Oct 15, 2026
entertainment

Memaknai Sejahtera di Mata Generasi Z

Di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota Yogyakarta, Rania, 23 tahun, menyeruput kopinya perlahan. Matanya menerawang ke arah layar laptop yang menampilkan puluhan lamaran kerja yang belum juga berbal...

Memaknai Sejahtera di Mata Generasi Z

Di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota Yogyakarta, Rania, 23 tahun, menyeruput kopinya perlahan. Matanya menerawang ke arah layar laptop yang menampilkan puluhan lamaran kerja yang belum juga berbalas. Ia mengisahkan perjalanan enam bulan terakhir setelah menyandang gelar sarjana. "Awalnya saya pikir sejahtera itu berarti punya pekerjaan tetap, gaji besar, dan rumah sendiri. Ternyata mimpi itu terasa jauh sekali," ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan mesin espresso.

Kisah Rania bukanlah cerita tunggal. Di berbagai kota, anak-anak muda dari generasi Z tengah bergulat dengan pertanyaan mendasar yang jarang diajukan generasi sebelumnya: apa sebenarnya arti sejahtera? Bagi orang tua mereka, sejahtera kerap diukur dengan angka—gaji, tabungan, aset. Namun bagi generasi yang tumbuh bersama internet, definisi itu terasa terlalu sempit, bahkan menyesatkan.

Ketika Angka Tak Lagi Cukup

Sejumlah survei dan diskusi publik belakangan menunjukkan pergeseran cara pandang ini. Banyak anak muda kini menilai kesejahteraan bukan semata soal materi, melainkan menyangkut kesehatan mental, waktu luang, dan relasi yang sehat. Mereka menakar sejahtera dari seberapa utuh diri mereka merasa, bukan dari seberapa penuh rekening mereka.

"Dulu saya kerja keras sampai lupa makan, tapi tiap malam menangis. Sekarang gaji saya lebih kecil, tetapi saya bisa tidur nyenyak," kata Bayu, 25 tahun, seorang pekerja kreatif yang memilih pindah dari perusahaan besar ke studio kecil. Pengakuannya menyentuh banyak teman sebayanya yang merasa terjebak dalam perlombaan yang tiada ujung.

"Sejahtera itu sederhana saja, sebenarnya. Saya merasa kaya ketika masih bisa bangun pagi tanpa cemas berlebihan."

Kalimat Bayu itu menjadi semacam penanda zaman. Ada air mata yang pernah tertahan, ada mimpi yang harus direvisi, ada harapan yang tak mau mati begitu saja. Generasi ini tumbuh dalam gempuran citra kesuksesan instan di media sosial—rumah mewah, perjalanan jauh, karier cemerlang. Namun di balik layar, banyak dari mereka justru belajar untuk bangkit dari perbandingan yang melelahkan.

Perjuangan yang Tak Terlihat

Di balik sorotan gemerlap, ada jurang yang tak terlihat. Banyak anak muda bekerja serabutan, berpindah dari satu kontrak ke kontrak lain, tanpa jaminan yang jelas. Mereka adalah pekerja gig, penulis lepas, desainer, hingga kurir paket. Pendapatan mereka tak menentu, tetapi semangat untuk bertahan justru jadi kekuatan tersendiri.

Sari, 24 tahun, menjalani tiga pekerjaan sekaligus demi membiayai kuliah adiknya. Ia mengisahkan bagaimana ia harus menahan kantuk dan rasa lelah. "Saya pernah pingsan di jalan karena kurang tidur. Tapi saat adik saya bilang dia bangga, semua rasa sakit itu hilang," tuturnya, matanya berkaca-kaca. Bagi Sari, sejahtera berarti mampu membuat orang yang ia cintai tersenyum.

Pandangan semacam ini membuat para pengamat sosial menilai bahwa generasi Z tengah mendefinisikan ulang makna kesejahteraan secara lebih manusiawi. Bukan soal siapa yang paling cepat kaya, tetapi siapa yang mampu menjaga kewarasan dan kebahagiaan sederhana di tengah ketidakpastian.

Merawat Harapan yang Sederhana

Di ruang belajar komunitas di Bandung, beberapa mahasiswa menggelar diskusi rutin soal kesehatan mental dan keuangan. Di antara mereka, Arif, 22 tahun, berbagi cerita tentang kegagalannya membangun usaha. "Saya pernah bangkrut, utang menumpuk, dan hampir menyerah. Yang menyelamatkan saya adalah teman-teman yang tak pernah berhenti menyemangati," katanya.

Kisah perjalanan Arif menunjukkan sisi lain kesejahteraan: dukungan sosial. Ia lalu mendirikan kelompok kecil yang saling berbagi beban dan harapan. Bagi mereka, kaya bukan hanya soal isi dompet, melainkan tentang siapa saja yang siap menemani saat jatuh.

Menyentuh memang, ketika generasi muda yang kerap dianggap lemah justru menunjukkan ketangguhan luar biasa. Mereka tak menuntut kemewahan, hanya ingin hidup yang layak dan bermakna. Ada inspirasi dalam kesederhanaan cara mereka merawat mimpi, meski badai ekonomi dan tekanan sosial terus menghantam.

Pada akhirnya, pertanyaan soal kesejahteraan bagi generasi Z bukanlah sebuah titik akhir, melainkan proses panjang untuk mengenal diri sendiri. Rania, kini telah menemukan pekerjaan pertamanya di sebuah lembaga nirlaba. Gajinya kecil, tapi ia merasa punya tujuan. "Saya mungkin belum sejahtera menurut ukuran orang lain, tapi saya sedang berjuang menuju versi sejahtera milik saya sendiri," tuturnya, senyumnya tipis namun mantap.

Di sudut-sudut kota, ribuan kisah serupa terus mengalir—kisah tentang air mata yang berubah menjadi kekuatan, tentang kegagalan yang melahirkan kebijaksanaan. Mereka, generasi yang dianggap rapuh, perlahan mengajarkan kita bahwa sejahtera tak selalu soal memiliki, tetapi juga soal mensyukuri dan bangkit setiap hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User