Aug 25, 2026
entertainment

Multitasking: Antara Ilusi Produktivitas dan Kelelahan Jiwa

Di sudut kafe yang ramai, Dina menatap layar laptop sambil sesekali melirik ponsel yang terus bergetar. Jari-jemarinya menari di antara keyboard dan layar sentuh, berpindah dari surel pekerjaan ke pes...

Multitasking: Antara Ilusi Produktivitas dan Kelelahan Jiwa

Di sudut kafe yang ramai, Dina menatap layar laptop sambil sesekali melirik ponsel yang terus bergetar. Jari-jemarinya menari di antara keyboard dan layar sentuh, berpindah dari surel pekerjaan ke pesan grup keluarga, lalu sejenak membuka aplikasi belanja. Ia tersenyum tipis, bangga bisa menangani semuanya sekaligus. Namun, di balik senyum itu, bahunya terasa kaku dan napasnya sesekali tertahan. Malamnya, ketika suasana sudah senyap, ia terbaring dengan pikiran yang tak kunjung padam.

Ilusi Produktivitas di Balik Layar Ganda

Banyak perempuan modern merasa bahwa kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus adalah keharusan untuk bertahan di dunia yang serba cepat. Iklan lowongan kerja sering mencantumkan frasa "mampu melakukan multitasking" sebagai nilai tambah. Namun, sejumlah riset justru menunjukkan gambaran yang bertolak belakang. Berpindah dari satu tugas ke tugas lain secara konstan tidak membuat kita lebih efisien; otak manusia sejatinya hanya bisa fokus pada satu aktivitas kognitif berat dalam satu waktu. Yang disebut multitasking sebenarnya adalah perpindahan perhatian yang sangat cepat dan melelahkan sumber daya mental.

Pakar neurosains menjelaskan bahwa setiap kali kita beralih dari menulis laporan ke membalas pesan singkat, otak harus melakukan "context switching" yang menguras energi. Akibatnya, kualitas pekerjaan menurun dan waktu penyelesaian justru lebih lama. Alih-alih menjadi andalan, multitasking seringkali menyembunyikan inefisiensi yang terakumulasi.

Dampak Senyap pada Tubuh dan Pikiran

Kelelahan yang dialami Dina bukan sekadar rasa kantuk biasa. Ketika tubuh dipaksa terus-menerus dalam mode siaga, sistem saraf simpatik bekerja tanpa henti. Hormon stres seperti kortisol melonjak, memicu sakit kepala, gangguan pencernaan, dan ketegangan otot yang kronis. Multitasking jangka panjang dapat mengaburkan batas antara pekerjaan dan istirahat, membuat seseorang merasa selalu "on" bahkan saat sudah berada di tempat tidur.

Dari sisi psikologis, budaya serba-serempak ini menyuburkan perasaan tidak pernah cukup. Seseorang mungkin menyelesaikan tiga hal sekaligus, tetapi tetap dihantui daftar tugas lain yang belum tersentuh. Rasa bersalah dan cemas menjadi teman setia, dan lambat laun mengikis kepuasan terhadap pencapaian sendiri. Burnout tidak selalu hadir dalam bentuk kelelahan fisik yang dramatis; seringkali ia menyusup lewat hilangnya gairah pada hal-hal yang dulu dicintai.

Kisah Arini: Bertahan di Tengah Tuntutan

Arini, seorang ibu dua anak yang juga bekerja sebagai manajer pemasaran, sudah puluhan tahun merasa harus bisa menjadi segalanya bagi semua orang. Setiap pagi ia menyiapkan sarapan sambil mendengarkan podcast industri, lalu dalam perjalanan ke kantor membalas pesan klien. Di sela rapat, ia memantau tugas sekolah anak melalui grup kelas. "Saya seperti pemain sirkus yang terus melempar bola, dan satu kesalahan bisa meruntuhkan semuanya," tuturnya lirih.

Puncaknya terjadi ketika Arini mengalami serangan panik di tempat kerja. Tubuhnya gemetar, pandangannya kabur, dan ia merasa seolah-olah dunia berputar terlalu cepat. Setelah berkonsultasi dengan psikolog, ia menyadari bahwa kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus telah mencuri kehadirannya dalam setiap momen. Ia tidak benar-benar mendengarkan anaknya bercerita karena pikirannya masih di kantor; ia juga tidak pernah memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk beristirahat sepenuhnya.

Perlahan, Arini belajar menata ulang prioritas. Ia mulai menerapkan blok waktu tanpa gangguan, mematikan notifikasi, dan yang paling sulit: mengatakan "tidak" pada sebagian permintaan. Proses pemulihannya menunjukkan bahwa menemukan keseimbangan bukan berarti menambah jumlah tugas yang bisa dikerjakan, melainkan mengurangi beban yang tidak perlu. Kini, Arini lebih sering menikmati secangkir teh tanpa disertai layar apa pun—sebuah kemewahan sederhana yang dulu terasa mustahil.

Kisah Arini dan Dina adalah cermin bagi banyak perempuan yang tanpa sadar terperangkap dalam glorifikasi kesibukan. Multitasking mungkin menawarkan janji produktivitas, tetapi harga yang harus dibayar seringkali terlalu mahal: kesehatan mental, kualitas hubungan, dan kemampuan untuk merasakan hidup secara utuh. Sebelum kelelahan berubah menjadi luka yang lebih dalam, mungkin inilah saatnya untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya pada diri sendiri: apakah semua hal benar-benar harus dikerjakan bersamaan?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User