Merawat Jajan Pasar Lampung di Pesenggiri Festival 2026

Hiruk-pikuk riang bocah-bocah berseragam batik memenuhi pelataran Gedung Serba Guna Lampung akhir pekan lalu. Mereka berkerumun di depan meja panjang bambu, mata berbinar menatap jajaran kudapan warna...

Jul 12, 2026 - 17:36
0 0

Hiruk-pikuk riang bocah-bocah berseragam batik memenuhi pelataran Gedung Serba Guna Lampung akhir pekan lalu. Mereka berkerumun di depan meja panjang bambu, mata berbinar menatap jajaran kudapan warna-warni: lepat bugis hijau, kue lapis pelangi, hingga seruit legit yang disajikan dalam takir daun pisang. Seorang nenek berambut perak dengan cekatan membimbing jemari kecil membungkus ketan dalam daun pandan, sesekali tersenyum melihat keantusiasan mereka. Inilah potret hangat dari Pesenggiri Festival 2026, sebuah perayaan yang bukan sekadar panggung pameran, melainkan nyawa baru bagi tradisi jajan pasar Lampung yang nyaris terlupakan.

Sosok Oma Lanny Rustan, Maestro Kuliner Tradisional

Di sudut stan yang dipenuhi anyaman tikar purun, Oma Lanny Rustan berdiri dengan tangan penuh adonan. Namanya tak asing di kalangan pegiat kuliner tradisional Bandar Lampung. Perempuan 67 tahun itu telah menghabiskan lebih dari empat dekade menjaga resep-resep tua warisan nenek moyangnya. Ia mengaku belajar membuat kue langsung dari sang ibu, yang mewariskan catatan resep di atas kertas lontar dan daun lontar bertulis aksara Lampung. "Saya masih ingat, dulu ibu saya selalu bilang, kalau mau bikin jajan pasar, hatinya harus bersih. Karena rasa kue itu tergantung suasana hati pembuatnya," kenang Oma Lanny dengan mata berkaca-kaca.

Baginya, setiap kudapan punya cerita. Lepat bugis, misalnya, adalah simbol rasa syukur dalam upacara adat panen. Sementara seruit, kue dari tepung beras ketan yang dibakar dalam buluh bambu, adalah bekal para leluhur saat berburu di hutan. Di era modern, jajan ini kalah populer dibanding camilan kemasan. Melalui Pesenggiri Festival, Oma Lanny ingin generasi muda tak hanya mengenal, tetapi juga jatuh cinta pada cita rasa autentik yang sarat nilai budaya. "Saya tidak ingin cucu-cucu kita hanya tahu donat dan croissant. Mereka harus tahu bahwa Lampung punya kue yang tak kalah enak dan penuh makna," tegasnya, sembari menyodorkan sepotong kue lapis legit buatannya yang harum rempah.

Kolaborasi PT Gunung Madu Plantations: Dukungan bagi Warisan Budaya

Pesenggiri Festival 2026 tak hanya menjadi panggung bagi Oma Lanny seorang. Di belakang layar, dukungan signifikan mengalir dari PT Gunung Madu Plantations (GMP), perusahaan perkebunan tebu yang selama ini dikenal sebagai salah satu pilar ekonomi di Lampung Tengah. Perusahaan itu memutuskan untuk terjun langsung dalam upaya pelestarian kuliner tradisional dengan menjadi mitra utama festival. Menurut Head of CSR PT GMP, keterlibatan ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga ekosistem budaya yang sejalan dengan keberlanjutan sosial masyarakat sekitar.

Tak hanya mendanai, PT GMP juga membuka akses bagi para perajin kue rumahan untuk mendapatkan bahan baku berkualitas—seperti gula aren dari kebun plasma binaan mereka—dengan harga yang lebih terjangkau. "Banyak pembuat jajan pasar yang mengeluhkan harga gula aren murni yang semakin mahal. Kami coba jembatani dengan mengalokasikan sebagian produksi untuk mereka, agar cita rasa asli jajan itu bisa terus dipertahankan," ungkap perwakilan perusahaan yang enggan disebut namanya. Langkah ini disambut haru oleh para maestro seperti Oma Lanny, yang selama ini kesulitan mendapatkan bahan baku otentik di tengah gempuran produk instan.

Pesenggiri Festival 2026: Panggung Pelestarian Jajan Pasar

Rangkaian Pesenggiri Festival 2026 dirancang sebagai ruang interaktif yang menghidupkan kembali seluruh proses pembuatan jajan pasar. Pengunjung tak cuma bisa mencicipi, tetapi juga belajar meracik adonan, membungkus dengan daun pisang, hingga memasak dengan tungku tradisional. Panitia menghadirkan lebih dari 30 stan yang seluruhnya didedikasikan untuk jajan-jajan khas dari berbagai kabupaten di Lampung. Ada kue engkak dari Pesisir Barat, kumbu dari Way Kanan, hingga wajik ketan dari Tulang Bawang yang nyaris punah karena generasi mudanya lebih memilih bekerja di kota.

Di salah satu sudut, tampak sekelompok mahasiswa Universitas Lampung tengah asyik mewawancarai para pembuat kue untuk proyek dokumentasi digital. Mereka berencana mengunggah semua resep dan cerita di balik setiap kudapan ke platform daring agar bisa diakses oleh siapa saja, bahkan di luar Lampung. "Ini bukan sekadar kue, tapi identitas kami sebagai orang Lampung. Kalau kami tidak peduli, siapa lagi yang akan merawatnya?" ujar Dina, salah satu mahasiswa, penuh semangat.

Festival yang berlangsung selama tiga hari itu sukses menyedot lebih dari lima ribu pengunjung. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa jajan pasar tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat, asalkan dikemas dengan cara yang relevan dan melibatkan banyak pihak. Bagi Oma Lanny Rustan, keramaian itu adalah kado terindah di usia senjanya. "Saya hanya ingin warisan ini tidak berhenti di generasi saya. Melihat anak-anak kecil begitu semangat belajar, air mata saya rasanya ingin menetes," kata Oma Lanny dengan suara bergetar. Di tengah derasnya arus modernisasi, Pesenggiri Festival 2026 hadir sebagai pengingat bahwa warisan kuliner adalah harta tak ternilai yang patut dirawat bersama, dari tangan seorang nenek, perusahaan besar, hingga generasi penerus yang siap menyambut estafet budaya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User