Our Power, Nyanyian Harapan untuk Palestina dari Musisi Dua Negara
Di sebuah studio kecil yang lampunya temaram di bilangan Jakarta Selatan, denting piano beradu dengan suara petikan gitar akustik. Seseorang bersenandung lirih, matanya menerawang ke kejauhan seakan m...
Di sebuah studio kecil yang lampunya temaram di bilangan Jakarta Selatan, denting piano beradu dengan suara petikan gitar akustik. Seseorang bersenandung lirih, matanya menerawang ke kejauhan seakan melihat langsung ke reruntuhan bangunan di Jalur Gaza. Tangannya sedikit bergetar saat meraih nada tinggi, dan ketika suaranya pecah, seluruh ruangan mendadak hening. Bukan karena kesalahan teknis. Melainkan karena setiap kata yang terlontar berasal dari relung hati yang paling dalam. Di sesi rekaman itu, air mata tak kuasa dibendung oleh beberapa musisi yang hadir. Mereka sedang merekam Our Power, lagu yang lahir dari rasa iba, marah, dan harapan untuk Palestina.
Pertemuan Dua Negeri dalam Satu Frekuensi
Proyek kolaborasi ini mempertemukan para musisi dari Indonesia dan Malaysia yang sebelumnya mungkin tak saling kenal secara personal. Namun, tragedi kemanusiaan yang terus bergulir di tanah Palestina telah menjembatani perbedaan geografis dan budaya. Awalnya, sekelompok kecil musisi di Kuala Lumpur saling bertukar pesan dengan rekan-rekan mereka di Jakarta. Percakapan sederhana yang berisi keprihatinan. "Kita tidak bisa hanya diam," ujar salah satu inisiator dengan suara bergetar. "Kita punya alat musik, kita punya suara. Inilah senjata kita." Dari sanalah benih Our Power mulai disemai.
Proses kreatifnya berlangsung secara hibrida. Beberapa rekaman diambil di studio sederhana milik seorang musisi indie di pinggiran kota, sementara yang lainnya merekam bagian mereka dari kamar tidur yang disulap menjadi ruang kedap suara seadanya. Nada-nada dikirim melalui surel, aransemen dibedah lewat panggilan video tengah malam. Yang menyatukan mereka bukan hanya teknologi, tetapi keyakinan bahwa solidaritas tidak mengenal batas negara. Mereka menuangkan rasa sakit yang mendalam ke dalam melodi yang menyayat, sekaligus menguatkan. "Setiap kali kami mendengar kabar tentang anak-anak yang kehilangan orang tuanya, kami merekam bagian kami dengan perasaan yang sulit dilukiskan," kenang seorang vokalis. "Kadang kami harus berhenti sejenak untuk menenangkan diri."
Lirik yang Lahir dari Reruntuhan
Our Power tidak ditulis sebagai lagu propaganda. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Sebaliknya, liriknya memilih merangkul kegetiran dengan kelembutan. Bait-baitnya mengisahkan tentang seorang ibu yang terus menggenggam tangan anaknya meski langit di atas mereka dihujani bom. Tentang seorang pemuda yang menolak menyerah pada keputusasaan. Tentang kekuatan kolektif yang muncul justru ketika dunia seolah menutup mata.
Seorang penulis lirik bercerita, ia terinspirasi oleh sebuah video pendek yang tersebar di media sosial. Video itu memperlihatkan seorang anak kecil Palestina tersenyum sambil memegang potongan roti yang sudah mengeras. "Saya menangis sepanjang malam setelah melihat itu. Saya berpikir, bagaimana seorang anak bisa sekuat itu? Lalu saya sadar, itulah kekuatan kami sebagai manusia—kemampuan untuk tetap tersenyum di tengah kehancuran," ujarnya. Pesan inilah yang menjadi inti dari lagu tersebut. Bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada balas dendam, melainkan pada keteguhan hati untuk bertahan dan merawat kemanusiaan.
Dari sisi aransemen, lagu ini dibangun dengan fondasi piano yang sendu, kemudian perlahan disusul oleh gesekan biola yang menusuk. Suara latar anak-anak sengaja ditambahkan di bagian akhir sebagai simbol bahwa masa depan Palestina ada pada generasi mudanya. Pemilihan bahasa Inggris untuk judul dan sebagian lirik dilakukan agar pesannya bisa menjangkau pendengar global. Namun, sentuhan melodi Timur Tengah yang diselipkan memberi identitas kuat tentang siapa yang mereka suarakan.
Rekaman yang Penuh Isak Tangis
Momen paling mengharukan terjadi ketika sesi rekaman bagian refrain. Semua musisi yang hadir di studio Jakarta tiba-tiba berdiri dan bergandengan tangan. Mereka bukan sedang berdoa, melainkan mencoba merasakan energi kebersamaan yang ingin ditularkan lewat lagu itu. Seorang pemain biola tak kuasa menahan tangis saat menggesek dawainya. "Saya membayangkan anak-anak itu. Saya merasa sangat kecil dan tidak berdaya, tetapi pada saat yang sama saya merasa kita sedang melakukan sesuatu yang benar," katanya kemudian. Ia sempat meminta waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan rekaman.
Di sisi lain, para musisi di Malaysia juga mengalami pergulatan emosi yang serupa. Salah satu dari mereka menyampaikan bahwa ia rela tidak tidur demi menyelesaikan mixing lagu ini tepat waktu. "Saya ingin lagu ini segera didengar. Setiap detik yang berlalu, ada nyawa yang melayang di Gaza. Saya merasa ini adalah bentuk jihad saya sebagai seniman," ucapnya dengan suara parau. Ia mengaku, ketika pertama kali mendengar hasil final Our Power, ia duduk termenung selama hampir satu jam. Bukan karena bangga, melainkan karena lagu itu membawanya ke dalam doa yang panjang untuk saudara-saudara di Palestina.
Lebih dari Sekadar Nada
Single ini tidak dirilis semata-mata untuk menambah katalog diskografi. Seluruh hasil dari penjualan dan streaming akan disalurkan ke lembaga kemanusiaan yang aktif memberikan bantuan di Palestina. Para musisi sepakat untuk tidak mengambil keuntungan sesen pun. Di balik layar, mereka juga menginisiasi kampanye penggalangan dana yang melibatkan komunitas penggemar musik, kampus, dan sekolah. Setiap pertunjukan amal yang mereka gelar selalu dipadati oleh audiens yang tidak hanya ingin menikmati musik, tetapi juga ingin menyampaikan solidaritas secara langsung.
Perjalanan lagu ini tentu bukan perkara mudah. Ada kritik yang datang dari mereka yang menganggap musik tidak bisa mengubah situasi politik. Namun, para musisi ini percaya bahwa budaya dan kemanusiaan saling terhubung. "Mungkin kita tidak bisa menghentikan perang," aku salah satu gitaris, "tapi kita bisa memastikan bahwa mereka yang terjebak di sana tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kita mendengar mereka. Kita melihat mereka." Matanya berkaca-kaca saat mengucapkan itu, dan tangannya terus memetik gitar seolah setiap nada adalah doa yang dihantarkan lewat udara.
Kisah di balik single Our Power adalah potret bagaimana seni dapat menjadi jembatan antarbangsa. Di tengah dunia yang semakin bising oleh konflik, sekelompok musisi dari dua negara memilih untuk menyelaraskan suara mereka menjadi satu pesan yang jernih: kemanusiaan melampaui sekat wilayah dan politik. Di sudut lain studio yang temaram itu, ketika nada terakhir telah selesai direkam, tidak ada sorak sorai. Hanya ada keheningan panjang yang diisi oleh isak tangis dan kelegaan. Mereka telah melakukan apa yang mereka bisa. Kini, saatnya dunia mendengarkan.
Comments (0)