Di sebuah ruang pemutaran di jantung Jakarta, Rabu (26/8/2026) sore, lampu perlahan meredup dan layar mulai menyala. Namun sebelum cerita di film Baby Udon bergulir, ada satu momen yang justru paling dinanti: kehadiran Denny Sumargo di hadapan para jurnalis. Pria yang akrab disapa Densu itu duduk tenang, sesekali tersenyum, seolah menyimpan seribu kisah yang siap ia bagikan. Di balik senyum yang hangat itu, tersimpan perjalanan panjang yang tidak pernah ia ceritakan secara gamblang kepada publik.
Press screening dan press conference itu menjadi ruang bagi Denny untuk mengisahkan proses kreatif yang ia lalui bersama tim. Bukan sekadar soal akting di depan kamera, melainkan tentang bagaimana sebuah film lahir dari kerja keras yang sering kali tak terlihat. Dari pemilihan sudut pandang hingga detail kecil di setiap adegan, semua ia jalani dengan penuh kesungguhan. "Banyak yang tidak tahu, di balik layar itu ada air mata dan perjuangan yang tidak terlihat," ujarnya di hadapan para pewarta, dengan nada yang pelan namun tegas.
Perjalanan Menemukan Makna di Balik Peran
Denny mengaku bahwa Baby Udon bukan sekadar proyek film biasa baginya. Ada kedekatan emosional yang membuat ia merasa terpanggil untuk terlibat. Ia bercerita bagaimana proses mendalami karakter membuatnya kembali mengingat masa-masa sulit yang pernah ia alami sebagai atlet basket. Mimpi-mimpi yang dulu ia kejar dengan keringat kini berubah menjadi energi untuk menghidupkan sebuah tokoh di layar lebar.
Dalam momen mengharukan itu, Denny menyampaikan bahwa setiap adegan ia jalani dengan hati. Ia tidak ingin sekadar berakting, melainkan benar-benar merasakan.
"Saya selalu bilang, kalau kita tidak merasakan, penonton juga tidak akan merasakan. Itu prinsip sederhana yang selalu saya pegang,"katanya, membuat suasana ruangan sejenak hening oleh bobot kata-katanya.
Di Balik Layar yang Tidak Pernah Dilihat Penonton
Lebih jauh, Denny mengajak para hadirin untuk melihat sisi lain dari industri film yang jarang tersorot. Ia mengisahkan bagaimana tim produksi berjuang demi menghadirkan cerita yang jujur dan menyentuh. Mulai dari riset panjang, diskusi tak berujung, hingga pengambilan gambar yang menuntut kesabaran ekstra. Semua itu, menurutnya, adalah bagian dari cinta terhadap karya.
Ia juga menyinggung soal kebersamaan yang terbangun di lokasi syuting. Bagi Denny, keluarga besar di balik layar adalah alasan utama mengapa ia tetap bertahan di industri yang penuh tantangan ini. "Kebersamaan itu yang membuat saya bangkit setiap kali lelah," ungkapnya, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Inspirasi, baginya, tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari momen-momen sederhana yang ia temui setiap hari.
Pesan Inspirasi untuk Generasi Muda
Di akhir perbincangan, Denny menyisipkan pesan yang ia harap bisa sampai ke generasi muda yang tengah mengejar mimpi. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak pernah datang secara instan. Perjalanan yang berliku, kegagalan yang menyakitkan, hingga air mata yang jatuh di malam hari adalah bagian tak terpisahkan dari proses menuju puncak.
"Jangan pernah berhenti bermimpi. Tapi ingat, mimpi itu harus dibayar dengan kerja keras dan kejujuran," tuturnya. Pesan itu terasa sederhana, namun menyentuh relung terdalam setiap orang yang hadir. Film Baby Udon, bagi Denny, adalah bukti bahwa kisah yang paling sederhana pun bisa menjadi inspirasi besar jika digarap dengan sepenuh hati. Dan di sore itu, di ruangan yang hangat, Denny Sumargo tidak hanya memperkenalkan sebuah film — ia membagikan sepenggal perjalanan hidup yang menguatkan.
Comments (0)