Di sudut ruangan berukuran 4x3 meter itu, Rizky Pratama masih setia menatap layar laptopnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, tetapi matanya belum juga mengantuk. Ia baru saja menuntaskan satu episode Dragon Ball Super yang menampilkan sosok Beerus, Dewa Kehancuran dari Alam Semesta 7. "Setiap kali Beerus muncul, saya selalu ingat masa kecil saya," ujarnya lirih, sembari tersenyum. "Dia bukan sekadar karakter antagonis. Dia seperti teman lama yang mengajarkan saya arti bersabar."
Bagi banyak penggemar di Indonesia, kehadiran Beerus dalam waralaba Dragon Ball Super bukanlah sekadar fenomena tontonan biasa. Karakter kucing ungu pemakan makanan lezat itu telah menjadi bagian dari perjalanan emosional mereka. Kini, seluruh episode Dragon Ball Super dapat disaksikan kembali melalui platform streaming Vidio, membuka ruang nostalgia bagi generasi yang tumbuh besar bersama Goku dan kawan-kawan.
Dari Layar Kecil ke Ruang Hati
Perkenalan pertama Beerus terjadi lewat film Battle of Gods yang kemudian diadaptasi menjadi arc pembuka serial Dragon Ball Super. Sosoknya digambarkan sebagai dewa berwibawa namun kekanak-kanakan, terutama saat berhadapan dengan puding atau sushi. Sifat kontradiktif inilah yang membuatnya begitu dicintai. Ia bisa menghancurkan planet dalam sekejap, tetapi juga bisa tertidur pulas selama puluhan tahun hanya karena bosan.
"Yang membuat saya jatuh cinta pada Beerus adalah sisi manusianya," kata Dinda Ayu, seorang ilustrator asal Bandung yang aktif menggambar fan art Dragon Ball. "Dia powerful, tapi juga punya kelemahan. Dia egois, tapi bisa tulus. Itu sangat manusiawi." Dinda mengaku telah membuat lebih dari 50 karya ilustrasi Beerus sejak 2017, sebagian besar ia unggah ke media sosial dan mendapat respons hangat dari komunitas penggemar lintas negara.
Perjalanan Seorang Dewa dan Pelajaran Kesabaran
Dalam serialnya, Beerus digambarkan sebagai dewa yang tugasnya menjaga keseimbangan alam semesta. Meski identik dengan kehancuran, ia sebenarnya memiliki rasa hormat terhadap mereka yang berani melawannya. Pertarungannya melawan Goku dalam wujud Super Saiyan God menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Dragon Ball. Di balik aksi baku hantam itu, tersimpan pesan tentang perjuangan tanpa henti dan keberanian menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dari diri sendiri.
Kisah itu rupanya bukan hanya milik Goku. Di berbagai komunitas penggemar di Indonesia, cerita tentang Beerus sering dijadikan bahan refleksi. Ada yang mengaitkannya dengan perjuangan menyelesaikan kuliah, ada pula yang menganggapnya sebagai simbol bangkit dari kegagalan. "Saya pernah gagal ujian dua kali. Setiap kali ingin menyerah, saya ingat bagaimana Goku terus berlatih meski tahu Beerus jauh lebih kuat," kenang Fajar, mahasiswa asal Surabaya. "Kedengarannya berlebihan, tapi itu nyata buat saya."
Ruang Nostalgia di Era Streaming
Kehadiran Dragon Ball Super di Vidio menjadi angin segar bagi penggemar yang ingin bernostalgia tanpa harus mencari cakram DVD bajakan seperti dulu. Platform legal ini memudahkan siapa saja untuk menonton ulang episode-episode favorit, termasuk arc Beerus yang menjadi titik awal kebangkitan waralaba tersebut. Bagi sebagian orang, menonton ulang bukan sekadar hiburan, melainkan semacam ritual melepas rindu.
"Dulu saya nonton pakai VCD pinjaman dari saudara. Sekarang tinggal buka aplikasi, langsung bisa streaming. Rasanya beda, tapi tetap menyenangkan," ujar Rizky, yang kini mengajak anaknya ikut menonton. Ia berharap generasi berikutnya juga bisa merasakan pesan yang sama: bahwa kekuatan sejati bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan soal keberanian untuk terus berjuang.
Di balik animasi penuh warna dan pertarungan spektakuler, Beerus mengingatkan kita pada satu hal sederhana: bahkan seorang dewa pun bisa jatuh hati pada hal-hal kecil, seperti sepiring makanan lezat atau seorang saingan yang tak pernah menyerah. Dan bagi para penggemarnya di Indonesia, kisah itu akan selalu punya tempat tersendiri—di antara tawa, air mata, dan mimpi yang tak pernah padam.
Comments (0)