Di sebuah ruangan gelap sebuah bioskop di Jakarta, layar menyala menampilkan sosok pria tua yang duduk termenung di beranda rumahnya. Wajahnya keriput, tangannya menggenggam cangkul yang sudah berkarat. Adegan itu berlangsung hampir satu menit tanpa dialog, hanya suara jangkrik dan angin malam yang mengisi keheningan. Penonton di barisan ketiga tampak mengusap matanya. Lobang Buaya memang tidak membuka ceritanya dengan ledakan atau darah, melainkan dengan kesunyian seorang manusia yang sedang menunggu sesuatu yang tidak ia mengerti.
Film terbaru Hanung Bramantyo ini telah memicu perdebatan panjang sejak poster pertamanya dirilis. Namun, jika kita menyingkirkan kebisingan opini di media sosial, ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu ditanyakan: mengapa seorang sutradara yang sudah puluhan tahun berkarya memilih bercerita tentang 309 hari sebelum sebuah tragedi berdarah? Bukan tentang tragedi itu sendiri, bukan tentang korban atau pahlawan, melainkan tentang hari-hari biasa yang justru menyimpan bibit kehancuran.
Ketika Sejarah Berbicara Lewat Dapur Rumah
Alih-alih menghadirkan adegan pertempuran atau rapat-rapat politik yang menegangkan, Hanung justru mengajak penonton masuk ke dapur-dapur rumah warga. Di sana, seorang ibu mengaduk sayur di kuali besar sambil mendengarkan radio yang mengabarkan situasi politik yang semakin memanas. Di sudut lain, seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya mengapa tetangga mereka tidak lagi saling menyapa. Sang ayah hanya diam, lalu mengalihkan pembicaraan ke soal panen jagung yang gagal.
"Saya ingin penonton merasakan bahwa tragedi besar tidak pernah dimulai dari satu malam. Ia dibangun dari ribuan malam yang kita abaikan," ujar Hanung dalam sebuah sesi diskusi setelah pemutaran perdana.
Pendekatan ini membuat Lobang Buaya terasa berbeda dari film-film sejarah lain yang cenderung heroik. Hanung tidak sedang membangun monumen, ia sedang membuka album keluarga yang sudah lama tersimpan di lemari berdebu. Setiap adegan terasa seperti kenangan yang enggan dibicarakan, tetapi selalu hadir dalam mimpi.
Air Mata yang Tidak Ditampilkan
Yang paling menyentuh dari film ini justru bukan adegan tangis. Sebaliknya, Hanung memilih untuk menyembunyikan air mata di balik pintu yang tertutup, di balik punggung yang berbalik, atau di balik tangan yang menutupi wajah. Dalam satu adegan, seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu sambil memandangi jalanan yang lengang. Ia tidak menangis, tetapi bahunya bergetar. Kamera hanya menangkap punggungnya selama sepuluh detik. Penonton dipaksa merasakan apa yang tidak terlihat.
"Saya belajar dari nenek saya. Beliau selalu bilang, orang yang paling menderita itu bukan yang menangis paling keras, tapi yang diam paling lama," kenang Hanung dengan suara pelan.
Pilihan artistik ini mungkin membuat sebagian penonton merasa film ini terlalu lambat. Namun, di situlah kekuatannya. Lobang Buaya tidak berbicara tentang peristiwa, melainkan tentang perasaan yang mengendap selama bertahun-tahun. Ia berbicara tentang rasa bersalah yang tidak pernah diucapkan, tentang tetangga yang tiba-tiba hilang tanpa pamit, tentang sumur-sumur yang ditutup dengan papan kayu karena takut anak-anak menemukan sesuatu di dalamnya.
309 Hari yang Mengubah Segalanya
Angka 309 hari dalam judul film ini bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah metafora tentang proses kehancuran yang berjalan perlahan. Dalam rentang itu, Hanung memperlihatkan bagaimana kebencian tumbuh dari hal-hal kecil: bisik-bisik di pasar, tatapan curiga di pos ronda, hingga selebaran gelap yang ditempel di tiang listrik. Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, tetapi semua orang merasa berhak melanjutkan.
Seorang tokoh dalam film, Pak Harjo, mengisahkan bagaimana ia pernah bersumpah tidak akan pernah memihak. Namun, ketika anaknya dipukul oleh pemuda dari kampung sebelah, sumpah itu runtuh dalam hitungan detik. "Saya bukan pahlawan, saya cuma bapak yang tidak bisa lagi menahan marah," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Di sinilah Hanung menunjukkan kepiawaiannya. Ia tidak menghakimi tokoh-tokohnya. Ia hanya duduk bersama mereka, mendengarkan alasan-alasan yang sering kali terdengar dangkal, dan membiarkan penonton memutuskan sendiri siapa yang salah. Film ini tidak memberi jawaban, ia hanya mengajukan pertanyaan yang membuat kita tidak nyaman.
Menjelang akhir, layar kembali menampilkan pria tua di beranda. Kali ini, ia tidak sendiri. Seorang anak kecil duduk di sampingnya, memegang cangkul yang sama. Tidak ada dialog, hanya senyum tipis yang mengembang di wajah keduanya. Mungkin itulah pesan yang ingin Hanung sampaikan: bahwa di balik 309 hari yang kelam, selalu ada hari ke-310 yang menunggu untuk ditulis ulang. Dan itulah yang membuat Lobang Buaya bukan sekadar film tentang masa lalu, melainkan tentang kita hari ini.
Comments (0)