Oct 15, 2026
entertainment

Langkah Ruben Onsu ke KPAI demi Bertemu Buah Hati

Langkah kaki Ruben Onsu menapaki koridor gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan raut penuh harap. Ia datang bukan sebagai selebritas yang biasa tampil di layar kaca, melainkan sebagai...

Langkah Ruben Onsu ke KPAI demi Bertemu Buah Hati

Langkah kaki Ruben Onsu menapaki koridor gedung Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan raut penuh harap. Ia datang bukan sebagai selebritas yang biasa tampil di layar kaca, melainkan sebagai seorang ayah yang tengah berjuang memperjuangkan haknya bertemu sang buah hati. Di balik senyum tipis yang ia lontarkan kepada awak media, tersimpan luka yang tak mudah disembunyikan.

Kehadiran presenter kondang itu ke KPAI bukan tanpa alasan. Ia mengadukan kendala yang ia hadapi dalam upaya bertemu anak-anaknya. Bagi Ruben, pertemuan dengan buah hati adalah kebutuhan batin yang tak bisa ditawar, bukan sekadar kewajiban hukum. "Saya hanya ingin bertemu anak-anak saya," ujarnya dengan suara pelan, menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dada.

Momen mengharukan itu menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, ada perjalanan personal yang penuh liku. Ruben memilih menempuh jalur resmi daripada bersuara di ruang publik. Langkahnya ke KPAI adalah bentuk tanggung jawab seorang ayah yang tak ingin hak anak-anaknya terabaikan, sekaligus upaya mencari solusi yang berpihak pada kepentingan terbaik si kecil.

Ketika Kerinduan Tak Bisa Ditelepon

Dalam pertemuan tertutup dengan pihak KPAI, Ruben mengisahkan bagaimana ia harus menahan rindu yang menggunung. Setiap hari tanpa kehadiran anak-anak terasa lengang. Ia menyebut komunikasi yang terhambat membuatnya kehilangan momen-momen sederhana yang selama ini ia syukuri: suara tawa, celotehan ringan, hingga pelukan sebelum tidur.

"Setiap hari saya menunggu kabar, menunggu bisa berbicara atau sekadar melihat mereka," tuturnya lirih. Keterbatasan akses bertemu anak membuat pria kelahiran Jakarta itu harus menempuh langkah hukum. Namun ia menegaskan, apa yang ia perjuangkan bukan tentang menang atau kalah, melainkan tentang kasih sayang seorang ayah yang tak ingin putus.

KPAI, sebagai lembaga yang mengawal hak anak, menerima aduan tersebut dengan serius. Komisioner KPAI menyatakan bahwa kasus ini akan ditelaah dengan pendekatan yang mengutamakan kepentingan anak, bukan sekadar konflik antarorang tua. "Kami akan mendengarkan semua pihak, karena yang paling utama adalah anak," kata salah satu komisioner usai pertemuan.

Perjuangan yang Menyentuh Hati Publik

Kisah Ruben menyita perhatian publik. Banyak yang mengaku terenyuh melihat perjuangan seorang figur publik yang harus berjuang di ruang hukum demi bertemu anaknya. Di media sosial, dukungan mengalir, bukan sekadar karena popularitasnya, tetapi karena kisahnya menyentuh naluri kemanusiaan: kasih orang tua yang tak pernah mengenal kata menyerah.

Ruben tak sendirian. Ada banyak ayah dan ibu di luar sana yang mengalami hal serupa, namun tak punya panggung untuk bersuara. Kehadiran Ruben ke KPAI membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya mediasi keluarga yang berpihak pada anak. Perjuangannya menjadi cermin bahwa cinta tidak bisa dibatasi oleh surat atau jadwal.

"Saya percaya, semua orang tua punya cara masing-masing untuk memperjuangkan anaknya. Saya memilih cara yang saya yakini benar," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu bukan sekadar pernyataan, melainkan doa seorang ayah yang bangkit dari keterpurukan demi buah hatinya.

Asa yang Tetap Menyala

Hingga kini, proses mediasi masih berjalan. Ruben berharap KPAI dapat menjadi jembatan yang menuntun pada kesepakatan terbaik. Ia tidak menuntut lebih dari sekadar bisa hadir dalam tumbuh kembang anak-anaknya, menemani mereka belajar, bermain, dan merasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah.

Perjalanan Ruben mengajarkan bahwa di balik layar kehidupan seorang selebritas, ada manusia biasa yang bisa terluka dan merindu. Kisahnya adalah inspirasi bahwa memperjuangkan cinta kepada anak adalah hak yang patut diperjuangkan, apa pun rintangannya.

Ketika langkahnya meninggalkan gedung KPAI, Ruben tak henti menitipkan harapan. "Saya hanya ingin anak-anak tahu, ayah mereka tidak pernah berhenti berjuang," ucapnya. Air mata yang sempat tertahan akhirnya jatuh juga. Momen itu menyentuh, sederhana, namun penuh makna: seorang ayah yang tak akan pernah lelah kembali ke pelukan buah hati tercinta.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User