Aug 25, 2026
Hukum

New York — Mamdani Kaji Pendingin Stasiun Subway Sekaligus Daur Ulang Panas

NEW YORK — Begitu penumpang menuruni tangga menuju peron, udara kota yang sudah pengap berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih brutal. Di banyak stasiun ba

New York — Mamdani Kaji Pendingin Stasiun Subway Sekaligus Daur Ulang Panas

NEW YORK — Begitu penumpang menuruni tangga menuju peron, udara kota yang sudah pengap berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih brutal. Di banyak stasiun bawah tanah New York, suhu musim panas kerap menembus 38 derajat Celsius — bahkan saat langit di permukaan sedang mendung. Keringat menetes sebelum kereta datang. Bagi jutaan warga yang bergantung pada subway setiap hari, ini bukan sekadar ketidaknyamanan musiman; ini adalah realitas yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

Kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern kota itu, muncul upaya serius untuk menjawab pertanyaan yang selama ini hanya menjadi lelucon pahit para komuter: bisakah panas yang mencekik itu justru diubah menjadi sesuatu yang berguna? Wali Kota Zohran Mamdani bersama Kepala Eksekutif Metropolitan Transportation Authority (MTA), Janno Lieber, mengumumkan sebuah studi kelayakan untuk merancang sistem yang dapat membantu mendinginkan stasiun-stasiun subway — sekaligus mengeksplorasi cara menyalurkan limbah panas jaringan kereta bawah tanah itu untuk keperluan lain, seperti memanaskan gedung.

Stasiun yang Berubah Menjadi Ruang Sauna

Masalahnya bukan hal baru. Sebagian besar dari 472 stasiun subway New York dibangun jauh sebelum pendingin udara menjadi standar kenyamanan publik. Ketika musim panas tiba, peron-peron bawah tanah berubah menjadi ruang sauna raksasa. Para pekerja bergelantungan pada kipas angin portabel, sementara penumpang berdesakan mencari titik angin dari terowongan yang dilalui kereta.

Yang membuat situasi kian ironis, gerbong-gerbong kereta modern justru menjadi bagian dari masalah. Pendingin udara di dalam gerbong bekerja dengan membuang panas ke luar — dan "luar" itu berarti langsung ke terowongan dan stasiun. Semakin dingin kabin kereta, semakin panas peron yang dilewatinya. Sebuah lingkaran setan yang sempurna.

"Setiap musim panas, penumpang kami turun ke peron yang terasa seperti ruang sauna. Kita tidak bisa terus menerima ini sebagai sesuatu yang wajar. Studi ini adalah langkah pertama untuk membuktikan bahwa kota sebesar New York mampu memikirkan ulang infrastrukturnya," ujar Mamdani dalam pengumuman tersebut.

Dari Mana Semua Panas Itu Berasal?

Para insinyur transportasi menyebut fenomena ini sebagai akumulasi panas multi-sumber. Rem kereta, motor traksi, peralatan listrik, lampu, hingga tubuh jutaan penumpang — semuanya menyumbang kalori ke dalam sistem bawah tanah yang ventilasinya minim. Ditambah lagi, tanah di sekitar terowongan yang telah berusia lebih dari 120 tahun diyakini telah "jenuh" menyimpan panas, sehingga tak lagi mampu menyerap kelebihan suhu seperti pada masa-masa awal operasional subway.

Perubahan iklim memperburuk segalanya. Gelombang panas yang lebih sering dan lebih ekstrem membuat suhu peron kian berbahaya, terutama bagi lansia, anak-anak, dan pekerja yang harus berada di bawah tanah selama berjam-jam.

Menangkap Panas, Menghangatkan Kota

Gagasan yang dikaji dalam studi kelayakan ini sebenarnya tidak radikal di mata dunia. Di London, proyek Bunhill Energy Centre di kawasan Islington telah bertahun-tahun menangkap panas dari ventilasi jalur Northern line dan menyalurkannya untuk memanaskan lebih dari seribu rumah serta fasilitas publik. Paris dan Stockholm juga telah memanen panas dari sistem metro dan pusat data untuk jaringan pemanas distrik mereka.

Teknologinya relatif mapan: penukar panas dan pompa kalor dipasang pada poros ventilasi atau dinding terowongan, menyerap energi panas yang selama ini terbuang percuma, lalu mengalirkannya ke gedung-gedung di permukaan. Hasilnya ganda — stasiun berpotensi menjadi lebih sejuk, sementara warga di atasnya mendapatkan energi pemanas yang lebih murah dan bersih.

"Panas ini pada dasarnya adalah energi. Selama puluhan tahun kita membiarkannya menguap begitu saja ke terowongan. Jika studi ini membuktikan kelayakannya, kita bisa mendinginkan stasiun sekaligus menghangatkan rumah warga dalam satu napas kebijakan," kata Lieber.

Jalan Panjang dan Mahal di Depan Mata

Namun para pengamat mengingatkan, jalan dari studi menuju kenyataan sangatlah panjang. Infrastruktur subway New York termasuk yang tertua dan paling kompleks di dunia, beroperasi 24 jam tanpa henti. Setiap proyek konstruksi besar berpotensi mengganggu layanan yang menopang denyut ekonomi kota. Pertanyaan pendanaan juga menggantung: MTA masih bergulat dengan kebutuhan perbaikan sinyal, lift, dan rel yang menelan miliaran dolar.

Studi kelayakan ini diharapkan dapat memetakan stasiun-stasiun prioritas untuk uji coba percontohan, memperkirakan biaya instalasi, serta menghitung potensi penghematan energi jangka panjang. Jika berhasil, New York bisa menjadi kota Amerika pertama yang mengubah kutukan panas bawah tanahnya menjadi aset energi.

Bagi para komuter yang setiap sore berdiri di peron dengan kemeja basah kuyup, janji itu mungkin masih terasa jauh. Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya, ada yang akhirnya mencoba menjawab keluhan mereka dengan lebih dari sekadar kipas angin.

[SOCIAL_TWEET]: Stasiun subway New York bak oven saat musim panas 🥵 Kini Wali Kota Mamdani & MTA mengkaji cara mendinginkannya — sekaligus mendaur ulang panasnya jadi energi pemanas gedung. #SubwayNYC #MTA [SOCIAL_TG]: 🚇🔥 Subway New York yang membara bakal didinginkan — dan panasnya didaur ulang! Wali Kota Mamdani & MTA umumkan studi kelayakan sistem pendingin stasiun sekaligus pemanenan limbah panas untuk menghangatkan gedung, seperti yang sudah dilakukan London. Detail lengkap: Beritaseputar.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User