Oct 15, 2026
entertainment

Mimpi Intan Paramaditha Menembus Panggung Sastra Dunia

Di sebuah meja kerja yang penuh tumpukan buku dan catatan kecil, Intan Paramaditha pernah menuliskan kalimat-kalimat yang ia ragu akan dibaca siapa pun. Malam-malam panjang di kota New York, jauh dari...

Mimpi Intan Paramaditha Menembus Panggung Sastra Dunia

Di sebuah meja kerja yang penuh tumpukan buku dan catatan kecil, Intan Paramaditha pernah menuliskan kalimat-kalimat yang ia ragu akan dibaca siapa pun. Malam-malam panjang di kota New York, jauh dari rumah, ia mengisahkan ketakutan, kemarahan, dan mimpi perempuan-perempuan yang jarang diberi ruang dalam cerita. Kini, Night of a Thousand Hells, novel yang lahir dari kegelisahan itu, mencatatkan namanya dalam daftar bergengsi National Book Award 2026.

Bagi banyak orang, pengumuman itu hanya satu baris berita. Namun bagi Intan, ini adalah momen mengharukan yang mengingatkannya pada perjalanan panjang penuh air mata, keraguan, dan keberanian untuk tetap menulis meski suaranya sering dianggap terlalu berisik.

Dari Kamar Sederhana ke Panggung Dunia

Intan bukan nama yang tiba-tiba muncul. Ia telah lama berjuang di dunia sastra, menerbitkan karya-karya yang menggabungkan horor, mitos, dan kritik sosial. Namun Night of a Thousand Hells memiliki tempat istimewa. Novel ini mengisahkan perempuan-perempuan yang berhadapan dengan kekerasan, baik yang kasat mata maupun yang tersembunyi di balik norma sehari-hari.

“Saya menulis ini bukan untuk membuat orang nyaman,” ujar Intan dalam sebuah wawancara, dikutip dari percakapan yang ia bagikan kepada sejumlah media. “Saya menulis karena ada banyak perempuan yang tidak pernah didengar. Jika cerita ini membuat satu orang merasa tidak sendirian, itu sudah cukup.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh. Di balik layar, Intan mengakui proses menulis novel ini tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan ingatan-ingatan pribadi, luka lama, dan pertanyaan apakah dunia siap menerima cerita sejujur ini.

Suara yang Tak Lagi Bisa Dibungkam

Masuknya Night of a Thousand Hells dalam daftar National Book Award 2026 bukan sekadar pengakuan atas kualitas sastra. Ini adalah penanda bahwa kisah-kisah dari pinggiran, dari perempuan yang berjuang, dari mimpi yang hampir padam, layak mendapatkan panggung terbesar.

Sejumlah pengamat sastra menyebut novel ini sebagai karya yang berani. Namun bagi Intan, keberanian bukan berarti tanpa rasa takut. Ia mengisahkan bahwa dirinya sering bangun tengah malam, merasa tulisannya terlalu gelap, terlalu aneh, terlalu berbeda. Tetapi setiap kali ia membaca kembali kisah-kisah yang ia tulis, ia teringat alasan ia memulai semuanya.

“Ada malam-malam saya menangis sambil mengetik,” kenangnya. “Bukan karena sedih, tapi karena saya akhirnya bisa mengatakan apa yang selama ini saya pendam. Itu melegakan.”

Inspirasi bagi Generasi Penulis Baru

Kabar ini juga menjadi inspirasi bagi banyak penulis muda Indonesia. Mereka melihat Intan sebagai bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis. Dari kamar sederhana di Indonesia, dari perpustakaan kecil, dari catatan-catatan di ponsel, seorang penulis bisa bangkit dan menyentuh dunia.

Intan sendiri tidak ingin pencapaian ini hanya tentang dirinya. Ia berharap semakin banyak perempuan, terutama dari Asia Tenggara, yang berani menuliskan kisah mereka tanpa rasa takut dianggap terlalu berlebihan.

“Jangan tunggu diizinkan,” pesannya. “Tulis saja. Dunia mungkin belum siap, tapi ceritamu berhak ada.”

Di sudut ruangan tempatnya menulis, masih ada tumpukan kertas dan cangkir kopi yang sudah dingin. Namun kini, di luar sana, nama Intan Paramaditha bergema di panggung sastra internasional. Sebuah perjalanan panjang yang mengajarkan bahwa kisah paling menyentuh sering kali lahir dari luka yang paling dalam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User