Oct 15, 2026
entertainment

Ketika Rudal Menghantam Bandara Abha: Kisah di Balik Kepanikan Pagi Itu

Pagi itu, Rabu 12 Juni 2019, Bandara Regional Abha di barat daya Arab Saudi baru saja membuka pintunya. Suara mesin pesawat yang tengah melakukan pemanasan, aroma kopi dari kios kecil di sudut termina...

Ketika Rudal Menghantam Bandara Abha: Kisah di Balik Kepanikan Pagi Itu

Pagi itu, Rabu 12 Juni 2019, Bandara Regional Abha di barat daya Arab Saudi baru saja membuka pintunya. Suara mesin pesawat yang tengah melakukan pemanasan, aroma kopi dari kios kecil di sudut terminal, dan langkah para petugas yang bersiap menyambut penerbangan pertama — semuanya berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang menyangka bahwa beberapa menit kemudian, dinding-dinding bandara itu akan bergetar hebat oleh hantaman rudal.

Ledakan pertama terdengar memecah keheningan pagi. Di ruang tunggu, seorang petugas kebersihan yang tengah mengepel lantai tersentak dan menjatuhkan embernya. Air tumpah berhamburan, bercampur dengan teriakan panik penumpang yang berlarian mencari perlindungan. "Saya tidak tahu harus ke mana. Semua orang berlari, semua orang berteriak," kenang seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip dari laporan kantor berita resmi Saudi. Momen yang seharusnya menjadi awal hari yang tenang, berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan detik.

Kerusakan di Ruang Tunggu yang Sederhana

Ketika asap mulai menipis dan debu perlahan mengendap, barulah terlihat betapa besar dampak serangan itu. Langit-langit di salah satu sudut ruang keberangkatan runtuh. Pecahan kaca berserakan di lantai, bercampur dengan serpihan plafon dan kursi-kursi tunggu yang terbalik. Di dinding, terlihat lubang bekas hantaman yang meninggalkan jejak hitam menyerupai luka.

Foto-foto yang dirilis Kantor Berita Saudi Press Agency melalui Associated Press menunjukkan suasana di dalam bandara setelah serangan. Puing-puing berserakan di area yang biasanya ramai oleh penumpang dengan koper dan anak-anak yang berlarian. Beberapa petugas terlihat berjibaku membersihkan reruntuhan, sementara yang lain berdiri mematung menatap kerusakan dengan raut tak percaya.

"Kami hanya ingin melayani penumpang. Tidak pernah terbayang tempat ini akan menjadi sasaran," ujar seorang petugas bandara dengan suara bergetar, seperti dikutip dari laporan resmi.

Serangan yang dilancarkan oleh pemberontak Houthi dari Yaman itu bukan sekadar serangan fisik. Ia menghantam rasa aman yang selama ini dirasakan warga Abha — kota pegunungan yang tenang dan dikenal sebagai destinasi wisata keluarga di Arab Saudi selatan.

Warga yang Berjuang di Tengah Ketidakpastian

Di luar bandara, suasana tidak kalah mencekam. Ambulans dengan sirene menyala berlalu-lalang, sementara petugas keamanan berjaga ketat di setiap sudut. Warga yang tinggal tak jauh dari bandara mengaku mendengar ledakan keras hingga membuat jendela rumah mereka bergetar. Seorang ibu rumah tangga mengisahkan bagaimana ia langsung memeluk anak-anaknya erat-erat saat mendengar suara dahsyat itu.

"Anak saya menangis, bertanya apakah ini perang. Saya tidak punya jawaban. Saya hanya bisa memeluknya dan berdoa," tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Perjuangan mereka sederhana namun menyentuh: bertahan, melindungi keluarga, dan berharap esok masih bisa bangkit.

Otoritas penerbangan Arab Saudi dilaporkan sempat menghentikan sementara aktivitas di bandara untuk memastikan keamanan. Penerbangan dialihkan, penumpang dievakuasi, dan tim darurat bekerja tanpa lelah. Di balik layar, para teknisi dan petugas medis berjibaku memastikan tidak ada korban jiwa yang lebih besar. Meski demikian, luka-luka dan trauma tak bisa dihindari.

Mimpi yang Tetap Tumbuh di Antara Puing

Beberapa hari setelah serangan, bandara kembali dibuka. Namun bekas kerusakan masih terlihat. Para pekerja dengan sigap memperbaiki atap yang bocor, mengganti kaca yang pecah, dan mengecat ulang dinding yang berlubang. Di tengah reruntuhan, semangat untuk bangkit justru tumbuh subur.

Seorang teknisi bandara yang tak ingin disebut namanya mengaku tetap datang bekerja meski hatinya masih diliputi ketakutan. "Bandara ini adalah napas kota kami. Kalau kami berhenti, siapa yang akan membangun kembali?" katanya tegar. Kata-kata itu menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya yang lain, yang memilih bertahan meski bayang-bayang serangan masih menghantui.

Kisah Bandara Abha adalah kisah tentang ketangguhan manusia di tengah konflik yang tak mereka pilih. Tentang petugas yang membersihkan pecahan kaca sambil menahan air mata, tentang penumpang yang kembali terbang meski dengan hati berdebar, dan tentang warga yang berjuang menjaga kehidupan normal di tengah ketidakpastian.

Di sudut ruangan berukuran tidak lebih dari 4x5 meter, seorang petugas keamanan duduk termenung, memandangi foto keluarganya di layar ponsel. "Saya hanya ingin pulang dengan selamat setiap hari," bisiknya. Harapan sederhana yang kini terasa begitu mahal. Serangan itu mungkin meninggalkan luka, tetapi tidak pernah mampu meruntuhkan mimpi untuk kembali hidup damai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User