Kisah di Balik 'Rumah Sakit Jiwa', Refleksi Rangga Riantiarno tentang Kemanusiaan

Di sudut ruangan konferensi pers yang remang di Jakarta, Kamis (10/7/2026), sorot mata Rangga Riantiarno memancarkan sesuatu yang sulit didefinisikan. Sebuah campuran antara gairah dan sendu, mungkin....

Jul 12, 2026 - 03:45
0 0
Kisah di Balik 'Rumah Sakit Jiwa', Refleksi Rangga Riantiarno tentang Kemanusiaan

Di sudut ruangan konferensi pers yang remang di Jakarta, Kamis (10/7/2026), sorot mata Rangga Riantiarno memancarkan sesuatu yang sulit didefinisikan. Sebuah campuran antara gairah dan sendu, mungkin. Di hadapan puluhan jurnalis, pria yang selama lebih dari empat dekade menghidupi panggung Teater Koma itu menyeka pelipisnya, lalu membuka suara dengan lirih. “Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah perjalanan mendengar jeritan-jeritan yang tak sempat terdengar,” ujarnya, memulai sesi bincang tentang karya terbarunya, Rumah Sakit Jiwa. Momen itu seketika membungkam riuh rendah ruangan. Semua mata tertuju pada satu sosok yang kali ini tampil dengan beban cerita yang begitu berbeda.

Proyek ini, diakui Rangga, lahir dari kegelisahan panjang. Bukan kegelisahan estetika panggung, melainkan gundah melihat realitas yang kerap disingkirkan: potret kesehatan mental di Indonesia. “Saya sudah bertahun-tahun menyimpan catatan kecil tentang ini. Tentang bagaimana kita, masyarakat, sering menutup mata dan telinga terhadap mereka yang berjuang melawan pikirannya sendiri,” katanya. Pada konferensi pers siang itu, ia membeberkan betapa karyanya kali ini adalah sebuah upaya untuk membuka dialog jujur, sebuah undangan bagi kita semua untuk berani menengok sisi kemanusiaan yang paling rapuh.

Riset dari Lorong-lorong Sunyi

Di balik panggung megah yang akan segera berdiri, tersimpan kisah riset yang jauh dari kata glamor. Bersama tim kecilnya, Rangga menyambangi sejumlah pusat rehabilitasi dan panti perawatan jiwa di berbagai pelosok. Bukan kunjungan seremonial, melainkan sebuah upaya menyelami keseharian penghuni tempat-tempat itu. Di sebuah ruang rawat inap berukuran 3x4 meter di pinggiran Jawa Tengah, misalnya, ia berjumpa dengan seorang perempuan separuh baya yang hanya bisa tersenyum tanpa kata. “Saya duduk bersamanya hampir dua jam. Tidak ada percakapan berarti, hanya tatapan. Tapi di situ saya belajar banyak tentang keheningan yang penuh makna,” tutur Rangga, suaranya sedikit bergetar.

Pengalaman riset itu membentuk fondasi narasi Rumah Sakit Jiwa. Rangga tidak ingin terjebak pada sensasi tragedi. Ia memilih meramu kisah personal yang menyentuh, mengangkat potret para pejuang kesehatan mental berikut keluarga mereka yang kerap terlupakan. “Kita sering tertawa pada kegilaan di sinetron. Tapi kita lupa, di luar sana ada orang tua yang menangis setiap malam menjaga anaknya yang depresi. Ada anak-anak kecil yang harus menerima kenyataan bahwa ibunya berada di ‘dunia lain’,” imbuhnya dengan nada yang menggugah. Semua fragmen itu ia sulam menjadi sebuah pertunjukan teater yang, katanya, akan menghadirkan air mata sekaligus harapan.

Panggung sebagai Cermin dan Obat

Bagi Rangga, seni pertunjukan adalah media paling jujur untuk memantulkan realitas. Melalui Rumah Sakit Jiwa, ia ingin menjadikan panggung sebagai cermin bagi masyarakat untuk melihat stigma yang selama ini terlanjur mengakar. “Kita perlu mengakui bahwa diskriminasi pada penderita gangguan jiwa masih sangat kuat. Saya berharap, setelah menyaksikan pertunjukan ini, penonton pulang dengan hati yang lebih lapang, lebih berani mengulurkan tangan,” paparnya. Dalam proses latihan yang berlangsung selama berbulan-bulan, aktor-aktor Teater Koma didorong untuk membenamkan diri sepenuhnya ke dalam karakter, bahkan menjalani sesi konsultasi psikologi untuk menjaga kesehatan mental mereka sendiri.

Seorang aktor muda yang memerankan pasien dengan skizofrenia mengisahkan pengalamannya tak kuasa menahan tangis saat sesi latihan pertama. “Saya merasa seperti memasuki lorong gelap yang selama ini saya hindari. Tapi Rangga selalu bilang, tujuan kita bukan untuk menjadi mereka, melainkan untuk menjadi jembatan agar suara mereka terdengar,” tuturnya. Bukan hanya soal akting, perjalanan menuju pentas ini menjadi semacam terapi kolektif bagi seluruh kru. Setiap adegan dihidupkan dengan penghayatan yang tak main-main, menolak segala bentuk karikaturalisasi yang kerap menimpa penggambaran isu serupa.

Menanam Benih Pemulihan Kolektif

Kehadiran Rumah Sakit Jiwa di kancah seni Tanah Air bukan sekadar penanda produktivitas teater di usia Rangga yang tak lagi muda. Ini adalah langkah kecil untuk tujuan besar: memanusiakan kembali segmen masyarakat yang selama ini terabaikan. Dan pada ruang konferensi pers itu, Rangga menitipkan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar promosi pertunjukan. “Kita semua, pada satu titik, bisa saja berada di ambang keputusasaan. Jangan biarkan tetangga, saudara, atau sahabat kita berjuang sendirian. Kesehatan mental adalah isu kemanusiaan, bukan sekadar statistik medis,” ucapnya pelan, mengakhiri sesi sambil menundukkan kepala sejenak, seolah mengamini sebuah doa.

Malam mulai merayapi Jakarta ketika para jurnalis beranjak, namun gema kata-kata Rangga masih bergantung di udara. Di tangga gedung, terlihat seorang penonton setia Teater Koma yang sejak tadi menyimak di sudut ruangan. Matanya berkaca-kaca. “Saya mengidap gangguan kecemasan selama bertahun-tahun, dan mendengar Rangga bicara seperti ini membuat saya merasa tak sendiri. Mudah-mudahan panggungnya bisa menyembuhkan lebih banyak hati,” bisiknya. Dan mungkin, itulah sesungguhnya yang ingin dicapai: sebuah ruang bersama untuk memeluk luka, agar ia tak lagi tumbuh menjadi monster yang memisahkan kita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User