Aug 25, 2026
entertainment

Gibran Sambangi Posko Gempa NTT, Pelukan Hangat untuk Warga yang Kehilangan Rumah

Pagi itu, halaman SD Inpres LXXVI Wairklau di Kabupaten Sikka bukan tempat anak-anak belajar, melainkan tempat berpulangnya rasa aman yang sempat hilang. Tenda-tenda biru berderet di lapangan, di anta...

Gibran Sambangi Posko Gempa NTT, Pelukan Hangat untuk Warga yang Kehilangan Rumah

Pagi itu, halaman SD Inpres LXXVI Wairklau di Kabupaten Sikka bukan tempat anak-anak belajar, melainkan tempat berpulangnya rasa aman yang sempat hilang. Tenda-tenda biru berderet di lapangan, di antaranya belasan warga duduk bersila, menanti kabar dan uluran tangan. Ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming melangkah masuk pada Kamis (20/8/2026), suasana yang semula hening berubah menjadi hangat. Seorang nenek berkerudung lusuh menggenggam erat tangannya, seolah ingin memindahkan segala lelah yang ia simpan selama berhari-hari di pengungsian.

Gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur meninggalkan duka yang dalam di Wairklau. Rumah-rumah berdinding kayu dan batu runtuh dalam hitungan detik, memaksa ratusan keluarga meninggalkan segala yang mereka miliki. Di posko pengungsian ini, mereka membangun ulang kehidupan dari nol: tidur beralaskan tikar, memasak di dapur darurat, dan mengantre air bersih di bawah terik matahari. Namun di balik keterbatasan itu, senyum masih ditemukan di wajah anak-anak yang berlarian mengejar layangan dari daun kelapa.

Di ruang kelas yang kini beralih fungsi menjadi tempat tidur darurat, papan tulis masih menempel di dinding. Kapur dan penghapus berserakan di lantai, seolah menyimpan kesunyian dari hari-hari ketika bel berbunyi dan anak-anak berebut masuk kelas. Kini papan tulis itu hanya menjadi saksi bisu dari sebuah sekolah yang berubah menjadi rumah bagi puluhan keluarga. Namun bagi warga, kehadiran tempat berlindung ini adalah anugerah yang patut disyukuri.

Momen Mengharukan di Tengah Kepungan Duka

Kedatangan Gibran disambut bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pandangan mata yang bicara. Satu per satu warga mendekat, menceritakan detik-detik ketika bumi bergetar dan atap rumah mereka ambruk. "Kami sempat kehilangan segalanya, tapi tidak kehilangan harapan," tutur seorang ibu yang enggan menyebut nama, sambil mengusap air mata yang jatuh tanpa diminta. Momen itu menjadi salah satu momen mengharukan di balik layar kunjungan yang berlangsung sederhana namun bermakna.

Wapres berkeliling dari satu tenda ke tenda lain, meninjau dapur umum, memeriksa pasokan air bersih, hingga menimang bayi yang tertidur pulas di gendongan ibunya. Ia juga menyempatkan diri duduk di antara para lansia yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan obat. Bukan hanya janji yang ia sampaikan, melainkan juga kehadiran yang membuat warga merasa tidak sendiri. Dalam kesederhanaan itu, terasa bahwa pemimpin datang bukan untuk berfoto, tetapi untuk mendengar.

Perjuangan Warga untuk Bangkit dari Reruntuhan

Di balik tenda pengungsian, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang menyentuh. Pak Yohanes, misalnya, seorang nelayan yang kehilangan perahu sekaligus rumahnya. Kini ia menghabiskan hari-hari membantu tetangga memperbaiki atap darurat. "Selama masih ada laut, saya masih punya cara untuk menghidupi keluarga," katanya dengan suara bergetar namun tegas. Kalimat itu menggambarkan daya tahan warga NTT yang akrab dengan kerasnya alam, tetapi tidak pernah menyerah pada keadaan.

Para perempuan pun memegang peran besar dalam perjalanan pemulihan ini. Mereka bangun sebelum fajar, memasak untuk puluhan jiwa, lalu bergantian menjaga anak-anak di bawah tenda. Di tangan merekalah kehidupan di pengungsian tetap berdenyut. Sementara itu, anak-anak sekolah yang rumahnya rata dengan tanah tetap berharap bisa kembali duduk di bangku kelas. Beberapa di antara mereka bahkan membawa buku pelajaran yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan, sebuah simbol kecil bahwa mimpi tidak ikut runtuh.

Semangat yang Tidak Padam di Tanah Wairklau

Kunjungan Gibran meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar berita. Ia memastikan bantuan logistik, perbaikan tempat tinggal sementara, dan percepatan penanganan bagi warga terdampak menjadi prioritas. Namun yang paling membekas adalah pesan bahwa pemulihan tidak akan selesai hanya dengan tenda dan sembako. Perlu waktu, perlu kesabaran, dan perlu kehadiran yang berkelanjutan agar warga benar-benar bangkit dari keterpurukan.

Saat sore tiba dan rombongan bersiap meninggalkan Wairklau, seorang gadis kecil berlari menyusul, melambaikan tangan dengan senyum lebar. Ia tidak mengerti soal kebijakan atau anggaran, tetapi ia memahami satu hal sederhana: ada orang yang peduli. Di tanah yang baru saja berguncang ini, senyum anak itu menjadi pengingat bahwa dari reruntuhan, selalu ada ruang untuk harapan tumbuh kembali. Perjalanan pemulihan NTT masih panjang, tetapi di posko kecil SD Inpres LXXVI Wairklau, semangat untuk bangkit telah lebih dulu berdiri tegak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User