Sep 18, 2026
Bangka Belitung

KNEKS dan USK Kembangkan Minyak Nilam Substitusi Bahan Baku Halal

Siapa yang tak kenal dengan minyak nilam? Minyak atsiri yang berasal dari daun tanaman nilam ini merupakan salah satu komoditas kebanggaan Indonesia, khusu

KNEKS dan USK Kembangkan Minyak Nilam Substitusi Bahan Baku Halal

Siapa yang tak kenal dengan minyak nilam? Minyak atsiri yang berasal dari daun tanaman nilam ini merupakan salah satu komoditas kebanggaan Indonesia, khususnya dari Tanah Rencong, Aceh. Selama berpuluh-puluh tahun, minyak nilam asal Aceh telah menembus pasar internasional dan menjadi bahan baku utama pembuat parfum kelas dunia. Namun, ironisnya, industri dalam negeri kerap kali harus mengimpor kembali produk turunannya untuk kebutuhan bahan baku kosmetik dan farmasi. Melihat tantangan tersebut, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) berkolaborasi dengan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC-USK) untuk melakukan terobosan besar.

Kerja sama strategis ini berfokus pada pengembangan hilirisasi bahan baku halal berbasis minyak nilam. Melalui inovasi ini, minyak nilam tak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi bahan baku halal bernilai tinggi yang siap menggantikan produk impor di industri kosmetik, farmasi, hingga makanan dan minuman.

Mengurai Potensi Emas Hijau Aceh untuk Pasar Halal

Minyak nilam sering kali dijuluki sebagai "emas hijau" karena nilainya yang sangat ekonomis di pasar dunia. Indonesia sendiri memegang peran kunci sebagai produsen utama yang memasok sebagian besar kebutuhan global. Namun, tanpa hilirisasi yang memadai, nilai tambah dari komoditas ini justru lebih banyak dinikmati oleh negara-negara pengolah di luar negeri.

"Kemitraan antara KNEKS dan ARC-USK ini menjadi angin segar bagi ekosistem industri halal nasional. Kita ingin memastikan bahwa minyak nilam Indonesia tak hanya menguasai pasar bahan mentah, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai pasok bahan baku halal global," ujar perwakilan KNEKS.

Dengan teknologi pemurnian terkini seperti molecular distillation yang dikembangkan oleh ARC-USK, minyak nilam mentah (crude patchouli oil) dapat ditingkatkan mutunya menjadi hi-grade patchouli oil. Produk turunan ini memiliki tingkat kemurnian tinggi yang memenuhi standar internasional dan kehalalan industri farmasi serta kosmetik.

Aspek Ekspor Bahan Mentah (Crude) Hilirisasi Produk Halal (ARC-USK & KNEKS)
Nilai Tambah Ekonomis Rendah (Rentan fluktuasi harga pasar global) Tinggi (Nilai jual meningkat hingga berlipat ganda)
Penggunaan Industri Hanya sebagai komoditas ekspor mentah Bahan baku kosmetik, farmasi, dan pengikat aroma halal
Dampak pada Petani Ketergantungan pada pengepul internasional Penyerapan hasil panen dengan kepastian harga lokal

Mengurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku Halal

Langkah KNEKS dan ARC-USK ini selaras dengan peta jalan pemerintah dalam memperkuat ekosistem rantai nilai halal (Halal Value Chain). Saat ini, industri kosmetik dan farmasi halal di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor, terutama pengikat aroma (fixative) dan bahan aktif alami. Kehadiran turunan minyak nilam halal yang diproduksi di dalam negeri menjadi solusi konkret untuk menekan angka impor tersebut.

Penggunaan minyak nilam sebagai fixative alami sangat vital karena sifatnya yang mampu mengikat aroma agar bertahan lebih lama tanpa merubah wangi utama. Ketika bahan ini berhasil disertifikasi halal dan diproduksi secara massal, produsen kosmetik lokal tak perlu lagi merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli bahan baku impor dari luar negeri.

"Pengembangan hilirisasi nilam di ARC-USK tidak hanya berorientasi pada riset akademis, melainkan pada penciptaan ekosistem bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir. Kami merangkul petani, melatih teknologi penyulingan, hingga menghasilkan produk akhir bernilai tinggi," ungkap peneliti dari ARC-USK.

Mendorong Kesejahteraan Petani dan Ekonomi Syariah

Dampak dari sinergi ini tidak berhenti pada efisiensi industri semata. Di tingkat hulu, ribuan petani nilam di Aceh akan merasakan dampak langsungnya. Dengan adanya kepastian penyerapan hasil panen oleh industri dalam negeri, harga minyak nilam di tingkat petani menjadi lebih stabil dan menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik.

Kerja sama ini membuktikan bahwa pengembangan ekonomi syariah bukan sekadar fokus pada sektor keuangan semata, melainkan juga menyentuh sektor riil yang berbasis sumber daya alam lokal. Dengan optimisme tinggi, hilirisasi minyak nilam halal diharapkan mampu menjadi komoditas unggulan baru yang membawa Indonesia semakin tangguh di panggung ekonomi halal dunia.

Minyak nilam Aceh kini tak cuma diekspor mentah, tapi diolah jadi bahan baku halal berkualitas tinggi pengganti bahan impor kosmetik dan farmasi. Baca selengkapnya hanya di Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User