Sep 18, 2026
Sulawesi Selatan

Makassar — Kelangkaan BBM Paksa Sekolah Kembali Terapkan Belajar dari Rumah

Di sudut-sudut Kota Makassar, pemandangan antrean panjang kendaraan yang mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kini bukan lagi sekadar potr

Makassar — Kelangkaan BBM Paksa Sekolah Kembali Terapkan Belajar dari Rumah

Di sudut-sudut Kota Makassar, pemandangan antrean panjang kendaraan yang mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kini bukan lagi sekadar potret krisis energi biasa. Dampaknya telah merembet jauh hingga ke dalam ruang-ruang kelas. Akibat pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar yang mendadak langka, ribuan siswa di Makassar terpaksa kembali menyapa gurunya dari balik layar ponsel. Keputusan memindahkan aktivitas belajar mengajar ke rumah secara daring ini membawa memori kelam masa pandemi, memicu gelombang keluh kesah dari para orang tua murid hingga tenaga pengajar.

Kondisi ini membuat ritme harian warga kota menjadi kacau. Banyak orang tua yang menghabiskan waktu berjam-jam sejak subuh hanya demi mendapatkan beberapa liter bensin agar bisa beraktivitas. Namun, ketika pasokan BBM tak kunjung didapat, mobilitas pun lumpuh total, memaksa pihak sekolah mengambil langkah darurat demi keselamatan dan kelancaran kegiatan belajar.

Dari Antrean SPBU Kembali ke Layar Ponsel

Bagi para orang tua murid, keputusan mendadak ini menjadi beban ganda yang sangat menguras energi serta emosi. Mereka yang sejatinya harus bekerja dan mencari nafkah, kini harus membagi fokus antara memburu bahan bakar dan mendampingi anak-anak belajar di rumah. Pilihan yang ada terasa bagai simalakama; tidak mengantre berarti tidak bisa bekerja, namun mengantre berarti mengorbankan waktu pendampingan anak.

"Jujur kami sangat kewalahan. Pagi-pagi bukannya menyiapkan sarapan dan mengantar anak ke sekolah, kami malah harus keliling kota cari SPBU yang bukanya belum tentu ada bensinnya. Kalau tidak dapat BBM, ya anak tidak bisa diantar. Mau tidak mau memang harus PJJ lagi, tapi jujur ini sangat mendadak dan bikin stres," ungkap Ibu Rahma (38), salah satu orang tua siswa Sekolah Dasar di kawasan Panakkukang, Makassar.

Masalah tidak berhenti pada urusan transportasi semata. Peralihan ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara mendadak juga memicu pembengkakan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian kuota internet tambahan.

Dilema Guru dan Ancaman Penurunan Kualitas Belajar

Di sisi lain, para guru juga mengeluhkan efektivitas pembelajaran yang menurun drastis secara mendadak. Krisis BBM ini menciptakan deja vu traumatik terhadap metode belajar daring yang dinilai kurang optimal untuk tumbuh kembang anak, terutama bagi mereka yang masih berada di tingkat sekolah dasar.

"Kami sebagai guru serba salah. Ke sekolah tidak ada bahan bakar untuk kendaraan, sementara jika dipaksakan tatap muka, banyak murid yang absen karena orang tuanya tidak bisa mengantar akibat kehabisan bensin. Akhirnya kami balik lagi ke materi online, padahal materi praktik sedang banyak-banyaknya," ujar Pak Ahmad, seorang guru SMP di Makassar.

Berikut adalah perbandingan dinamika kegiatan belajar mengajar sebelum dan saat terjadinya krisis kelangkaan BBM di Makassar:

Indikator Pembelajaran Kondisi Normal (Tatap Muka) Kondisi Krisis BBM (PJJ Darurat)
Mobilitas & Transportasi Lancar dan terukur setiap pagi Terhambat antrean SPBU hingga berjam-jam
Efektivitas Penyerapan Materi Tinggi, interaksi langsung di kelas Terbatas oleh layar dan kendala koneksi
Beban Pengeluaran Warga Standar untuk ongkos harian Membengkak (BBM eceran mahal + kuota data)

Desakan Penanganan Cepat Krisis Energi

Para pengamat sosial dan pendidikan menilai bahwa kelangkaan BBM yang mengganggu sektor publik seperti pendidikan merupakan penanda bahwa penanganan rantai pasok energi di daerah harus segera dievaluasi. Pemerintah daerah dan instansi terkait didesak untuk mengambil tindakan cepat agar krisis ini tidak berlarut-larut dan merugikan generasi muda.

Masyarakat kini hanya bisa berharap distribusi BBM di wilayah Makassar dan sekitarnya dapat kembali pulih seperti sediakala. Tanpa kepastian pasokan bahan bakar, dunia pendidikan di daerah akan terus berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian, di mana hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak harus terkebiri oleh antrean panjang di tangki bahan bakar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User