Ketika Nyai Ontosoroh Mengetuk Hati Dinda Kanya Dewi

Di sebuah sudut yang dipenuhi layar-layar digital dan instalasi budaya di Galeri Indonesia Kaya, seorang perempuan duduk dengan tenang. Matanya yang teduh sesekali menerawang, seolah sedang mengingat ...

Jul 12, 2026 - 06:05
0 0
Ketika Nyai Ontosoroh Mengetuk Hati Dinda Kanya Dewi

Di sebuah sudut yang dipenuhi layar-layar digital dan instalasi budaya di Galeri Indonesia Kaya, seorang perempuan duduk dengan tenang. Matanya yang teduh sesekali menerawang, seolah sedang mengingat kembali sebuah perjalanan batin yang belum lama ia lalui. Perempuan itu adalah Dinda Kanya Dewi, yang namanya lebih dulu dikenal lewat perannya dalam sinetron Cinta Fitri. Namun siang itu, perbincangan bukan tentang dunia sinetron yang melambungkan namanya. Ia tengah mengisahkan momen yang menggetarkan hatinya: sebuah telepon dari aktris dan sutradara teater, Happy Salma.

Momen itu, yang terjadi beberapa waktu sebelum pertemuan kami, bermula dari sebuah tawaran yang sama sekali tak terduga. Dinda diminta memerankan Nyai Ontosoroh, tokoh perempuan legendaris dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi Dinda, yang selama ini berkutat di depan kamera dengan naskah sinetron yang serba cepat, tawaran itu terasa seperti loncatan besar. Bukan hanya karena Bumi Manusia adalah karya sastra monumental, tetapi juga karena Nyai Ontosoroh adalah ikon perlawanan perempuan yang begitu kompleks.

Getar Pertama yang Mengubah Segalanya

“Saya sempat terdiam lama,” ujarnya, mengisahkan detik-detik setelah mendengar suara Happy di ujung telepon. Dinda bukanlah aktor panggung yang terbiasa dengan napas panjang teater. Selama bertahun-tahun, ia berkutat dengan jadwal shooting harian, menghafal dialog cepat, dan mengejar rating. Tiba-tiba, ia dihadapkan pada peran yang menuntut kedalaman riset sejarah, penghayatan karakter yang rumit, dan kekuatan vokal yang berbeda. Keterkejutan itu bercampur dengan rasa tak percaya, sekaligus kehormatan yang tak terkira.

Happy, yang dikenal dengan dedikasinya pada seni pertunjukan, tidak sekadar memberikan tawaran. Ia menceritakan visinya tentang Nyai Ontosoroh: seorang gundik yang menjadi perempuan mandiri, cerdas, dan berani melawan ketidakadilan kolonial. Bagi Dinda, mendengar pemaparan itu adalah pengalaman yang membuka cakrawala baru. Di tengah keraguan yang menyergap, ada getar halus yang menyuruhnya untuk menerima tantangan ini. “Rasanya seperti dipanggil untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaan,” kenangnya, matanya berkilat.

Perjalanan Menjadi Nyai

Di balik layar persiapan, kisah perjuangan Dinda mulai terajut. Ia bukan hanya harus memahami konteks sejarah, tetapi juga harus menemukan suara dan tubuh Nyai Ontosoroh. Berhari-hari ia habiskan untuk membaca ulang roman Bumi Manusia, mencatat detail-detail kecil dari karakter yang akan dihidupkannya. Latihan demi latihan bersama tim teater menjadi medan penemuan diri yang menguras emosi.

Momen mengharukan terjadi saat ia pertama kali mencoba kostum dan berjalan di atas panggung kecil di ruang latihan. Semua gerak-geriknya harus penuh makna, tidak boleh ada yang sia-sia. Dinda mengaku, ada banyak air mata yang tumpah selama proses itu. Bukan karena lelah, melainkan karena ia menyadari betapa besar jiwa perempuan yang diperankannya. Nyai Ontosoroh mengajarinya tentang bangkit dari keterpurukan, tentang mimpi yang diperjuangkan dengan taruhan nyawa, dan tentang cinta yang tidak harus selalu tunduk.

“Saya merasa seperti dilahirkan kembali,” kata Dinda lirih. “Peran ini memaksa saya untuk jujur pada diri sendiri dan pada apa yang saya percayai sebagai perempuan.”

Inspirasi Sederhana di Panggung Besar

Kini, saat monolog dan adegan demi adegan telah ia kuasai, Dinda tidak lagi melihat peran ini sekadar sebagai proyek seni. Ia menyadari bahwa ada pesan yang jauh lebih dalam yang ingin ia sampaikan, terutama kepada perempuan Indonesia hari ini. Bahwa di balik setiap perjuangan, ada kekuatan yang tidak selalu tampak di permukaan. Bahwa kesederhanaan seorang perempuan bisa menjadi sumber inspirasi yang dahsyat.

Pertemuan dengan Happy Salma, yang awalnya membuatnya kaget, kini ia maknai sebagai titik balik. Dinda tidak lagi sekadar pemeran sinetron yang menghibur jutaan pasang mata di layar kaca. Ia telah berkembang menjadi pencerita yang berani menyelami luka sejarah, dan mengangkat martabat perempuan lewat seni peran. Perjalanan ini, meski masih panjang, telah memberinya keyakinan bahwa mimpi yang dulu tak terbayangkan pun bisa menjadi nyata, selama hati terbuka dan semangat tak pernah padam.

Di akhir perbincangan, Dinda tersenyum tipis. “Saya beruntung pernah merasakan kaget itu,” katanya. “Karena dari situlah saya belajar bahwa panggilan hidup sering datang dari arah yang paling tak kita duga.” Senja mulai turun di luar gedung, namun sorot matanya tetap terang, seolah membawa secercah semangat baru untuk terus berkarya dan menginspirasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User