Di sebuah ruangan kedap suara yang hanya diterangi lampu dimmer, seorang pria berdiri membelakangi kamera. Tubuhnya tegang, napasnya berat. Sutradara berteriak "action", dan pria itu berbalik perlahan—wajahnya pucat, matanya menatap kosong. Adegan itu bukan sekadar akting. Bagi Donny Damara, momen tersebut adalah pintu masuk ke dunia yang selama puluhan tahun ia hindari: horor.
Aktor senior yang dikenal lewat peran-peran dramatis dan humanis ini akhirnya menerima tantangan yang datang tak terduga. Film Dendam Arwah Penari menjadi debut pertamanya di genre yang selama ini dianggapnya bukan wilayahnya. "Saya sempat berpikir, apa mungkin saya bisa menakut-nakuti orang? Selama ini saya lebih sering membuat mereka menangis," ujarnya sambil tertawa kecil, mengisahkan awal mula keterlibatannya dalam proyek tersebut.
Ketakutan yang Justru Menjadi Bahan Bakar
Bagi Donny, horor bukan tentang hantu yang melompat dari balik pintu. Ia melihat genre ini sebagai ruang untuk mengeksplorasi sisi gelap manusia—rasa bersalah, dendam, dan luka yang tak pernah sembuh. Namun, ia tak menyangkal bahwa ada ketakutan tersendiri saat harus membangun atmosfer mencekam di depan kamera.
"Setiap kali syuting adegan malam, ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Bukan karena ceritanya, tapi karena saya harus benar-benar masuk ke dalam pikiran yang penuh amarah dan sakit hati," tuturnya. Ia mengaku butuh waktu lama untuk keluar dari karakter tersebut setelah syuting usai. "Saya harus mendengarkan musik yang ceria, menelfon keluarga, hanya untuk mengembalikan suasana hati."
Tantangan terbesar, menurut Donny, bukanlah adegan jumpscare atau efek visual. Justru bagian paling sulit adalah menjaga intensitas emosi saat karakternya dihantui masa lalu. "Di film horor, ketegangan harus dibangun perlahan. Tidak bisa langsung meledak. Saya belajar untuk menahan diri, memberi ruang bagi penonton untuk merasa tidak nyaman sebelum akhirnya terkejut," jelasnya.
Di Balik Layar: Air Mata dan Proses Panjang
Proses reading script menjadi momen yang paling mengharukan bagi Donny. Saat itu, ia dan tim produksi duduk melingkar, membaca ulang naskah dari awal hingga akhir. Ada satu adegan di mana karakternya harus merelakan sosok yang paling ia cintai. Tanpa diduga, suara Donny bergetar. Ia menahan air mata.
"Saya tidak menyangka akan seemosional itu. Mungkin karena saya juga seorang ayah, seorang suami. Rasa kehilangan itu nyata," kenangnya. Sejak saat itu, ia tahu bahwa film ini bukan sekadar hiburan. Ada pesan tentang pentingnya melepaskan dendam sebelum ia menghancurkan diri sendiri.
Selama proses syuting yang berlangsung hampir dua bulan, Donny banyak belajar dari sutradara dan tim efek khusus. Ia mengaku kagum pada detail yang diperhatikan—mulai dari pencahayaan, tata rias, hingga suara detak jantung yang direkam terpisah. "Saya seperti anak kecil yang baru masuk sekolah. Semua hal terasa baru dan menantang," ujarnya.
Harapan Baru di Usia yang Tak Lagi Muda
Donny Damara tak ingin debut horornya dianggap sebagai lompatan yang aneh. Baginya, seorang aktor harus berani keluar dari zona nyaman. Ia ingin membuktikan bahwa label "aktor drama" tidak membatasi dirinya. "Saya ingin terus belajar. Kalau ada yang bilang saya terlalu tua untuk mencoba hal baru, justru itu yang membuat saya semakin bersemangat," tegasnya.
Ia berharap penonton tidak hanya datang untuk mencari ketakutan, tetapi juga merenungkan pesan di balik cerita. "Film horor yang baik adalah yang membuat kita bertanya-tanya tentang diri sendiri setelah keluar dari bioskop. Apakah kita punya dendam yang belum selesai? Apakah kita sudah memaafkan?" katanya.
Di usia yang tak lagi muda, Donny membuktikan bahwa mimpi dan keberanian tidak pernah punya batas waktu. Dendam Arwah Penari mungkin menjadi awal dari perjalanan barunya, atau justru satu-satunya. Namun baginya, satu hal yang pasti: ia telah melawan ketakutannya sendiri, di depan kamera, tanpa bantuan pemeran pengganti. Dan itu adalah kemenangan yang menyentuh.
Comments (0)