Manila — Perjuangan untuk mewujudkan tarif listrik yang lebih murah di Filipina kini memasuki babak baru yang penuh dinamika. Setelah Presiden Ferdinand Ma
Manila — Perjuangan untuk mewujudkan tarif listrik yang lebih murah di Filipina kini memasuki babak baru yang penuh dinamika. Setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr. menjadikan penurunan biaya listrik sebagai salah satu fokus utama dalam pidato kenegaraan terakhirnya, berbagai reformasi di sektor energi mendadak mendapatkan momentum yang tidak biasa. Namun, di balik semangat perubahan tersebut, sederet pertanyaan pelik masih menggantung, terutama soal siapa yang akan menanggung biaya dan apakah pemerintah sanggup mengubah kebijakan menjadi aksi nyata.
Isu System Loss yang Menjadi Sorotan Utama
Isu yang paling hangat diperbincangkan adalah soal
system loss, yaitu biaya listrik yang hilang akibat kebocoran teknis pada jaringan distribusi maupun akibat pencurian listrik. Presiden Marcos secara tegas memerintahkan agar konsumen tidak lagi dibebani biaya ini, sebuah langkah yang langsung menyita perhatian publik dan parlemen.
Komite energi DPR telah memulai pembahasan pada 5 Agustus lalu. Ketua komite, Jose Alvarez, menargetkan rancangan amandemen terhadap Undang-Undang Industri Listrik (EPIRA) dapat diselesaikan pada bulan ini. Sementara itu, proposal serupa di Senat masih menunggu pembahasan di tingkat komite. Menteri Energi Sharon Garin bahkan menargetkan penghapusan biaya ini sebelum pidato kenegaraan terakhir Marcos pada 2027.
“Ini adalah isu yang sangat politis. Namun, kita harus realistis, seseorang pasti akan tetap menanggung bebannya,” ujar pengamat energi yang enggan disebut namanya.
Kompromi yang mulai mengemuka adalah memisahkan antara kerugian teknis yang tidak bisa dihindari dengan kerugian non-teknis seperti pencurian listrik. Beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan antara lain:
- Konsumen mungkin untuk sementara tetap membayar batas tertentu untuk kerugian teknis.
- Pemulihan biaya untuk kerugian non-teknis bisa dihapuskan lebih dulu.
- Perusahaan distribusi swasta dan koperasi listrik yang lemah secara finansial mungkin akan mendapatkan batas atau tenggat waktu yang berbeda.
Dukungan politik memang kuat karena ini adalah komitmen presiden yang didukung kedua kamar parlemen. Namun, perusahaan distribusi dan koperasi listrik diprediksi akan melobi dengan keras menentang penghapusan mendadak, terutama jika tidak disertai subsidi dari pemerintah.
Peluang Besar di Sektor Pembangkit Listrik
Meski isu system loss mendominasi perdebatan, peluang jangka panjang yang lebih besar justru terletak pada upaya menekan biaya pembangkitan listrik, yang mencakup sekitar dua pertiga dari total tagihan listrik konsumen. Salah satu cara yang digadang-gadang adalah melalui program
Sariling Kuryente, yang mendorong pemasangan panel surya atap dan baterai untuk rumah tangga serta bisnis.
Proposal ini telah didukung oleh Presiden Marcos dan disponsori oleh Ketua DPR Bojie Dy serta Pemimpin Mayoritas DPR Sandro Marcos. Inti dari program ini adalah menghilangkan birokrasi perizinan yang tidak perlu, studi yang berbelit, dan biaya utilitas untuk sistem yang tidak mengekspor listrik ke jaringan. Rancangan Undang-Undang (RUU) DPR 10431 telah resmi diajukan dan tengah menunggu proses legislasi selanjutnya.
Jika program ini berhasil, dampaknya bisa signifikan. Rumah tangga dan bisnis tidak hanya bisa mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik, tetapi juga menekan tagihan bulanan mereka secara substansial. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan program ini bisa diakses oleh masyarakat luas, bukan hanya kalangan menengah ke atas.
Nasib Energi Nuklir dan Lelang Energi Terbarukan
Selain dua isu di atas, pemerintah juga masih berhadapan dengan sejumlah pekerjaan rumah besar lainnya. Pertanyaan tentang masa depan program energi nuklir yang sempat digaungkan masih belum menemui kejelasan, terutama soal pendanaan, teknologi, dan penerimaan publik. Sementara itu, lelang energi terbarukan yang diharapkan bisa menekan harga listrik juga masih menghadapi kendala dalam hal kecepatan eksekusi di lapangan.
Pemerintah dituntut untuk tidak hanya pandai membuat kebijakan, tetapi juga mampu mengeksekusinya dengan cepat dan efisien. Jika tidak, target penurunan tarif listrik yang dijanjikan akan menjadi sekadar retorika politik belaka. Publik Filipina sangat menunggu apakah janji ini akan menjadi kenyataan atau hanya menjadi bagian dari siklus politik lima tahunan.
---
FAQ:
[SOCIAL_TWEET]: Pemerintah Filipina berjanji turunkan tarif listrik. Namun, reformasi system loss dan energi bersih masih menyimpan banyak pertanyaan pelik. Siapa yang akan menanggung bebannya? #Listrik #Filipina #Energi
[SOCIAL_TG]: 🇵🇭⚡ Listrik murah jadi janji politik Marcos. Reformasi system loss dan dorongan panel surya atap digadang-gadang jadi solusi. Tapi, siapa yang benar-benar akan membayar? Baca selengkapnya di Beritaseputar.com.
Comments (0)