "Nanti kalau udah kuliah atau kerja, aku pengin inget malam ini. Malam di mana kami semua masih lengkap," tutur Cheline dengan mata yang mulai memerah.
Ketika lampu panggung akhirnya dimatikan, sebagian siswa masih enggan beranjak. Mereka berdiri di halaman sekolah, memandangi panggung kosong yang tadi menjadi saksi. Malam itu, di sudut kota Jakarta, sebuah perpisahan dirayakan bukan dengan kesedihan, melainkan dengan keberanian untuk melangkah ke babak baru. Dan seperti kata mereka, pensi hanyalah nama acara. Perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Comments (0)