Di sebuah ruang latihan berukuran tak lebih luas dari kamar kos, lima orang pemuda duduk melingkar di lantai kayu yang sudah tergores sana-sini. Di antara mereka tergeletak sebuah gitar akustik, satu set drum elektrik yang kabelnya semrawut, dan tumpukan kertas berisi coretan lirik. Salah satu kertas bertanggal dua tahun silam. Kertas itu nyaris kuning di tepinya, tapi masih tersimpan rapi, tidak pernah dibuang.
Malam itu, tepat 12 Oktober, MARBLES akhirnya melepas EP perdana bertajuk nama mereka sendiri. Lima lagu berdiri di dalamnya. Salah satunya, Tak Ingin Pulang, dipercaya sebagai single andalan. Tapi ada cerita panjang di balik lima lagu yang kini bisa didengar siapa saja itu.
Lagu yang Lahir dari Malam-Malam Panjang
Seorang personel MARBLES mengisahkan, materi EP ini bukan hasil kerja kilat beberapa minggu sebelum perilisan. Ia menyebut prosesnya sudah dimulai sekitar dua tahun lalu, ketika band ini masih sering tampil di panggung kecil dengan penonton yang bisa dihitung jari. Setiap pulang dari manggung, mereka berkumpul lagi, merekam ide-ide mentah di ponsel, lalu mengembangkannya pelan-pelan.
"Banyak lagu yang lahir jam dua pagi. Kami ngantuk, tapi tetap ngotot nyelesaiin. Kalau ditanya kenapa lama, ya karena kami nggak mau buru-buru," tuturnya mengenang, dengan suara yang sesekali tertahan. Ada masa ketika mereka hampir menyerah. Seorang anggota sempat harus bekerja sampingan untuk membiayai kebutuhan rekaman.
"Ada momen kami cuma bisa duduk diam, nggak punya apa-apa selain lagu yang belum jadi. Tapi justru dari situ kami belajar bersabar."
Kesabaran itu berbuah. Lagu demi lagu disusun, dibongkar lagi, diubah aransemennya, lalu digabungkan kembali. Beberapa kali mereka merasa sudah selesai, tapi esoknya merasa belum. Begitu terus, sampai mereka akhirnya sadar bahwa mereka sedang menulis perjalanan sendiri.
Tak Ingin Pulang, Sebuah Kerinduan yang Tak Selesai
Judul Tak Ingin Pulang dipilih sebagai lagu utama bukan karena kebetulan. Menurut cerita mereka, lagu itu paling jujur mewakili perasaan para personelnya: keinginan untuk terus berada di tempat yang membuat mereka merasa hidup, walau dunia luar menuntut mereka cepat pulang dan kembali ke rutinitas.
Di balik liriknya, ada momen mengharukan. Salah satu personel mengaku menulis bagian itu setelah sebuah pertunjukan kecil yang hanya dihadiri segelintir orang. Ia melihat satu penonton menangis saat lagu dimainkan. Sejak malam itu, ia tahu lagu tersebut punya arti lebih dari sekadar rangkaian nada.
"Ada satu orang yang nangis waktu kami mainin. Dari situ aku sadar, ternyata lagu ini bukan cuma punya kami," ujarnya lirik. Perasaan itulah yang kemudian mereka jaga betul saat proses rekaman. Mereka tidak ingin lagu ini kehilangan kejujurannya hanya karena dikejar target perilisan.
Lima Lagu, Satu Perjalanan yang Sederhana
EP ini memuat lima lagu yang menurut MARBLES saling terhubung, meski tidak selalu bercerita soal hal yang sama. Ada tentang pertemanan, tentang kehilangan kecil sehari-hari, dan tentang keberanian untuk tetap tinggal di jalan yang dipilih. Nama MARBLES sendiri, menurut mereka, dipilih karena kelereng adalah mainan sederhana yang bisa memantul ke mana saja, seperti perjalanan musik mereka.
Mereka tak memasang target muluk. Bagi band yang masih berjuang dari panggung ke panggung ini, EP perdana adalah titik awal, bukan garis akhir. Ada rasa bangga bercampur haru ketika akhirnya rekaman itu bisa didengar publik. Air mata sempat menetes saat mereka mendengar hasil akhirnya bersama-sama di ruang studio kecil itu.
"Kami cuma pengin lagu ini sampai ke orang yang butuh. Kalau ada satu orang saja yang merasa ditemani, sudah cukup," kata salah satu dari mereka, pelan namun mantap. Jawaban sederhana, tapi justru itu yang membuat kisah lima lagu ini terasa menyentuh.
Di rak ruang latihan mereka, kertas bertanggal dua tahun lalu itu kini tidak lagi tergeletak di lantai. Ia disimpan di tempat yang lebih aman, sebagai pengingat bahwa mimpi yang tampak mustahil kadang hanya butuh waktu, kesabaran, dan keberanian untuk tidak buru-buru pulang.
Comments (0)