Momen Mistis Brian dan Frislly saat Syuting Film Horor
Di sudut ruangan tradisional berbahan kayu jati tua, hanya diterangi lampu minyak yang berkedip-kedip. Udara dingin malam itu terasa menusuk tulang, namun bukan karena suhu—melainkan karena kehening...
Di sudut ruangan tradisional berbahan kayu jati tua, hanya diterangi lampu minyak yang berkedip-kedip. Udara dingin malam itu terasa menusuk tulang, namun bukan karena suhu—melainkan karena keheningan yang penuh tanya. Di sinilah, di sebuah desa di lereng Gunung Lawu, pasangan aktor Brian dan Frislly Herlind menjalani syuting film Sajen Satu Suro. Apa yang mereka alami di balik layar bukan sekadar akting—melainkan nyata dan menggetarkan jiwa.
Momen Mengharukan di Balik Layar
Syuting dimulai pukul sepuluh malam, sesuai tradisi lokal yang percaya bahwa batas antara alam manusia dan alam gaib menipis pada malam Satu Suro. Frislly, yang memerankan tokoh utama, mengaku merasakan kehadiran tak kasat mata sejak hari pertama. Ada yang menarik ujung kain saya saat saya sedang fokus membaca skrip. Saya pikir itu Brian, tapi dia ada di samping kameramen,
kenangnya dengan suara bergetar. Brian, yang memerankan suami karakter Frislly di film, juga mengalami hal serupa. Suara langkah kaki terdengar dari loteng, padahal tidak ada siapa-siapa di atas. Saya dan Frislly saling berpegangan tangan erat,
ujarnya.
Momen paling mencekam terjadi saat adegan sesajen. Lampu minyak tiba-tiba padam, padahal tidak ada angin. Kru mulai panik, tetapi Brian dengan tenang menyalakan korek dan membaca doa. Di situ saya sadar, kami tidak sendiri. Tapi entah kenapa, setelah itu suasana kembali normal,
kata Frislly. Air mata hampir tumpah saat ia menceritakan bagaimana Brian melindunginya di setiap adegan—bukan sebagai aktor, tetapi sebagai pasangan yang tulus.
Perjalanan Bersama Menghadapi Ketakutan
Pasangan ini sudah bersama selama empat tahun, dan pengalaman mistis ini justru memperkuat ikatan mereka. Saya pikir kami akan berantakan, tapi kenyataannya kami malah semakin dekat. Ketika takut, kami hanya saling memeluk dan mengingatkan bahwa ini hanyalah sementara,
aku Brian. Mereka menjalani ritual-ritual sederhana sebelum syuting: membakar dupa, membaca doa menurut kepercayaan masing-masing, dan selalu mengucap salam saat memasuki lokasi syuting. Frislly, yang berasal dari keluarga Muslim taat, mengaku belajar banyak tentang toleransi dan kearifan lokal dari pengalaman ini. Ini mengajarkan saya untuk menghormati apa yang tidak kelihatan, tanpa kehilangan iman,
tuturnya.
Di tengah kelelahan fisik dan mental, ada satu momen yang tak akan mereka lupakan. Suatu malam, setelah syuting selesai, mereka berjalan kembali ke penginapan melewati pematang sawah. Bulan purnama menyinari jalan setapak. Tiba-tiba, seekor kucing hitam melintas dan mengeong nyaring. Mereka berdua tertawa—lega bahwa ketegangan akhirnya pecah. Itulah indahnya. dalam setiap ketakutan, selalu ada celah untuk canda dan kehangatan,
kata Frislly sambil tersenyum.
Pesan di Balik Layar
Film Sajen Satu Suro bukan sekadar tontonan horor. Di balik cerita seram, ada pesan tentang pentingnya melestarikan tradisi leluhur dan hidup selaras dengan alam. Brian dan Frislly berharap penonton bisa mengambil hikmah dari kisah mereka. Kami tidak ingin menakut-nakuti, tapi mengingatkan bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari diri kita,
ucap Brian. Setiap pengalaman mistis adalah pelajaran tentang kerendahan hati,
tambah Frislly.
Kini, setelah syuting rampung, mereka mengaku lebih peka terhadap energi sekitar. Namun, yang paling berharga adalah kenangan akan perjuangan bersama. Kami berjuang bukan hanya untuk karier, tetapi juga untuk menjaga satu sama lain. Dan di situlah letak kebahagiaan sejati,
pungkas Frislly. Dari sudut ruangan gelap hingga jalan setapak terang bulan, cinta mereka terbukti mampu menembus batas antara mimpi dan kenyataan.
Comments (0)