Oct 12, 2026
entertainment

Menyanyikan Kenangan: Jingle Iklan yang Tak Pernah Lekang

Di ruang tamu sebuah rumah sederhana di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, sore itu terasa lengang. Sinar matahari yang miring masuk melalui celah gorden menyapu sebuah televisi tabung berusia belasa...

Menyanyikan Kenangan: Jingle Iklan yang Tak Pernah Lekang

Di ruang tamu sebuah rumah sederhana di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, sore itu terasa lengang. Sinar matahari yang miring masuk melalui celah gorden menyapu sebuah televisi tabung berusia belasan tahun. Di depannya, Rina—perempuan 48 tahun—tiba-tiba berhenti menyapu. Bibirnya bergerak sendiri. "Indomie... seleraku..." gumamnya lirih, sebelum tawa kecil lolos dari mulutnya. Ia tidak sedang menonton televisi. Ia hanya mendengar nada dering ponsel anaknya. Namun telinganya sudah terlanjur akrab dengan rangkaian nada itu.

Fenomena semacam ini bukan hal aneh bagi siapa pun yang tumbuh besar bersama televisi era 1990-an hingga 2000-an. Sejumlah jingle iklan lawas ternyata menempel begitu kuat dalam ingatan kolektif, melebihi kemampuan manusia mengingat nomor telepon atau tanggal penting. Ia muncul tiba-tiba, tanpa diundang, dan sering kali memaksa pemiliknya untuk sekadar bergumam atau bersenandung kecil.

"Saya kadang malu sendiri," ujar Rina, mengenang momen ketika ia tanpa sadar menyanyikan jingle sebuah produk mi instan di depan rekan-rekan kerjanya. "Tapi teman-teman saya juga ikut nyanyi. Akhirnya kami tertawa bersama. Rasanya seperti membuka album foto lama yang tidak pernah kami buka."

Ketika Nada Menjadi Bahasa Emosi

Psikolog musik dari sebuah universitas di Jakarta, Dr. Anindya Prasasti, menjelaskan bahwa jingle iklan bekerja bukan sekadar melalui pengulangan. Ia menempel karena dipasangkan dengan emosi tertentu saat pertama kali didengar. "Otak manusia menyimpan melodi dan memori emosional di wilayah yang berdekatan. Jadi ketika nada itu kembali terdengar, yang terpanggil bukan hanya ingatan, tetapi juga perasaan pada saat itu," jelasnya.

Itulah sebabnya, bagi banyak orang, jingle lawas bukan sekadar potongan audio. Ia adalah pintu masuk ke masa kecil: sore hari menunggu acara kartun, aroma masakan ibu di dapur, atau perdebatan kecil dengan saudara soal siapa yang memegang remote televisi.

"Saya tidak sekadar hafal lagunya. Saya hafal bagaimana rasanya duduk di lantai, menunggu iklan selesai, sambil berharap acara favorit saya segera dimulai," kenang Dimas, 35 tahun, seorang pekerja kreatif di Yogyakarta.

Perjalanan dari Layar Kaca ke Panggung Digital

Di era media sosial, jingle-jingle lawas menemukan hidup baru. Berbagai unggahan yang mengumpulkan iklan-iklan lama dari kanal video kerap menuai ribuan komentar. Banyak warganet mengaku datang bukan untuk menonton, melainkan untuk bernostalgia bersama. "Rasanya ingin nangis, tapi juga senang. Aneh, ya?" tulis seorang pengguna, mewakili perasaan yang sulit dijelaskan.

Fenomena ini menarik perhatian sejumlah pembuat konten muda. Mereka mengaransemen ulang jingle tersebut dengan gaya musik terkini, lalu menyandingkannya dengan rekaman asli. Hasilnya, dua generasi berbeda duduk bersama di kolom komentar, saling bertukar cerita tentang iklan yang sama namun dengan kenangan yang berbeda.

"Yang membuat saya kagum, anak-anak muda sekarang ikut hafal, padahal mereka tidak pernah mengalami zamannya," kata Sari, seorang guru musik di Bandung. Ia bahkan menggunakan jingle iklan lawas sebagai bahan ajar untuk menjelaskan konsep melodi yang mudah diingat. "Murid-murid saya langsung bersemangat. Mereka bilang, ini lagu yang tidak bisa dilupakan," tambahnya sambil tertawa.

Napak Tilas yang Tak Pernah Usai

Bagi sebagian orang, jingle iklan lawas juga menjadi penanda perubahan zaman. Beberapa produk yang dulu akrab di telinga kini telah berganti wajah, berhenti diproduksi, atau berubah strategi pemasaran. Namun nadanya tetap tinggal, seperti fosil yang terawetkan dalam lapisan ingatan.

Rina akhirnya melanjutkan menyapunya. Namun ia masih tersenyum. Ia lalu bercerita tentang almarhum ibunya, yang dulu selalu menyanyikan jingle sabun mandi favorit mereka setiap kali memandikan Rina kecil. "Sekarang setiap saya dengar lagu itu, saya seperti mendengar suara ibu. Itu bukan sekadar iklan bagi saya. Itu suara rumah," ujarnya pelan, matanya menerawang.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan iklan modern yang datang serta pergi dalam hitungan detik, jingle-jingle lawas itu bertahan dengan cara mereka sendiri. Bukan karena dipaksakan, tetapi karena telah menjadi bagian dari keseharian, perayaan kecil, dan kenangan yang dirawat diam-diam.

Mungkin itulah alasan mengapa bibir kita bergerak sendiri setiap kali nada itu terdengar. Bukan karena kita diminta mengingat, tetapi karena hati kita menolak melupakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User