Sep 02, 2026
entertainment

Kisah di Dapur Kecil: Tongkol Suwir yang Menyatukan Keluarga di Meja Makan

Di sebuah dapur sempit di gang kecil Kota Semarang, Nurul Hidayati selalu memulai paginya dengan asap mengepul dari wajan tua pemberian ibunya. Bukan nasi goreng biasa yang selalu ia masak, melainkan ...

Kisah di Dapur Kecil: Tongkol Suwir yang Menyatukan Keluarga di Meja Makan

Di sebuah dapur sempit di gang kecil Kota Semarang, Nurul Hidayati selalu memulai paginya dengan asap mengepul dari wajan tua pemberian ibunya. Bukan nasi goreng biasa yang selalu ia masak, melainkan sebuah tumisan sederhana yang sudah menjadi ritual setiap minggu: tongkol suwir tumis jamur dan cabai hijau. Bagi Nurul, setiap suapan membawa kenangan—momen-momen kecil yang justru paling berkesan.

"Dulu, waktu suami baru pindah kerja ke Jakarta dan jarang pulang, anak-anak selalu rewel kalau hari Minggu. Saya putuskan untuk masak sesuatu yang spesial, sesuatu yang aromanya saja sudah bikin mereka rindu rumah," kenang Nurul, perempuan 38 tahun itu, sambil memotong daging tongkol dengan tangan terlatih.

Melihat Potongan Ikan Tongkol Segar

Tongkol memang bukan ikan yang mewah. Di pasar tradisional, ikan ini biasa dijual dengan harga terjangkau, sering kali diabaikan oleh ibu-ibu yang lebih memilih tuna atau salmon. Namun siapa sangka, di balik tampilannya yang sederhana, ikan tongkol menyimpan kekayaan nutrisi yang luar biasa. Dagingnya yang putih dan padat justru cocok sekali untuk teknik menyuwir—setiap serat terpisah, menyerap bumbu dengan lebih dalam.

Nurul selalu memilih tongkol yang masih segar di pasar Beringharjo. Matanya yang sudah terbiasa bertahun-tahun memilih ikan tahu persis mana yang bagus. "Lihat insangnya, harus merah segar. Kalau sudah pucat, berarti sudah lama di-display. Saya selalu datang pagi-pagi, sebelum matahari naik," katanya.

Proses Menyuwir yang Penuh Kesabaran

Proses menyuwir ikan tongkol memang butuh kesabaran ekstra. Setelah dikukus atau direbus hingga matang, Nurul menunggu sebentar hingga ikan agak hangat, lalu dengan kedua tangannya ia pilah-pilah daging menjadi serat-serat halus. Ini bukan pekerjaan instan. Butuh waktu hampir dua puluh menit untuk satu kilogram ikan tongkol. Namun di situlah letak keistimewaannya—setiap helai yang ditarik perlahan membawa ketelatenan seorang ibu.

"Dulu anak sulung saya pernah coba bantu menyuwir. Malah hancur semua. Sekarang dia sudah mahir, bahkan kadang dia yang masak untuk adiknya," ucap Nurul dengan senyum bangga yang sulit disembunyikan.

Perpaduan Jamur dan Cabai Hijau yang Harmonis

Yang membuat resep ini berbeda dari tumisan tongkol biasa adalah kehadiran jamur. Nurul menggunakan jamur kancing atau jamur tiram—terserah apa yang tersedia di kulkas hari itu. Jamur memberikan tekstur kenyal yang kontras dengan lembutnya daging ikan suwir. Ditambah cabai hijau besar yang diiris serong, warnanya jadi begitu menggugah selera.

>

"Cabai hijau itu bukan cuma buat pedas. Dia kasih rasa segar yang menyeimbangkan. Tanpa dia, rasa tumisan terasa hambar meski bumbu sudah banyak," jelas Nurul sambil menunjukkan irisan cabai hijaunya yang rapi.

Mengapa Resep Ini Layak Dicoba

Selain rasanya yang lezat dan sederhana, tumisan ini juga menawarkan manfaat gizi yang lengkap. Tongkol kaya akan protein dan asam lemak omega-3 yang baik untuk otak dan jantung. Jamur menambah serat dan mineral, sementara cabai hijau menyuplai vitamin C. Dalam satu piring saja, keluarga sudah mendapatkan tiga kelompok gizi sekaligus. Bagi Nurul, itu bukan sekadar perhitungan nutrisi—itu adalah cara ia menyatakan sayang tanpa harus mengatakannya.

Di meja makan yang hanya cukup untuk empat orang itu, setiap Minggu pagi selalu terasa berbeda. Piring-piring disusun rapih, nasi hangat menguap, dan tumisan tongkol suwir menjadi bintang yang selalu ditunggu. Anak-anak yang dulu masih kecil kini sudah remaja, tapi tidak satu pun yang pernah absen makan bersama di meja itu.

Kadang, menurut Nurul, resep terbaik bukan yang ada di buku tebal atau chef ternama. Resep terbaik adalah yang tumbuh dari kebiasaan kecil, yang diwariskan tanpa sadar, dan yang membuat seseorang merasa pulang—bahkan sebelum ia sampai di rumah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User