Aug 25, 2026
entertainment

Kegigihan Winter aespa: Tiga Penolakan sebelum Cahaya Panggung

Ruangan audisi itu tak lebih dari sebuah kotak kaca tanpa privasi. Seorang gadis belia berdiri di sudutnya, jemarinya meremas ujung kaus yang mulai lusuh. Di balik pintu, ia mendengar suara langkah st...

Kegigihan Winter aespa: Tiga Penolakan sebelum Cahaya Panggung

Ruangan audisi itu tak lebih dari sebuah kotak kaca tanpa privasi. Seorang gadis belia berdiri di sudutnya, jemarinya meremas ujung kaus yang mulai lusuh. Di balik pintu, ia mendengar suara langkah staf yang hilir-mudik, menambah debaran di dada. Hari itu adalah penolakan pertamanya. Namun, ia tak menyangka akan menghadapinya sampai dua kali lagi.

Bukan Sekadar Mimpi Kecil

Sejak kelas lima sekolah dasar, Winter—nama panggung yang kelak dikenalnya—sudah memupuk impian menjadi penyanyi. Di kampung halamannya di Yangsan, Korea Selatan, ia menghabiskan waktu di sanggar tari tradisional. Setiap gerakan tari kipas, setiap lenggok langkah, ia lakoni dengan ketekunan yang ganjil untuk anak seusianya. Teman-temannya mungkin bercita-cita menjadi guru atau dokter, namun Winter hanya punya satu bayangan: berdiri di atas panggung besar. Maka, saat kabar audisi terbuka SM Entertainment datang, hatinya melompat. Tapi apa yang terjadi setelahnya justru serangkaian penolakan yang menguji batas keyakinannya.

Di Balik Tiga “Tidak” yang Menghancurkan

Musim audisi pertama membawa harapan yang mekar seperti bunga sakura di awal semi. Winter maju dengan sederhana: menyanyi dan menari sepenuh hati. Namun, hasilnya nihil. Staf audisi memberikan senyum tipis, tanpa kata penjelasan. Kembali ke rumah, ia menangis dalam pelukan sang ibu. “Aku merasa seluruh dunia runtuh saat itu,” kenangnya dalam satu kesempatan, suaranya bergetar menahan emosi. “Tapi ibuku bilang, air mata tidak boleh menghentikan langkah.”

Penolakan kedua datang setahun kemudian. Kali ini ia lebih siap, membawa lagu dengan teknik vokal yang telah diasah mati-matian. Sayangnya, jawabannya sama: “Maaf, kamu belum berhasil.” Bagi banyak orang, dua kegagalan sudah cukup untuk menyerah. Namun Winter justru memilih jalur yang lebih berat. Ia mendaftar di sekolah formal, fokus belajar, dan sesekali mengikuti festival kecil di kota. Rupanya, ia tak pernah benar-benar melepaskan benang merah impian itu. Hingga penolakan ketiga tiba, kali ini terselip pesan yang berbeda: “Kamu punya potensi, tapi masih perlu diasah.”

Tangis dan Doa di Ruang Latihan Sederhana

Di sinilah perjalanan batinnya menemukan titik balik. Winter mulai berlatih di studio kecil—sebuah ruangan berukuran 3x4 meter dengan cermin buram dan lantai vinil yang sudah mengelupas. Di sanalah ia jarang pulang sebelum tengah malam. Setiap gerakan tari diulang puluhan kali, setiap not lagu direkam dan didengarkan berulang untuk menemukan celah kesalahan. “Kadang aku menangis di depan cermin karena lelah. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku: kalau kamu jatuh, pastikan jatuh ke depan,” tuturnya dalam wawancara eksklusif.

Semangat itu pula yang mendorongnya mengikuti audisi untuk keempat kalinya. Kali ini ia tak lagi membawa ambisi semu. Ia datang dengan rasa percaya diri yang terbentuk dari luka dan pelajaran sebelumnya. Proses audisi berlangsung lebih intens, berhari-hari, dengan berbagai ujian tambahan. Dan akhirnya, telepon itu berdering: “Selamat, kamu diterima sebagai trainee SM.” Momen itu, ia mengaku, lebih banyak diisi air mata daripada tawa. “Saya hanya bisa menangis di lantai kamar. Rasanya seperti terbangun dari mimpi buruk yang panjang,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Dari Yangsan ke Panggung Dunia

Kini, sebagai salah satu vokalis utama aespa—grup yang mendobrak batasan dunia virtual dan nyata—Winter menjelma menjadi ikon ketangguhan. Di balik visual segar dan suara jernihnya, tersimpan kisah tentang penolakan yang bukan untuk menghancurkan, melainkan menempa. Perjalanan dari Yangsan ke panggung Coachella tidaklah lurus. Ada belokan, ada jurang, dan ada tiga pintu tertutup yang justru membuatnya memahami arti sebenarnya dari mimpi.

Kisah Winter adalah pengingat bahwa bakat besar kadang butuh waktu untuk ditemukan—termasuk oleh diri sendiri. Seperti yang ia bisikkan di tengah konser, “Aku dulu hanya gadis kecil yang suka menari di depan TV. Siapa sangka sekarang bisa berdiri di sini?” Sebuah pernyataan sederhana yang menyimpan lautan perjuangan, air mata, dan tiga penolakan yang akhirnya berbuah kemenangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User