Aug 29, 2026
entertainment

Nadin Amizah Rilis Album Laika yang Ditinggalkan Lewat Pemotretan Penuh Makna

Di sudut studio yang temaram, hanya diterangi cahaya lembut dari lampu pemotretan, Nadin Amizah duduk di antara bayangan dan cahaya. Matanya menatap jauh ke depan, seolah sedang mengobrol dengan sesua...

Nadin Amizah Rilis Album Laika yang Ditinggalkan Lewat Pemotretan Penuh Makna

Di sudut studio yang temaram, hanya diterangi cahaya lembut dari lampu pemotretan, Nadin Amizah duduk di antara bayangan dan cahaya. Matanya menatap jauh ke depan, seolah sedang mengobrol dengan sesuatu yang tak terlihat, sebelum dibekukan menjadi satu per satu bingkai dalam pemotretan album terbarunya, Laika, yang Ditinggalkan. Tidak ada riuh suara, tidak ada terburu-buru. Yang ada hanya hening yang menyimpan ribuan kisah — dan di dalam hening itulah perjalanan paling personal pelantun “Bertaut” ini dimulai.

Pemotretan itu berlangsung sederhana, tetapi setiap detiknya terasa dalam. Di sela-sela bunyi kamera yang berdetak, Nadin tampak tenggelam dalam dunianya sendiri: sesekali tersenyum kecil, sesekali larut dalam lamunan panjang. Wajahnya berganti-ganti antara teduh dan sendu, seperti halaman-halaman lagu yang sedang diisi dengan perasaan. Momen mengharukan itu menjadi pengantar yang pas untuk sebuah album yang mengisahkan kehilangan, kesendirian, dan harapan untuk bangkit kembali.

Setiap arahan dijawab Nadin dengan penghayatan yang nyaris tanpa celah. Ia bergerak pelan, menunduk, lalu menoleh ke arah cahaya — seolah sedang memeluk setiap rasa yang selama ini ia simpan rapat. Di balik lensa, semua orang larut dalam keheningan yang justru paling berbicara. Inilah di balik layar yang jarang terlihat: sebuah proses yang bukan hanya memotret, melainkan juga menyembuhkan.

Kisah Laika, yang Tak Pernah Pulang

Nama Laika bukan nama yang dipilih tanpa alasan. Ia mengingatkan pada seekor anjing yang dikirim ke luar angkasa lebih dari enam dekade lalu, dalam sebuah perjalanan yang tak pernah membawanya pulang. Dari kisah itulah album ini tumbuh: perenungan tentang semua hal yang pernah ditinggalkan — mimpi yang kandas, orang yang pergi, dan bagian-bagian diri yang kadang kita tinggalkan diam-diam tanpa sadar.

“Aku ingin album ini menjadi ruang aman bagi siapa saja yang pernah merasa ditinggalkan,” tutur Nadin di sela pemotretan. “Kadang kita berpikir hanya kita yang merasakan ini. Padahal banyak orang berjuang dengan perasaan yang sama setiap harinya.”

“Berat, tapi aku belajar bahwa dari kehilangan kita bisa tumbuh menjadi versi yang lebih utuh,” ucapnya pelan, dengan senyum yang menyimpan air mata.

Di Balik Layar Pemotretan yang Menyentuh

Suasana yang terbangun di lokasi bukan sekadar profesional, melainkan intim. Setiap properti dan setiap sudut kamera ditata dengan pertimbangan penuh, seolah ingin merangkai kembali pecahan perasaan yang selama ini tersimpan rapi. Dalam beberapa bingkai, Nadin memilih pose sederhana: duduk membelakangi lensa, atau menunduk seolah sedang berdoa untuk hal-hal yang telah berlalu.

Tim yang hadir di lokasi mengaku tersentuh oleh cara Nadin menghayati setiap arahan. Tak jarang ruangan mendadak hening tanpa aba-aba, karena semua orang larut dalam emosi yang ditularkan penyanyi kelahiran 2000 itu. Momen-momen seperti inilah yang membuat hasil pemotretan terasa hidup — bukan sekadar gambar, melainkan jendela kecil menuju isi hati sang musisi.

Lewat proses inilah Nadin seolah berdamai dengan masa lalunya sendiri. Setiap lampu yang menyala dan setiap bayangan yang jatuh menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk merangkul kembali dirinya yang pernah ditinggalkan. Tak ada air mata yang sia-sia di sini; semuanya berubah menjadi energi yang terekam dalam setiap frame.

Pelukan untuk yang Pernah Ditinggalkan

Lebih dari sekadar rangkaian lagu, Laika, yang Ditinggalkan hadir sebagai pelukan hangat bagi siapa saja yang sedang berjuang. Lirik-liriknya ditulis dengan jujur, tanpa hiasan berlebihan, mengalir seperti obrolan larut malam bersama sahabat terdekat. Ada pengakuan, ada air mata, tetapi juga ada janji bahwa esok selalu menawarkan kesempatan baru untuk bangkit.

Bagi Nadin, album ini adalah bentuk paling sederhana dari keberanian: berani mengakui luka, berani membuka kisah, dan berani percaya bahwa kebahagiaan tetap bisa diraih setelah perjalanan yang panjang. “Mudah-mudahan lagu-lagu ini bisa menemani mereka yang sedang sendiri,” ujarnya. “Seperti Laika yang meski tak pernah pulang, kisahnya tetap hidup di hati banyak orang.”

Dengan pemotretan yang menyentuh dan musik yang mengalun lembut, album ini menjadi pengingat bahwa tak ada yang benar-benar ditinggalkan selama masih ada yang mengingat dan mengasihi. Di akhir pemotretan, Nadin tersenyum — tulus, lega, dan penuh syukur. Sebuah babak baru telah dimulai, dan kali ini, ia tidak sendirian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User