Aug 25, 2026
entertainment

Overthinking Bukan Satu Hal: Kenali Ruminating dan Worrying

Malam itu, lampu kamar sudah padam, tetapi pikiran Rani justru terang benderang. Ia mengulang lagi percakapan singkat dengan atasannya tadi siang: apakah kalimatnya terdengar terlalu blak-blakan? Meng...

Overthinking Bukan Satu Hal: Kenali Ruminating dan Worrying

Malam itu, lampu kamar sudah padam, tetapi pikiran Rani justru terang benderang. Ia mengulang lagi percakapan singkat dengan atasannya tadi siang: apakah kalimatnya terdengar terlalu blak-blakan? Mengapa reaksi rekan kerjanya tampak datar? Satu jam berlalu, lalu dua, dan tubuhnya tetap terbaring kaku, memutar ulang kejadian yang tak bisa diubah. Banyak orang menyebut kondisi ini dengan satu kata: overthinking. Namun sesungguhnya, kebiasaan berpikir berlebihan itu bukan satu hal yang tunggal.

Para ahli membagi overthinking menjadi dua jenis yang berbeda, yaitu ruminating dan worrying. Keduanya sama-sama melelahkan, tetapi arah, isi, dan cara mengatasinya tidaklah sama. Memahami perbedaan ini bisa menjadi langkah pertama untuk keluar dari lingkaran pikiran yang berputar tanpa henti.

Ruminating: Memutar Ulang Masa Lalu

Ruminating adalah kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan kembali hal-hal yang sudah terjadi. Pikiran jenis ini berputar di sekitar penyesalan, kesalahan, atau momen-momen menyakitkan di masa lampau. Seseorang yang sedang ruminating kerap bertanya pada dirinya sendiri: “Andai tadi aku berkata lain”, “Kenapa aku tidak menyadarinya lebih cepat”, “Apa salahku?”

Bayangkan seperti piringan hitam yang tergores di bagian yang sama; jarumnya terus melompat ke alur itu dan memutar bunyi yang sama berulang-ulang. Semakin lama seseorang bergulat dengan masa lalu, semakin kuat perasaan bersalah dan malu yang menempel. Ruminating sering dikaitkan dengan kondisi suasana hati yang berat, karena pikiran semacam ini tidak mencari solusi, melainkan hanya menghidupkan kembali luka.

Worrying: Cemas Menatap Masa Depan

Berbeda dengan ruminating, worrying mengarahkan pikiran ke masa depan. Ini adalah kekhawatiran tentang hal-hal yang belum terjadi: apakah besok presentasiku lancar, bagaimana jika ditolak, bagaimana kalau gagal lagi. Worrying lahir dari ketidakpastian, dan otak berusaha menyiapkan diri dengan membayangkan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Sedikit kecemasan sebenarnya wajar, bahkan berguna, karena mendorong kita untuk bersiap. Masalahnya muncul ketika kekhawatiran itu berlebihan dan tidak lagi berbanding lurus dengan kenyataan. Seseorang yang terjebak worrying bisa kehilangan energi untuk menikmati hari ini karena seluruh perhatiannya tersedot ke skenario-skenario yang belum tentu terjadi.

Membedakan Dua Arah Pikiran

Cara paling sederhana untuk membedakan keduanya adalah dengan melihat arah waktu. Ruminating menoleh ke belakang, sementara worrying menatap ke depan. Ruminating berbicara tentang penyesalan; worrying berbicara tentang ketakutan. Satu orang bisa saja mengalami keduanya secara bergantian, bahkan dalam satu malam yang sama, seperti yang dialami Rani: menyesali ucapan tadi siang, lalu cemas membayangkan suasana kantor esok hari.

Pertanyaan kunci yang bisa diajukan kepada diri sendiri adalah: “Apakah pikiran ini bisa kuubah?” Jika jawabannya tidak, karena peristiwa sudah lewat, maka itu lebih dekat dengan ruminating. Jika jawabannya belum, karena peristiwanya masih di depan, maka itu lebih dekat dengan worrying. Menamai jenis pikiran ini saja sudah membantu, karena kita tidak lagi berhadapan dengan kabut yang samar, melainkan dengan sesuatu yang bisa dikenali.

Langkah Kecil untuk Bangkit dari Pusaran

Setelah mengenali jenisnya, langkah berikutnya adalah menyikapinya secara berbeda. Untuk ruminating, cobalah membatasi waktu untuk mengingat, lalu secara sadar mengalihkan perhatian ke aktivitas yang melibatkan tubuh, seperti berjalan kaki atau menulis. Untuk worrying, tuliskan kekhawatiran itu di atas kertas dan pisahkan mana yang benar-benar bisa dikendalikan, lalu fokuskan energi hanya pada bagian itu.

Pola pikir berlebihan memang tidak hilang dalam semalam. Namun setiap kali kita berhasil mengenali bahwa pikiran sedang berputar, lalu memilih untuk berhenti sejenak, kita sudah membuat langkah kecil untuk bangkit dari pusarannya. Seperti yang dialami Rani, menyadari bahwa pikirannya hanyalah dua jenis kebisingan yang berbeda sudah cukup untuk membuatnya menarik napas dalam-dalam, menutup mata, dan membiarkan malam itu berlalu dengan damai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User