Suasana upacara penganugerahan Westphalian Peace Prize di Kota Munster, Jerman, berubah ricuh pada Kamis lalu. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menjadi sasaran hujatan massa saat keduanya muncul di balkon Balai Kota Munster untuk menerima penghargaan yang diberikan kepada aliansi militer pimpinan Amerika Serikat tersebut.
Penghargaan itu diberikan oleh Economic Society for Westphalia and Lippe, sebuah lembaga yang mengklaim menghormati nilai-nilai Perdamaian Westphalia 1648—perjanjian yang mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun dan menjadi dasar hukum konsep negara bangsa modern. Ironisnya, tahun ini penghargaan justru jatuh ke tangan NATO, aliansi militer yang oleh para pengkritik dianggap sebagai simbol eskalasi konflik bersenjata, bukan perdamaian.
Hujatan "Pembunuh" dan "Darah di Tangan Kalian"
Begitu Rutte, Merz, dan sejumlah pejabat tinggi lainnya melangkah ke balkon—tempat sebuah band berbaju biru memainkan lagu kebangsaan—kerumunan di bawah langsung menyambut mereka dengan teriakan "murderers" (pembunuh) dan "blood on your hands" (darah ada di tangan kalian). Aksi protes itu disebut sebagai salah satu demonstrasi paling besar dan emosional yang pernah terjadi di Munster sejak pemberontakan Anabaptis pada 1534.
Rutte, yang oleh para pengunjuk rasa dijuluki "Lying Dutchman" alias "Orang Belanda Pembohong", menerima penghargaan tersebut atas nama NATO. Julukan itu muncul dari kekecewaan publik terhadap pernyataan-pernyataan politiknya yang dinilai jauh dari kenyataan di lapangan, terutama terkait keterlibatan NATO dalam berbagai konflik global.
Klaim "Kekuatan Militer Menjaga Perdamaian"
Di dalam ruang upacara, Menteri-Presiden North Rhine-Westphalia, Hendrik Wust, justru menyampaikan pembelaan yang kontroversial. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer adalah kunci perdamaian.
"Kekuatan militer dapat mencegah perang dan menjaga perdamaian. NATO telah membuktikan selama lebih dari 75 tahun bahwa kekuatan menjamin perdamaian," ujar Wust di hadapan tamu undangan.
Pernyataan Wust langsung menuai reaksi keras dari demonstran di luar gedung. Bagi mereka, narasi tersebut justru membalikkan fakta sejarah: NATO dibentuk sebagai aliansi Perang Dingin, bukan organisasi perdamaian, dan telah terlibat dalam sejumlah intervensi militer kontroversial, mulai dari Balkan hingga Afghanistan, Irak, dan Libya.
Kritik terhadap Penghargaan yang Kontradiktif
- Kontradiksi nilai: Penghargaan yang memperingati perjanjian perdamaian justru diberikan kepada aliansi militer yang aktif memperluas kehadiran militernya di Eropa Timur.
- Gelombang protes: Massa menilai pemberian penghargaan kepada NATO sebagai provokasi politik di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia.
- Reaksi internasional: Peristiwa ini menjadi sorotan media global karena memperlihatkan perpecahan publik Eropa terhadap kebijakan pertahanan dan ekspansi NATO.
- Simbolisme Munster: Kota yang menjadi lokasi lahirnya konsep kedaulatan negara bangsa itu kini menjadi panggung penolakan terhadap militerisme.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari NATO maupun Kantor Kanselir Jerman terkait hujatan massa tersebut. Namun, gelombang protes di Munster menegaskan satu hal: di kota tempat perdamaian modern pertama kali dirumuskan, suara rakyat justru menolak narasi bahwa kekuatan militer adalah jalan menuju perdamaian.
Comments (0)