NIKI Takjub di Prambanan Jazz 2026: Momen Seindah Mimpi
Langit senja di pelataran Candi Prambanan mulai merona jingga, membiaskan siluet candi-candi megah yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun. Di tengah kemegahan itulah, ribuan pasang mata ter...
Langit senja di pelataran Candi Prambanan mulai merona jingga, membiaskan siluet candi-candi megah yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun. Di tengah kemegahan itulah, ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama Prambanan Jazz Festival 2026, menanti kehadiran seorang perempuan muda yang telah melanglang buana dengan suara dan lagu-lagunya. NIKI—penyanyi, penulis lagu, dan produser asal Indonesia yang kini mendunia—berdiri di balik panggung, menarik napas panjang. Malam itu bukanlah sekadar jadwal tur biasa; ini adalah panggung di tanah leluhurnya sendiri, di hadapan candi yang menyimpan sejuta kisah.
Ketika akhirnya ia melangkah ke atas panggung, tepuk tangan membahana. ADA getaran berbeda yang menjalari tubuhnya—campuran antara haru, gugup, dan rasa takjub yang sulit dilukiskan. Sinar lampu sorot menangkap kilau matanya yang berkaca-kaca. Ia tersenyum, menyapa penonton dengan bahasa Indonesia yang fasih namun tetap menyimpan aksen khas masa kecilnya. “Aku nggak percaya bisa ada di sini,” ujarnya lirih, suaranya sedikit bergetar. Malam itu, Prambanan bukan hanya saksi bisu sejarah, melainkan juga saksi dari sebuah mimpi yang menjadi nyata.
Perjalanan Panjang Menuju Pulang
Bagi NIKI, tampil di festival jazz yang digelar di kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini bukan sekadar pencapaian karier. Ini adalah semacam ritual untuk pulang. Lahir dari keluarga Indonesia yang bermigrasi ke luar negeri, ia tumbuh dengan mendengar cerita tentang tanah Jawa, tentang gamelan, tentang aromanya hujan di sawah, tentang candi-candi yang menyimpan misteri. “Setiap kali menulis lagu, ada bagian dari diri saya yang mencari jalan kembali ke akar,” tuturnya dalam sebuah sesi bincang sebelum konser.
Kisahnya memang terentang dari panggung-panggung kecil di Amerika hingga festival-festival besar dunia. Namun, setiap langkah itu menyisakan ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh sambutan dari negeri asal orang tuanya. Maka, ketika manajemennya mengonfirmasi jadwal tampil di Prambanan Jazz, NIKI tak bisa menyembunyikan air mata. Ia langsung menelepon ibunya, dan di ujung sambungan telepon itu, keduanya menangis bersama. “Mama bilang, ini mungkin lebih membahagiakan daripada Grammy,” kenang NIKI, setengah tertawa namun jelas menyimpan keharuan yang dalam.
Di Bawah Bulan, Lagu-Lagu Menyatu dengan Candi
Set itu dibuka dengan intro instrumental yang memadukan denting piano dan petikan gitar, diiringi sorot lampu yang perlahan menyapu relief-relief candi. NIKI muncul dengan gaun panjang bermotif batik kontemporer, rancangan desainer muda Yogyakarta. Penampilannya malam itu terasa begitu personal. Ia tidak hanya menyanyikan lagu, tetapi juga bercerita—tentang proses kreatif, tentang rasa kehilangan, tentang jatuh bangun sebagai perempuan muda di industri musik global. Satu per satu hits seperti “Lowkey” dan “Oceans & Engines” dilantunkan, namun kali ini dengan aransemen yang lebih kaya, diselipkan sentuhan gamelan dan seruling Sunda.
“Aku ingin malam ini jadi jembatan antara apa yang sudah aku pelajari di luar dan apa yang sebenarnya ada di dalam darahku,” ungkapnya sebelum menyanyikan sebuah lagu berbahasa Indonesia yang ia tulis khusus untuk momen tersebut. Penonton terpaku. Banyak yang ikut bersenandung, beberapa terlihat menyeka sudut mata. Di tengah lagu, NIKI berhenti sejenak, memandang ke arah bulan yang mulai naik di balik stupa candi. “Aku nggak mau malam ini berakhir,” bisiknya, dan kata-kata itu seperti merangkum perasaan seluruh yang hadir.
Gelombang Emosi dari Penonton dan Sang Musisi
Di area festival, tak hanya anak muda yang memadati; ada pula keluarga, pasangan, hingga wisatawan mancanegara yang sengaja datang untuk menyaksikan NIKI di latar seikonik ini. Salah seorang penonton, Raka (28), mengaku sudah mengikuti perjalanan NIKI sejak ia merilis EP pertamanya. “Saya merinding. Ini bukan cuma konser, ini kayak perayaan identitas. Dia membuktikan bahwa orang Indonesia bisa dikenal di mana saja, tapi tetap kembali ke sini dengan hati yang penuh,” katanya.
Sementara itu, di backstage setelah pertunjukan usai, NIKI masih tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk timnya satu per satu. “Ini terasa seperti mimpi yang bahkan aku nggak berani mimpikan sebelumnya,” ujarnya dengan suara serak, sebelum akhirnya menambahkan, “Aku rasa, ini baru awal dari perjalanan yang lebih dalam untuk mengenal siapa diriku sebenarnya.”
Malam itu, di kaki Candi Prambanan yang agung, bukan hanya musik yang merayakan keindahan. Ada kisah tentang pulang, tentang bangga menjadi bagian dari akar yang tak terputus, dan tentang seorang perempuan muda yang membuktikan bahwa mimpi tak pernah terlalu besar untuk diwujudkan, selama kita ingat jalan kembali.
Baca juga:
Comments (0)