Aug 25, 2026
Hukum

Ketidakpastian Mendominasi Olahraga dan Wisata, Glasgow dan Resor Salju Andalkan Rencana Cadangan

Tiga tahun setelah pemerintah Victoria membatalkan statusnya sebagai tuan rumah, Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) akhirnya dibuka dengan m

Ketidakpastian Mendominasi Olahraga dan Wisata, Glasgow dan Resor Salju Andalkan Rencana Cadangan

Tiga tahun setelah pemerintah Victoria membatalkan statusnya sebagai tuan rumah, Pesta Olahraga Persemakmuran (Commonwealth Games) akhirnya dibuka dengan meriah di Glasgow, Skotlandia. Upacara pembukaan yang penuh kejutan menampilkan flaming teacakes—kue teh berlapis api—serta patung unicorn berkilau yang mencerminkan identitas Skotlandia sekaligus semangat perhelatan akbar itu. Namun di balik gemerlap acara, kisah perjalanan menuju Glasgow adalah potret nyata tentang betapa rentannya perencanaan acara besar di tengah ketidakpastian politik, ekonomi, dan iklim.

Ketika Victoria menyatakan mundur pada Juli 2023, alasan utamanya adalah lonjakan biaya yang tidak terkendali. Proyeksi anggaran awal sebesar AUD 2,6 miliar tiba-tiba membengkak hingga hampir AUD 7 miliar—angka yang dinilai tidak masuk akal oleh pemerintah negara bagian. Mundurnya Victoria menimbulkan pertanyaan besar: apakah Commonwealth Games bisa tetap berlangsung, atau bakal bernasib sama seperti beberapa ajang global lain yang gagal menemukan tuan rumah? Jawabannya datang dari Glasgow, kota yang pernah menggelar edisi sukses pada 2014. Kesediaan Glasgow menjadi tuan rumah pengganti adalah rencana cadangan yang menyelamatkan muka gerakan olahraga persemakmuran, meski harus dilakukan dengan skala yang lebih ramping dan anggaran yang lebih ketat.

Seni Rencana Cadangan di Era Ketidakpastian

Sementara Skotlandia merayakan pembukaan Games dengan optimisme baru, ribuan kilometer jauhnya di Australia, dunia pariwisata musim dingin sedang bergulat dengan ketidakpastian serupa: musim salju yang semakin sulit diprediksi. Resor-resor salju di Alpen Australia—seperti Thredbo, Perisher, dan Falls Creek—kini semakin bergantung pada apa yang disebut sebagai snowmaking atau pembuatan salju buatan sebagai “rencana cadangan” kala alam enggan bersahabat.

Musim dingin Australia tahun ini kembali memperlihatkan pola fluktuatif. Curah salju alami di pegunungan New South Wales dan Victoria turun drastis dalam dua dekade terakhir. Menurut data dari biro meteorologi, tebal lapisan salju alami di puncak-puncak resor utama telah menyusut sekitar 30% sejak tahun 2000. Akibatnya, mesin-mesin pembuat salju yang beroperasi sepanjang malam menjadi pemandangan wajib di hampir semua resor kelas menengah ke atas.

“Kami tidak bisa lagi mengandalkan salju alami seperti yang kami lakukan 20 atau 30 tahun lalu. Tanpa snowmaking, musim kami mungkin hanya berjalan setengah dari durasi normalnya,” ujar seorang pengelola senior di salah satu resor terkemuka di Thredbo yang enggan disebut namanya.
Perbandingan Ketergantungan Salju Buatan di Resor Australia
ResorSalju Buatan (% dari total area ski)Jumlah Mesin Salju
Perisher85%297
Thredbo80%150+
Falls Creek78%130
Mt Hotham65%90

Angka-angka di atas menunjukkan bagaimana teknologi telah menjadi penopang utama industri pariwisata salju di Australia. Tanpa investasi puluhan juta dolar pada infrastruktur snowmaking, lereng-lereng ski bisa menjadi tanah kosong berumput pada puncak musim. “Ini seperti asuransi iklim,” ujar Dr. Rebecca Turner, peneliti pariwisata berkelanjutan dari University of Tasmania. “Resor salju Australia pada dasarnya telah mengadopsi model bisnis yang menyandarkan keberlangsungan pada rencana cadangan permanen. Ini bukan lagi opsional, melainkan kebutuhan eksistensial.”

Pelajaran Adaptasi dari Dua Dunia Berbeda

Baik penyelamatan Commonwealth Games oleh Glasgow maupun ketergantungan resor salju pada salju buatan sama-sama menunjukkan satu pelajaran: dalam dunia yang semakin bergejolak, kemampuan untuk memiliki dan mengeksekusi rencana cadangan adalah kunci ketangguhan. Glasgow membuktikan bahwa solidaritas dan pengalaman masa lalu bisa menjadi jaring pengaman ketika tuan rumah awal ambruk diterpa persoalan fiskal. Sementara itu, resor salju Australia membuktikan bahwa investasi berkelanjutan pada teknologi adaptasi bisa mempertahankan industri bernilai miliaran dolar meski alam tidak lagi bekerja sesuai harapan.

Namun, kedua cerita ini juga memunculkan pertanyaan kritis: sampai kapan rencana cadangan akan cukup? Glasgow mengambil alih Games dengan biaya terbatas, tetapi jika semakin banyak tuan rumah potensial yang mundur, apakah model “pengganti” bisa terus diandalkan? Demikian pula, mesin salju buatan membutuhkan pasokan air dan energi yang besar; di tengah ancaman krisis air dan target emisi karbon, bisakah teknologi ini bertahan dalam jangka panjang tanpa menciptakan masalah baru?

Untuk saat ini, penonton Commonwealth Games bisa menikmati suguhan flaming teacakes dan atlet bisa bertanding di lintasan Glasgow tanpa peduli drama tiga tahun lalu—persis seperti para pemain ski di Perisher yang menuruni lereng berselimut salju buatan, tanpa terlalu memikirkan bahwa salju itu sebenarnya adalah produk rencana cadangan. Keduanya mengajarkan bahwa dunia modern mungkin akan semakin diwarnai oleh “rencana B” yang menjadi andalan utama.

[SOCIAL_TWEET]: Dari Glasgow hingga Perisher, rencana cadangan jadi kunci. Commonwealth Games diselamatkan Glasgow, resor salju Australia bertahan dengan salju buatan. Ketidakpastian iklim & politik paksa semua beradaptasi. #CommonwealthGames #AustralianAlps[SOCIAL_TG]: 🔥 Dari flaming teacakes di Glasgow hingga salju buatan di Perisher—dua dunia, satu tema: rencana cadangan. Commonwealth Games selamat karena Glasgow siap jadi pengganti, resor ski Australia bertahan karena mesin salju. Era "Plan B" sudah tiba.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User