Di sudut dapur mungil berukuran 2x3 meter, uap mengepul dari panci tanah liat. Seorang perempuan separuh baya, dengan gerakan cekatan namun penuh kelembutan, membungkus adonan tempe berbumbu dalam lembaran daun singkong hijau tua. Jemarinya yang mulai keriput seolah menari di antara lipatan daun, mengikatnya dengan tali dari serat nanas. Dia bukan sekadar memasak, melainkan merajut kenangan.
Namanya Mbah Suti, 67 tahun, warga lereng Gunung Merbabu. Sudah lebih dari setengah abad ia mengolah buntil—hidangan tradisional yang kian langka. "Ini bukan sekadar sayur," katanya lirih sambil menyeka keringat. "Setiap gigitan buntil adalah pelukan hangat dari masa kecil saya."
Mengisahkan Jejak Rasa Lintas Generasi
Buntil daun singkong isi tempe adalah warisan kuliner yang menautkan lidah dan hati. Di dapur-dapur pedesaan Jawa, hidangan ini lahir dari kepedulian: para leluhur memanfaatkan setiap jengkal kebun untuk bertahan hidup. Daun singkong yang sering dipandang sebelah mata disulap menjadi wadah alami yang menyerap kuah santan gurih. Isian tempe, kelapa parut, dan rempah menciptakan harmoni rasa yang tak terlupakan.
Mbah Suti mewarisi resep ini dari simbahnya. Dulu, buntil adalah makanan sehari-hari yang menghangatkan keluarga petani. "Waktu saya kecil, kalau pulang sekolah dan mencium aroma buntil dari rumah, rasanya seperti terbang," kenangnya. Kini, di tengah gempuran makanan instan, penganan seperti buntil mulai terpinggirkan. Generasi muda lebih akrab dengan burger ketimbang buntil. Namun di tangan Mbah Suti, api tradisi tetap menyala.
Momen Mengharukan di Balik Sehelai Daun
Proses membuat buntil sebenarnya sederhana, namun sarat makna. Daun singkong direbus sebentar agar lentur, lalu diisi dengan tempe yang dihaluskan bersama kencur, bawang, cabai, dan kelapa muda. Setiap bungkus diikat tali lalu direbus dalam santan berbumbu hingga meresap. Butuh kesabaran, kata Mbah Suti, seperti merawat hubungan dengan alam.
Ada satu cerita yang selalu membuat matanya berkaca-kaca. Saat paceklik melanda tahun 1970-an, Mbah Suti kecil hampir putus asa karena hanya ada sedikit bahan makanan. Ibunya mengambil daun singkong dan tempe sisa, lalu melahirkan buntil dalam porsi kecil. "Ibu saya bilang, 'Ndhuk, selama kita masih bisa memasak, harapan tak akan padam.'" Buntil bukan sekadar mengisi perut, melainkan juga menyalakan semangat.
Kini, setiap kali ia memasak, memori itu kembali. Mbah Suti kerap membagikan buntilnya ke tetangga sekitar, terutama yang sedang kesusahan. "Ini bukan amal. Ini caraku mengingat ibu dan semua perempuan kuat yang mengajari cara bertahan dengan apa adanya."
Inspirasi dari Kesederhanaan
Tak banyak yang tahu, buntil kini mulai dilirik kembali oleh kawula muda yang peduli pada pangan lokal. Sebuah komunitas di Salatiga menjadikan buntil sebagai menu utama dalam gerakan "Slow Food" mereka. Mbah Suti tanpa sengaja menjadi mentor bagi anak-anak muda yang ingin belajar. Setiap akhir pekan, tiga hingga lima anak muda datang ke rumahnya, mencatat resep, merekam proses, bahkan membuat konten media sosial. "Saya tidak mengerti internet itu apa, tapi saya senang anak-anak ini peduli," ujarnya sambil tertawa kecil.
Salah satu anggota komunitas, Dito (24), mengisahkan pertemuannya dengan buntil. "Awalnya saya pikir ini makanan kuno yang membosankan. Tapi begitu mencicipi buatan Mbah Suti, saya menangis. Rasanya seperti pulang ke rumah yang lama hilang." Kini Dito rajin mengajak teman-temannya untuk mengangkat hidangan ini ke kancah yang lebih luas, tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya.
Mbah Suti sendiri tak banyak berharap. Ia hanya ingin anak-cucunya kelak masih bisa merasakan apa yang pernah ia rasakan. "Dunia boleh berubah, tapi rasa sayang yang dimasak dalam buntil akan tetap tinggal," pungkasnya seraya menyodorkan sepiring buntil hangat yang masih mengepul.
Comments (0)