Minions dan Monsters Puncaki Box Office, Tapi Jauh dari Prediksi
Di sebuah bioskop tua di pinggiran kota, lampu baru saja menyala. Puluhan anak kecil berlarian ke lorong, masih memegang popcorn sisa, sementara orang tua mereka saling melempar tatapan campur aduk an...
Di sebuah bioskop tua di pinggiran kota, lampu baru saja menyala. Puluhan anak kecil berlarian ke lorong, masih memegang popcorn sisa, sementara orang tua mereka saling melempar tatapan campur aduk antara puas dan sedikit kecewa. Satu ibu muda berkata pada temannya, "Seru sih, cuma kok rasanya kurang wow ya, kirain bakal lebih ramai." Adegan kecil itu barangkali mewakili apa yang baru saja terjadi di panggung box office Amerika Utara akhir pekan ini: dua film animasi raksasa, Minions dan Monsters, berhasil merebut takhta teratas, namun perolehan finansial mereka melangkah di bawah bayang-bayang ekspektasi para analis industri.
Puncak yang Kurang Meriah
Dua kekuatan besar dari studio animasi yang berbeda itu secara bersamaan membuka akhir pekan dengan gemilang—setidaknya di atas kertas. Minions, yang melanjutkan petualangan para makhluk kuning kocak dalam format prekuel terbaru, mencatatkan pendapatan sekitar 72 juta dolar AS dari lebih dari 4.200 layar. Sementara itu, Monsters—sebuah film orisinal tentang monster yang bersahabat dengan anak-anak di dunia bawah tanah—mengikuti di posisi kedua dengan meraup 63 juta dolar AS. Keduanya memang menduduki posisi pertama dan kedua, namun proyeksi awal berkisar di angka 90-100 juta dolar untuk masing-masing film. Melencengnya angka ini memunculkan pertanyaan besar: ada apa dengan animasi besar tahun ini?
Ekspektasi yang Mungkin Terlalu Tinggi
Sejak pandemi mereda, box office telah menyaksikan beberapa kejutan: film seperti Barbie atau Oppenheimer melampaui target, sementara sekuel-sekuel animasi justru kerap berjuang keras menjaga momentum. Minions, yang sebelumnya meroket berkat fenomena #GentleMinions di TikTok pada 2022, diharapkan bisa mengulangi keajaiban yang sama. Namun, tren budaya yang cepat bergerak membuat momentum itu tidak lagi relevan. "Viralitas itu sulit diprediksi dan lebih sulit lagi diciptakan kembali," ujar Mariana Townsend, analis box office dari Exhibitor Metrics. "Penonton muda kini mencari sesuatu yang lebih segar—kejutan visual atau cerita yang lebih gelap, dan kedua film ini menawarkan formula yang relatif aman."
Sementara itu, Monsters menghadapi tantangan lain: sebagai properti orisinal di tengah gempuran sekuel dan reboot, ia tak punya basis penggemar bawaan sekuat Minions. Meskipun mendapat ulasan positif dari kritikus—dengan skor 82% di Rotten Tomatoes—kesadaran penonton awam ternyata tidak terbangun sekuat yang diharapkan. "Orang bilang 'nanti aja nontonnya', dan saat itu terjadi, box office pembukaan langsung terpukul," tambah Townsend.
Biaya Produksi dan Harapan yang Belum Tercapai
Di balik layar, tekanan sesungguhnya berasal dari besarnya ongkos produksi. Minions menelan biaya sekitar 140 juta dolar AS, sementara Monsters bahkan lebih mahal—sekitar 170 juta dolar AS, belum termasuk belanja pemasaran global yang bisa mencapai setengah dari angka produksi. Dengan debut seperti ini, jalan menuju profitabilitas akan lebih panjang dan sangat bergantung pada kinerja di pasar internasional serta penjualan tiket di minggu-minggu berikutnya. "Ini bukan bencana, tapi alarm," kata Ben Hardjo, pengamat industri hiburan dari Los Angeles. "Studio harus berhitung ulang: apakah model big-budget animation masih bisa bertahan di era di mana penonton punya begitu banyak pilihan di platform streaming?"
Beberapa pihak menyoroti perubahan kebiasaan menonton pasca-pandemi. Keluarga—segmen inti kedua film ini—kini lebih selektif. Harga tiket yang meningkat, ditambah tekanan ekonomi, membuat banyak orang memilih satu film saja dalam sebulan, bukan dua atau tiga seperti sebelumnya. "Kami cuma bisa ajak anak nonton sekali sebulan, jadi harus milih yang benar-benar memorable," ujar Dian, seorang ibu dua anak yang ditemui di Jakarta saat membeli tiket streaming untuk film lain. Tren serupa juga terjadi di Amerika, di mana survei dari National Association of Theatre Owners menunjukkan frekuensi kunjungan bioskop keluarga masih 22% di bawah level 2019.
Harapan di Tengah Kekecewaan
Meski jauh dari target awal, bukan berarti cerita ini berakhir suram. Angka penjualan global yang baru masuk mulai menunjukkan titik terang: Minions meraup tambahan 85 juta dolar dari 60 pasar internasional, sementara Monsters mengumpulkan 45 juta dolar di 40 wilayah. Di beberapa negara Asia dan Amerika Latin, kedua film tampil lebih kuat dari dugaan. "Ini membuktikan bahwa daya tarik animasi universal masih ada," kata Hardjo. "Hanya saja ekspektasi domestik perlu disesuaikan."
Yang lebih penting, kedua film meninggalkan warisan yang berbeda. Minions, dengan segala kekonyolannya, kembali membuktikan bahwa karakter-karakter ciptaan Illumination tetap dicintai anak-anak. Sementara Monsters, meski debutnya redup, diyakini akan memiliki ekor yang panjang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut—selama studio sabar menjaganya tetap beredar dan tidak buru-buru memindahkannya ke layanan streaming. Sejarah menunjukkan, film orisinal sering kali butuh waktu lebih lama untuk menemukan audiensnya, dan di era kelimpahan konten ini, kesabaran adalah kunci.
Saat si ibu muda di bioskop tadi berjalan keluar sambil menggandeng putranya yang masih tertawa mengingat adegan lucu, mungkin ia tak terlalu peduli dengan angka-angka. Yang ia lihat hanyalah mata putranya yang berbinar selama 90 menit. Dan bagi studio, di balik semua target dan neraca keuangan, menciptakan kebahagiaan sederhana seperti itu mungkin adalah keberhasilan yang sesungguhnya—sekaligus pengingat bahwa tidak semua kesuksesan bisa diukur dengan angka pembukaan semata.
Baca juga:
Comments (0)