Oct 13, 2026
entertainment

Kisah FKS Group Bawa Produk Lokal ke Panggung Dunia

Di sebuah sudut arena pameran yang luas, aroma rempah dan gula semut bercampur dengan wangi kopi robusta yang baru diseduh. Beberapa pengunjung asing berdiri mematung di depan stan berwarna hangat itu...

Kisah FKS Group Bawa Produk Lokal ke Panggung Dunia

Di sebuah sudut arena pameran yang luas, aroma rempah dan gula semut bercampur dengan wangi kopi robusta yang baru diseduh. Beberapa pengunjung asing berdiri mematung di depan stan berwarna hangat itu, mata mereka menyapu deretan kemasan produk yang tertata rapi. Seorang wanita paruh baya yang berdiri di balik meja tersenyum, lalu dengan tangan gemetar ia menyodorkan satu cangkir kecil. “Coba dulu, ini dari petani di desa kami,” ujarnya lirih, hampir seperti berbisik. Momen sederhana itulah yang kemudian menjadi pemandangan paling mengharukan di ajang SIAL Interfood 2024.

Pameran yang digelar di Jakarta pada pertengahan November lalu itu memang bukan panggung biasa. Ribuan pelaku industri makanan dari berbagai negara datang untuk menjajaki peluang dagang. Namun di antara gemerlap booth besar dan lampu sorot, FKS Group memilih berdiri dengan cara yang berbeda: membawa cerita manusia, bukan sekadar produk.

Berjuang dari Dapur Kecil ke Meja Dunia

Di balik layar stan FKS Group, tersimpan perjalanan panjang yang tidak pernah terungkap ke publik. Bertahun-tahun mereka mendampingi puluhan kelompok tani dan usaha mikro di berbagai daerah, mulai dari sentra gula kelapa di Jawa Tengah hingga perkebunan kopi di dataran tinggi Sumatera. Mereka datang bukan hanya untuk membeli hasil panen, tetapi tinggal beberapa minggu, belajar bersama, dan membantu memperbaiki cara pengemasan.

“Kami tidak pernah berpikir bisa sampai ke sini,” kisah seorang perwakilan petani yang ikut hadir, suaranya serak menahan haru. “Dulu kami hanya menjual di pasar desa. Sekarang ada orang dari negara lain yang bilang produk kami bagus.” Kalimat itu keluar tanpa diduga, membuat beberapa orang di sekitarnya ikut mengusap mata.

Pendekatan itulah yang membuat FKS Group berbeda. Alih-alih menampilkan jargon bisnis yang kaku, mereka membawa foto-foto petani, catatan perjalanan, dan cerita tentang gagal panen yang pernah membuat banyak orang putus asa. Di salah satu sudut stan, terpasang papan kecil bertuliskan nama-nama desa asal produk. Pengunjung bisa menelusuri siapa yang menanam, siapa yang mengolah, dan bagaimana produk itu berpindah tangan hingga sampai ke meja pameran.

Air Mata di Balik Kesepakatan Bisnis

Momen paling mengharukan terjadi pada hari kedua pameran. Seorang pembeli dari Timur Tengah mendekati stan dan mulai bertanya tentang gula semut organik. Setelah mencoba, ia mengangguk-angguk dan menyatakan ketertarikan untuk memesan dalam jumlah besar. Bagi tim FKS Group, tawaran itu bukan sekadar angka. Ada nama-nama petani yang selama ini berjuang dengan harga jual rendah, yang tiba-tiba terbayang di pelupuk mata.

“Kami langsung menelepon kelompok tani malam itu juga,” tutur salah satu anggota tim, matanya berkaca-kaca. “Suara mereka di telepon… saya tidak bisa lupa. Ada yang menangis, ada yang langsung sujud syukur.”

Kisah itu menyebar cepat di antara pengunjung. Banyak yang datang bukan karena tertarik pada produk, tetapi karena ingin mendengar ceritanya. Stan FKS Group mendadak penuh, bukan oleh pembeli, melainkan oleh orang-orang yang ingin tahu bagaimana produk lokal bisa menembus pasar internasional tanpa kehilangan jiwa manusianya.

Mimpi yang Tak Berhenti di Satu Pameran

Pencapaian di SIAL Interfood 2024 tentu bukan akhir dari perjalanan. Bagi FKS Group, ini hanyalah satu bab dari cerita panjang yang masih akan ditulis. Mereka berencana memperluas pendampingan ke lebih banyak daerah, membangun kemasan yang lebih baik, dan yang terpenting, memastikan petani tetap menjadi bagian utama dari setiap kesuksesan.

“Kami ingin produk Indonesia bukan cuma dikenal karena murah, tapi karena ada cerita dan cinta di dalamnya,” ujar seorang perwakilan perusahaan dengan suara mantap.

Menjelang penutupan pameran, suasana stan kembali sunyi. Seorang pengunjung terakhir menghampiri meja, memesan satu kotak kecil kopi, lalu bertanya, “Siapa yang membuat ini?” Jawabannya sederhana: seorang petani di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Dan di situlah letak keajaiban yang jarang terlihat di panggung bisnis mana pun—bahwa di balik setiap produk lokal yang mendunia, selalu ada tangan-tangan sederhana yang bermimpi, berjuang, dan akhirnya bangkit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User