Oct 13, 2026
entertainment

Ketika Suara Bocelli Bergema di Petra dan Luka Yordania Terbuka Kembali

Di lorong batu merah yang berusia ribuan tahun itu, suara tenor Andrea Bocelli memang belum terdengar. Namun gaung penolakan sudah lebih dulu memenuhi udara Yordania. Di warung-warung kecil sepanjang ...

Ketika Suara Bocelli Bergema di Petra dan Luka Yordania Terbuka Kembali

Di lorong batu merah yang berusia ribuan tahun itu, suara tenor Andrea Bocelli memang belum terdengar. Namun gaung penolakan sudah lebih dulu memenuhi udara Yordania. Di warung-warung kecil sepanjang jalan menuju Petra, para pedagang kopi dan pemandu wisata berbicara pelan, hampir berbisik, tentang sebuah konser yang mereka yakini tak seharusnya digelar di tanah bersejarah itu. "Petra adalah rumah kami," ujar Abu Khalil, seorang pemandu wisata berusia 58 tahun yang telah menemani ribuan turis menyusuri Siq, celah batu sempit menuju Al-Khazneh. "Bukan panggung bagi mereka yang diam ketika saudara-saudara kami menderita."

Luka Lama yang Belum Mengering

Nama Andrea Bocelli, penyanyi opera Italia yang dikenal lewat lagu-lagu cinta dan doa-doa sakral, kini menjadi pemicu perdebatan panas di Kerajaan Hasyimiyah. Kelompok Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) Yordania mengeluarkan seruan terbuka agar masyarakat menolak kehadiran sang maestro. Alasan mereka bukan soal musik, melainkan rekam jejak Bocelli yang pernah tampil di Israel dan dianggap mendukung normalisasi dengan negara yang hingga kini terus menekan Palestina.

Bagi banyak warga Yordania, isu ini bukan sekadar politik. Ini soal identitas. Yordania adalah rumah bagi jutaan pengungsi Palestina. Di kamp-kamp seperti Baqa'a dan Wehdat, ingatan tentang pengusiran tahun 1948 masih diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika nama Bocelli disebut di televisi, sebagian keluarga di kamp itu hanya diam. Diam yang menyimpan cerita.

"Saya tidak bisa menjelaskan kepada cucu saya kenapa kami harus menonton orang yang pernah menghibur mereka yang menembaki anak-anak kami," kata Umm Mahmoud, perempuan 63 tahun yang tinggal di Amman. Matanya berkaca-kaca saat berbicara. "Mungkin bagi orang lain ini hanya konser. Bagi kami, ini pengkhianatan kecil yang diulang terus-menerus."

Di Balik Layar Panggung Petra

Kabar konser Bocelli di Petra pertama kali mencuat melalui pengumuman promotor yang menyebut lokasi ikonik itu sebagai latar pertunjukan bertema perdamaian. Namun narasi perdamaian justru dianggap menusuk. BDS Yordania menilai ada pola sistematis untuk menormalisasi hubungan dengan Israel melalui budaya, dan Petra—situs warisan dunia yang menjadi kebanggaan nasional—dianggap sebagai alat legitimasi yang paling efektif.

Di balik layar, perdebatan juga terjadi di kalangan penyelenggara dan otoritas pariwisata. Seorang sumber yang enggan disebut namanya mengisahkan bahwa sejak awal sudah ada kekhawatiran soal reaksi publik. Namun tekanan ekonomi membuat sebagian pihak tetap mendorong acara berjalan. Pandemi dan penurunan kunjungan wisatawan membuat Petra dan kota kecil Wadi Musa yang bergantung padanya mengalami pukulan berat. Konser berskala internasional dijanjikan akan mendatangkan ribuan pengunjung, mengisi hotel, dan menghidupkan kembali gerobak-gerobak dagangan yang kini banyak kosong.

Namun harapan itu bertabrakan dengan harga yang harus dibayar secara moral. "Kami butuh pekerjaan, tapi kami tidak butuh dihina," ujar Youssef, pemilik kios suvenir di depan pintu masuk Petra. "Kalau konser ini tetap digelar, biarlah. Tapi jangan harap kami menyanyikan lagu-lagu dia. Kami punya lagu kami sendiri, lagu tentang tanah yang tidak pernah benar-benar merdeka."

Antara Mimpi Damai dan Kenyataan yang Pahit

Bocelli sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas seruan boikot ini. Dalam beberapa wawancara lama, ia pernah menyebut musik sebagai jembatan yang melampaui batas politik. Namun bagi banyak orang Yordania, jembatan itu tampak hanya menghubungkan satu sisi, sementara sisi lain tetap terputus oleh tembok dan pos pemeriksaan.

Seruan boikot ini bukan yang pertama. Sebelumnya, sejumlah artis internasional yang dianggap pro-Israel juga menghadapi gelombang protes serupa di Tunisia, Maroko, dan Lebanon. Namun kasus Petra terasa lebih menyentuh karena lokasinya. Petra bukan sekadar situs wisata. Ia adalah simbol peradaban Nabatea, saksi bisu perjalanan panjang bangsa-bangsa di Timur Tengah. Menggelar konser di sana, bagi sebagian orang, seperti menuliskan bab baru di atas naskah kuno yang belum selesai dibaca.

Sementara itu, di jalan-jalan Wadi Musa, poster-poster konser mulai dicopot satu per satu oleh tangan-tangan tak dikenal. Tidak ada kekerasan, tidak ada teriakan. Hanya gerakan sunyi yang menyiratkan pesan jelas: ada luka yang belum sembuh, dan tidak semua panggung harus diisi. Bocelli mungkin akan tetap bernyanyi. Tapi di Petra, suara yang paling keras justru datang dari mereka yang memilih diam, menahan air mata, dan tidak menggubris tiket yang dijual.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User