Aug 25, 2026
entertainment

Kiesha Alvaro: Berjuang Keluar dari Bayang-Bayang Nama Besar Sang Ayah

Di sudut lokasi syuting yang riuh oleh lalu-lalang kru, seorang pemuda duduk khusyuk membolak-balik lembaran naskah. Ujung jarinya sesekali berhenti, menandai dialog dengan pulpen yang mulai tumpul. S...

Kiesha Alvaro: Berjuang Keluar dari Bayang-Bayang Nama Besar Sang Ayah

Di sudut lokasi syuting yang riuh oleh lalu-lalang kru, seorang pemuda duduk khusyuk membolak-balik lembaran naskah. Ujung jarinya sesekali berhenti, menandai dialog dengan pulpen yang mulai tumpul. Sesekali ia menarik napas panjang, memejamkan mata, lalu menggumamkan kalimat demi kalimat seperti sedang berdoa. Pemuda itu adalah Kiesha Alvaro — wajah yang belakangan kian akrab di layar kaca Indonesia, sekaligus putra sulung vokalis band Ungu, Pasha.

Bagi sebagian orang, lahir sebagai anak musisi ternama mungkin terdengar seperti tiket emas menuju panggung hiburan. Namun bagi Kiesha, nama besar sang ayah justru menjadi beban yang diam-diam ia pikul sejak kecil. Di balik senyumnya yang khas, tersimpan perjalanan panjang seorang anak yang berjuang menemukan jati dirinya sendiri.

Tumbuh di Bawah Bayang-Bayang Nama Besar

Kiesha kecil tumbuh dalam keluarga yang tak lagi utuh. Saat usianya masih sangat belia, kedua orang tuanya — Pasha dan Okie Agustina — memutuskan untuk berpisah. Ia kemudian besar dalam asuhan sang ibu, sementara sosok ayahnya lebih sering ia saksikan dari layar televisi: berdiri gagah di atas panggung, disambut ribuan penonton yang meneriakkan namanya.

"Dulu setiap kali aku datang ke suatu tempat, orang selalu bilang, 'Oh, ini anaknya Pasha.' Aku bersyukur, tapi di hati kecilku selalu ada keinginan, suatu hari mereka akan memanggilku dengan namaku sendiri," Kiesha mengisahkan dengan nada pelan.

Kalimat sederhana itu menjadi bara yang terus menyala di dadanya. Ia tak ingin sekadar menjadi bayang-bayang seseorang. Ia ingin berdiri tegak di atas kakinya sendiri, dikenal karena karya, bukan semata karena silsilah.

Jatuh Bangun di Depan Kamera

Jalan yang ia pilih bukanlah jalan pintas. Kiesha mengikuti casting demi casting, menelan penolakan yang tak terhitung jumlahnya, dan belajar seni peran nyaris dari nol. Di lokasi syuting, ia dikenal sebagai pemuda yang tak pernah sungkan bertanya — kepada sutradara, kepada pemain senior, bahkan kepada kru yang lebih dulu berpengalaman.

Titik baliknya datang ketika ia dipercaya memerankan karakter Roni dalam sinetron remaja Dari Jendela SMP. Peran itu membuka pintu yang lebih lebar: namanya mulai dikenal, wajahnya mulai diingat, dan yang terpenting baginya, orang mulai membicarakan aktingnya — bukan lagi sekadar nama besar keluarganya.

"Syuting itu melelahkan, kadang sampai dini hari. Tapi setiap kali aku hampir menyerah, aku ingat mimpi yang sudah kupanjatkan sejak kecil. Aku ingin membuat ibu dan ayah bangga dengan caraku sendiri," ujarnya, matanya berbinar.

Doa Ibu dan Pelukan Ayah di Balik Layar

Di balik layar, ada dua sosok yang tak pernah lelah menjadi sandarannya. Sang ibu, Okie Agustina, adalah pendoa paling setia — perempuan yang membesarkannya dengan tangan, peluh, dan air matanya sendiri. Sementara Pasha, di tengah kesibukan panggung dan berbagai tugasnya, selalu berusaha hadir di momen-momen penting sang putra.

Hubungan ayah dan anak itu kini justru kian hangat. Musik menjadi bahasa mereka berdua: sesekali keduanya terlihat bernyanyi bersama, gitar di tangan, tawa lepas mengisi ruangan. Momen mengharukan itu kerap dibagikan Kiesha di media sosialnya, dan selalu disambut haru oleh para pengikutnya yang ikut menyentuh hati.

"Ayah pernah bilang, jangan pernah malu memulai dari bawah. Yang penting kita tahu mau melangkah ke mana. Kata-kata itu sampai sekarang masih aku pegang erat-erat," Kiesha menuturkan.

Kini, di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, Kiesha sadar perjalanannya masih panjang. Masih ada banyak naskah yang belum dibaca, banyak karakter yang belum dimainkan, banyak panggung yang belum diinjaknya. Namun satu hal pasti: ia tak lagi berjalan di bawah bayang-bayang siapa pun. Ia sedang menulis kisahnya sendiri.

"Aku cuma anak muda yang sedang berjuang, sama seperti teman-teman di luar sana. Kalau aku bisa bangkit dari keraguan, kalian juga pasti bisa. Jangan takut bermimpi, dan jangan pernah berhenti berdoa," katanya menutup perbincangan sore itu, sebelum kembali berdiri di depan kamera — melangkah menuju mimpinya, satu adegan demi satu adegan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User