Malam itu, cahaya lampu panggung jatuh lembut di bahu seorang pria yang berdiri mematung sejenak. Jemarinya menyentuh senar gitar yang telah menemaninya hampir tiga dekade. Begitu nada pertama mengalun, riuh penonton perlahan berubah menjadi keheningan yang khidmat. Di atas panggung itu, Eross Candra, gitaris yang namanya lekat dengan perjalanan panjang Sheila On 7, tampil bersama Six Strings, berbagi nada, cerita, dan kerinduan yang sama.
Bagi banyak orang, gitar barangkali hanyalah alat musik berdawai enam. Namun bagi Eross, gitar adalah sahabat paling setia — teman yang menemaninya berjuang dari kamar kos sederhana di Yogyakarta hingga panggung-panggung besar di berbagai penjuru negeri. Malam itu, kesetiaan tersebut terasa begitu nyata di setiap petikannya.
Senar Pertama dari Kota Pelajar
Jauh sebelum namanya dikenal luas, Eross mengisahkan masa mudanya sebagai remaja Yogyakarta yang jatuh cinta pada bunyi gitar. Di kamar yang sederhana, ia menghabiskan sore demi sore memetik senar, meniru permainan para gitaris idolanya, dan bermimpi suatu hari musiknya bisa didengar banyak orang.
"Gitar itu seperti teman curhat. Saat senang, saya mainkan. Saat sedih, saya juga mainkan," tuturnya dengan mata berbinar, mengenang awal perjalanannya.
Dari kecintaan yang sederhana itulah, bersama kawan-kawan sekolahnya, ia merajut mimpi yang kelak dikenal sebagai Sheila On 7 — band yang lahir dari pertemanan, kejujuran bermusik, dan kegigihan anak-anak muda Kota Pelajar pada pertengahan 1990-an.
Perjalanan yang Tidak Selalu Mulus
Jalan menuju panggung besar tidak pernah lurus. Eross dan rekan-rekannya sempat berpindah dari satu panggung kecil ke panggung kecil lainnya, membawa peralatan sendiri, bermain di hadapan penonton yang jumlahnya bisa dihitung jari. Ada masa ketika bayaran manggung hanya cukup untuk mengganti bensin dan sepiring nasi hangat.
Namun justru di titik-titik itulah keteguhan mereka diuji. "Kami tidak pernah berpikir harus terkenal. Kami hanya ingin lagu kami didengar. Kalau satu orang saja tersentuh, itu sudah cukup," ucapnya lirih.
Kesabaran itu berbuah manis. Lagu-lagu yang lahir dari tangan dingin Eross — dengan melodi gitar yang khas dan lirik yang jujur — perlahan menemukan jalannya ke hati jutaan pendengar. Tembang-tembang seperti "Dan" dan "Sephia" bukan sekadar hits; keduanya menjadi penanda zaman, mengiringi kisah cinta, patah hati, dan persahabatan banyak orang Indonesia.
Di balik layar kesuksesan itu, Eross tetaplah sosok yang sederhana. Ia dikenal jarang mengejar sorotan, memilih membiarkan gitarnya yang berbicara. Bagi para penggemar setia Sheila On 7, sosoknya adalah bukti bahwa ketenangan dan konsistensi bisa menjadi kekuatan yang luar biasa.
Malam yang Menyentuh Bersama Six Strings
Momen mengharukan itu kembali hadir ketika Eross naik panggung bersama Six Strings. Tidak ada tata cahaya yang berlebihan, tidak ada kemegahan yang menyilaukan. Hanya ada para pemain gitar yang duduk melingkar, saling melempar melodi, dan sesekali tersenyum satu sama lain ketika sebuah frasa indah lahir secara spontan.
Penonton yang memadati ruangan tampak larut. Sebagian memejamkan mata, sebagian lain menggumamkan lirik lagu-lagu lama yang dimainkan ulang dalam balutan aransemen gitar yang lebih intim. Suasananya hangat, seperti reuni keluarga besar yang sudah lama tidak bertemu.
"Bermain dengan Six Strings itu rasanya seperti pulang. Semua berbicara dengan bahasa yang sama, bahasa senar," kata Eross seusai penampilan, disambut tepuk tangan panjang dari penonton yang enggan beranjak.
Pesan untuk Para Pemimpi Muda
Di penghujung malam, Eross menyempatkan diri menyapa sejumlah musisi muda yang menunggunya di sisi panggung. Dengan sabar, ia melayani permintaan foto dan berbagi cerita. Kepada mereka, ia menitipkan pesan yang sederhana namun dalam.
"Jangan takut mulai dari kecil. Jangan malu kalau alatmu sederhana. Yang penting, mainkan dengan hati, dan jangan berhenti," pesannya.
Malam itu akhirnya usai, tetapi gaungnya tertinggal lama. Bagi yang hadir, penampilan Eross bersama Six Strings bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan pengingat bahwa mimpi yang dirawat dengan ketulusan akan selalu menemukan panggungnya. Dan bagi Eross sendiri, setiap petikan senar adalah cara ia mengucap syukur — atas perjalanan panjang, atas air mata dan tawa, serta atas musik yang tak pernah meninggalkannya.
Comments (0)